Happy Wedding, Dear Brother…

Hari and Rizky

Hari and Rizky

March 14th, 2015

Dear my awesome brother,
We both grew older together in that small but sweet home. The home that is built by love & affection from our mom & dad. The home that is filled by purity & happiness. There’s no woman in your life but me & our mom. But now, another chapter of your life begins. It means that it’s time for me to let you go with that kind & beautiful girl. Happy wedding, dear brother. Your life & mine will never be the same again. Thank you for being mine for those 22 years & 5 days. I’m wishing you a great life ahead. I love you, as always. ♡

-Your amazing little sister-

Advertisements

#20FactsAboutMe Challenge

Just taken Mas Faisal’s #20FactsAboutMe Challenge on Facebook. Here we go! I…

  1. adore France,
  2. am addicted to banana, chocolate and ice cream,
  3. am addicted to books written by Tere Liye,
  4. am addicted to Boys Like Girls, Paramore, Simple Plan, Taylor Swift, and Westlife,
  5. am moody, sensitive, and talkative,
  6. am Pluviophile,
  7. don’t like being a teacher,
  8. don’t like watching movies but cartoon,
  9. feel uncomfortable with the fur of an animal,
  10. give up in Mathematics, Physics, and Chemistry,
  11. hate the chronology of an accident, the siren of ambulance and police’s car, the smell of hospital, and blood,
  12. hate watching the news programs,
  13. have unique date of birth (9-3-93),
  14. like blue and green,
  15. like doing anything in last minute,
  16. like fish and roses,
  17. love both sunrise and sunset,
  18. love eating but I can’t be fat, sleeping and traveling,
  19. love sneakers instead of flat shoes,
  20. speak both English and French (a lil).

Ibuk….

22 Desember 2013

Ibuk….

3 bulan lagi usiamu menginjak angka 54.

Kaucurahkan seluruh cintamu agar aku menjadi anak yang kuat.

Kaukerahkan seluruh tenagamu agar aku dapat bertahan di tengah kerasnya kehidupan.

Kauberikan semua yang kaumiliki untuk dapat membahagiakanku.

Ibuk….

3 bulan lagi usiaku menginjak angka 21.

Namun nyatanya, aku belum juga menjadi anak yang kuat.

Namun nyatanya, aku belum juga dapat bertahan di tengah kerasnya kehidupan.

Namun nyatanya, aku belum juga dapat membahagiakanmu.

Ibuk….

Bukankah seharusnya aku sudah tumbuh menjadi anak yang kuat?

Bukankah seharusnya aku dapat bertahan di tengah kerasnya kehidupan?

Bukankah seharusnya aku dapat membahagiakanmu?

Ibuk….

Apa yang telah kuberikan padamu selama 20 tahun ini?

Kecewa?

Luka?

Air mata?

Ibuk….

Putri kecilmu sedang beranjak dewasa sekarang.

Namun, maafkan ia yang terkadang lupa….

Lupa bahwa ibunya juga terus menua.

Lupa bahwa rambut ibunya kini mulai memutih.

Lupa bahwa kening ibunya mulai keriput.

Lupa bahwa langkah kaki ibunya tak lagi kokoh.

Ibuk….

Meski aku tak pernah mengatakannya….

Engkau harus tahu bahwa aku mencintaimu.

Engkau harus tahu bahwa aku tengah berusaha membahagiakanmu.

Engkau harus tahu….

Selamat Hari Ibu, Ibukku tercinta….

Kutitipkan doaku melalui hujan yang turun malam ini.

Mereka bilang doa yang dipanjatkan ketika hujan turun akan terkabul.

Semoga dosa-dosaku dan dosa-dosamu diampuni Allah SWT.

Sehingga doa yang kupanjatkan akan dengan mudah dikabulkan oleh-Nya.

Amin….

Ibuk….

20 tahun menjadi anakmu, aku hanya menyesali satu hal.

Menyesal mengapa aku sering mengabaikan nasihatmu….

Teman yang Paling Dekat

15 November 2013

Siapakah teman yang paling dekat dengan kita? Ibu? Ayah? Kakak? Adik? Suami? Istri? Anak? Keluarga? Kerabat? Teman? Sahabat? Tidak semuanya. Teman yang paling dekat dengan kita adalah kematian.

Detik demi detik berlalu, sadarkah kita bahwa waktu yang kita miliki di dunia ini semakin sedikit? Menit demi menit berlalu, berapa kali kita diingatkan tentang kematian? Jam demi jam berlalu, lupakah kita bahwa kematian adalah hal yang pasti?

Everyone comes, everyone goes. Setiap hari kita berjumpa dengan orang-orang baru. Orang-orang yang secara tidak langsung membantu “memperbarui” diri kita. Orang-orang yang meskipun tidak selalu berada di kehidupan kita, tetapi akan tetap tinggal di hati kita dengan pelajaran-pelajaran yang mereka berikan.

Sekali lagi, aku kembali diingatkan betapa dekatnya aku dengan kematian. Sekali lagi, aku kembali diingatkan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Sekali lagi, aku kembali diingatkan tentang pertanyaan, “Apa yang sudah aku lakukan dalam hidupku? Sudahkah aku berguna untuk orang lain?” Sekali lagi, aku kembali diingatkan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, “Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan (kematian).”

Hari ini, SMPN 1 Kretek berduka. Sekolah ini kehilangan salah satu guru terbaiknya. Pak Sagiya (baca: Sagiyo), demikian aku, anak-anak, dan semua orang memanggil beliau. Beliau dipanggil menghadap Allah SWT. ba’da Shubuh tadi karena mengalami kecelakaan tunggal kemarin sore (Kamis, 14/11).

Aku tak cukup lama mengenal beliau. Aku “hanya” diberi kesempatan mengenal beliau selama 1,5 bulan masa PPL. Meski begitu, aku bersyukur beliau pernah hadir dalam kehidupanku. Selama 1,5 bulan itu, yang kuingat dari beliau hanya: senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, mata yang terus berbinar-binar, dan tutur kata yang halus. Pak Sagiya mungkin tidak bisa selalu hadir dalam kehidupanku, tapi pelajaran-pelajaran yang secara tidak langsung beliau berikan padaku lewat setiap tindakannya akan selalu tinggal di hatiku. Selamat jalan, Pak Sagiya. Semoga Allah SWT. menerima amal ibadah dan kebaikan yang beliau lakukan sepanjang hidupnya, mengampuni dosa-dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan serta kesabaran. Everyone loves you, but Allah loves you more. 🙂

IMG_0179

Pak Sagiya saat mengajar Bahasa Inggris di salah satu kelas.

IMG_0187

Senyum tak pernah lepas dari bibirnya.

IMG_0189

Senyum beliau pun menular ke anak didiknya.

Jodoh untuk si Bungsu yang Manja

28 Oktober 2013

Mahasiswi kepala dua, tingkat akhir pula. Hmmm… Tiap kali bertandang ke rumah salah satu keluarga besar untuk bersilaturahim, pertanyaan yang sering muncul adalah, “Sudah semester berapa?”, “Kapan lulus?”, “Sudah punya pacar belum?”, dan sebagainya, dan sebagainya. Aku? *nyengir kuda*

Dan inilah jawaban-jawabanku:

“Sudah semester berapa?” –> “Semester 7.”

“Kapan lulus?” –> “Secepatnya, doakan saja, ya.”

“Sudah punya pacar belum?” –> “Belum.”

Dan, pertanyaan ini pun beranak-pinak.

Kok tidak mencari?” –> “Kalau niatnya mencari pacar, ya, tidak dapat suami.”

“Kapan menikah?” –> “Doakan saja ya.”

“Setelah lulus mau menikah dulu atau kerja dulu?” –> “Nggg…

Alamak! Memikirkan Proposal Chapter I sampai III saja sudah membuatku kalang kabut, apalagi memikirkan “urusan orang dewasa” yang satu ini. Sekali, dua kali, boleh lah seseorang mengajukan pertanyaan seperti itu, tetapi ketika pertanyaan yang sama diajukan berkali-kali, mau tidak mau “urusan orang dewasa” ini akan hinggap di kepalaku.

Semakin bertambah usiaku, semakin banyak orang-orang baru yang kutemui setiap harinya, dengan cerita yang berbeda, yang juga semakin menambah wawasanku tentang hidup, termasuk urusan jodoh. Agak malas sebenarnya membahas urusan ini, karena beberapa orang yang mengenalku berkata pola pikirku belum benar-benar matang lantaran aku belum dewasa dan masih childish. 😀

Jadi, seperti ini…

Jodoh, seperti yang sering dikatakan orang-orang, adalah urusan Allah SWT. Well, sebagai umat Islam, kita tentu mempercayainya. Tidak hanya jodoh saja yang merupakan urusan-Nya, tetapi rezeki, maut, dan segala sesuatu yang terjadi di kehidupan kita. Hei, tidak ada yang kebetulan di muka bumi ini. Semuanya sudah diatur oleh-Nya, termasuk jodoh. Sama halnya seperti manusia lainnya, aku pun memiliki keinginan atau kriteria khusus mengenai “urusan orang dewasa” ini. Boleh lah, ya, sesekali anak kecil ikut campur urusan orang dewasa. 😀

Aku anak bungsu yang manja. Aku hanya memiliki seorang kakak laki-laki. Mengenai jodoh, begini. Sebagai anak bungsu, aku ingin selalu berdekatan dengan Ibuk dan Bapak. Dekat saja aku sering merindukan keduanya, apalagi jauh. Yang bukan anak bungsu boleh menyanggah. Yang bukan anak bungsu yang manja boleh membantah. :p Terkesan agak berlebihan memang, tapi inilah aku, anak bungsu yang manja.

Jodoh untuk si bungsu yang manja? Anak sulung, atau anak kedua, ketiga, dan seterusnya, selama dia bukan anak bungsu, apalagi anak tunggal. Namanya juga manusia, wajar jika memiliki keinginan yang tak terhingga. Seperti keinginanku yang satu ini. Mengapa perlu menghindari anak bungsu atau bahkan anak tunggal? Kelak, ketika Ibuk dan Bapak sudah pensiun dari “tugas negara” di Jepara, Jawa Tengah, dan kembali ke rumah kami tercinta di Wringin Lor, Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta, aku ingin menemani keduanya. Aku ingin menghabiskan waktuku bersama keduanya. 🙂 Namun, sebelum keduanya memintaku untuk pulang, aku ingin bekerja di luar Jogja terlebih dulu. Belakangan aku agak bosan dengan kota yang istimewa ini. 😦 I have to grow. No grow in comfort zone and no comfort in growth zone.

Selain alasan itu, biasanya anak bungsu dan anak tunggal memang diminta oleh kedua orang tuanya untuk tinggal di rumah menemani mereka. Biasanya pula, anak sulung dan anak kedua, ketiga, dan seterusnya—selama bukan bungsu—memang “diusir” dari rumah. Hahaha. 😀 Nanti kalau anak bungsu dengan anak bungsu, atau anak bungsu dengan anak tunggal, dikhawatirkan terjadi perebutan anak-anak untuk menemani orang tua masing-masing. Lebay! Hahaha. 😀

Jodoh untuk si bungsu yang manja? Orang asli Jogja saja, maunya, kalau bisa Sleman juga no problem. Mengapa? Kalau kelak aku bekerja di luar kota, ketika Idul Fitri tiba, kami bisa mudik bersama-sama. Maksudku, kalau sama-sama orang Jogja, agak lebih mudah mengatur waktu dan keuangan (haha :p) untuk merayakan hari kemenangan bersama keluarga tercinta.

Jodoh untuk si bungsu yang manja? Laki-laki yang mencintai Allah, mencintai Rasul-Nya, mencintai si bungsu yang manja karena Allah, dan mencintai keluarga si bungsu yang manja. 🙂

Well, they are only my wishes. If they come true, Alhamdulillah. If they do not come true, I do believe that Allah always has the best plans for me, InsyaAllah. 🙂

Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca apa yang ada dalam pikiran childish si bungsu yang manja tentang “urusan orang dewasa” ini. Si bungsu yang manja sedang bersemangat untuk memperbaiki diri agar pangeran berkuda biru bisa menjemputnya. Hahaha. 😀

Bahasa Inggris = Bahasa Orang Kafir?

24 Agustus 2013

“Jika seseorang ingin bahagia, seharusnya ia belajar bahasa Arab,” kata seorang teman.

Dahiku berkerut, dalam hati bertanya-tanya. Apa hubungannya?

“Iya, seseorang harus belajar bahasa Arab jika ia ingin bahagia. Mengapa? Karena seluk-beluk masalah kehidupan ada di sini,” lanjutnya sambil menunjukkan Al-Qur’an di tangan kanannya.

Aku masih diam saja, membiarkannya melanjutkan perkataannya.

“Kita tidak perlu belajar bahasa Inggris. Kita hanya terpengaruh orang-orang Barat.”

Hei!, jeritku dalam hati. Sadar tidak orang yang kauajak bicara ini mahasiswi jurusan apa?

* * *

Bahkan ketika Kretek sudah tertinggal jauh di belakang, beberapa kalimat itu entah mengapa enggan enyah dari kepala.

Hmmm… Lebih baik dilawan dengan tulisan. Lebih “berkelas”, tekadku malam ini.

* * *

Well, aku mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris, jadi harap maklum jika saja aku tak terlalu menyukai kalimat dari seorang teman seperti yang tertulis di awal cerita ini. Aku menghargai pendapatnya, dan alangkah lebih baik jika ia juga mau membaca tulisan sederhana ini. So, here we go

Sebagai umat Islam, aku paham bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi Muslim dan Muslimah. Rasulullah SAW bersabda, “Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.”

Allah juga telah berfirman dalam Q.S. al-Mujadalah (58) ayat 11, “… niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. …”

Ilmu yang dimaksud tentu bukan ilmu sihir, ilmu hitam, dan ilmu-ilmu yang menyesatkan lainnya. Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu dunia dan ilmu akhirat.

Sepanjang pengetahuanku, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan saudara-saudaranya termasuk dalam kategori ilmu dunia. Sedangkan yang termasuk dalam kategori ilmu akhirat adalah Fiqih, Nahwu, Tafsir, dan lain sebagainya. Sekali lagi, ini menurut pengetahuanku. Jika ada kesalahan, boleh dikoreksi. 🙂

Aku belajar bahasa Inggris tentu bukan tanpa alasan. Sejak aku duduk di kelas 4 SD, aku sudah tertarik dengan pelajaran yang satu ini. Nilai-nilai bahasa Inggris yang kudapatkan dari SD sampai SMA boleh dibilang cukup memuaskan. Bahkan ketika SMA aku dengan sadar memilih jurusan Bahasa karena aku ingin melanjutkan kuliah di jurusan bahasa Inggris. Alhamdulillah, aku akan memasuki semester 7, tinggal menghitung hari saja. Aku hampir menyelesaikan studiku ketika seorang teman berkata bahwa seseorang tidak perlu belajar bahasa Inggris karena pengaruh orang-orang Barat. Bagaimana bisa? Masa’ iya selama ini aku salah jika aku belajar bahasa Inggris?

Baiklah, aku paham sekarang. Bahasa Inggris adalah bahasa yang digunakan di negara-negara yang mayoritas penduduknya adalah (maaf) kafir. Mungkin, inilah alasan mengapa seorang teman tersebut tidak menyukai apapun tentang bahasa Inggris. Apapun. Dari lagu-lagu yang kuputar dari HP, dari cara bicaraku yang sesekali menggunakan bahasa Inggris, dan lain-lain. Dan, inilah sudut pandangku.

Sebagai Muslimah, aku paham bahwa umat Islam tidak boleh menyerupai kaum lain. Tetapi, kemudian aku bertanya-tanya. Apakah mempelajari bahasa Inggris bisa dianggap menyerupai kaum lain? Kaum lain yang dimaksud di sini adalah kaum kafir. Kalau iya, lantas apa bedanya dengan mempelajari Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan lain-lain? Bukankah mereka juga mempelajarinya? Lalu, dimana letak “kesalahannya” jika seseorang mempelajari bahasa Inggris, bahasa Prancis, bahasa Korea, bahasa Jepang, dan bahasa yang (katanya) digunakan oleh orang kafir? Hei, jangan lupa! Di negara-negara yang mayoritas penduduknya kafir tersebut, tetap ada saudara-saudara kita. Ada orang Islam di sana, meskipun populasinya tidak sebanyak di Indonesia. Dan, di Arab sekalipun, negara yang menggunakan “bahasa Allah”, tetap saja ada orang kafir tinggal di sana. Jadi, sekali lagi, dimana letak “kesalahannya”?

Kita tidak bisa begitu saja men-judge bahasa Inggris adalah bahasa orang kafir. Di Amerika, Inggris, Australia, dan di negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris, ada saudara kita, saudara sesama Muslim. Jika umat Islam di sana bersikeras menggunakan bahasa Arab, bagaimana mereka bisa bertahan hidup di sana? Bahasa juga merupakan salah satu “alat” untuk bisa bertahan hidup selain uang. Pernyataan ini aku dapatkan ketika mengikuti mata kuliah English for Specific Purposes semester 6 lalu.

Jangan dikira mempelajari ilmu bahasa itu lebih mudah dibandingkan mempelajari ilmu eksak. Sama susahnya. Aku harus memutar lagu berbahasa Inggris hampir setiap hari untuk melatih listening. Aku harus bermuka tebal jika bahasa Inggrisku kacau-balau saat speaking. Aku harus menahan rasa kantuk yang menyerang setiap reading. Dan, aku harus bolak-balik kamus untuk menemukan vocabulary ketika writing. Jangan, jangan pernah sekalipun meremehkan ilmu bahasa.

Awalnya, aku mempelajari bahasa Inggris karena aku menyukainya. Tetapi semakin ke sini, aku semakin sadar bahwa kemampuan berbahasa Inggris yang kumiliki juga harus digunakan untuk kepentingan umat Islam, salah satunya adalah untuk berdakwah. Bayangkan saja, jika aku bertemu bule-bule yang sedang asyik melancong di Malioboro dan mereka bertanya mengapa Muslimah harus memakai jilbab? Jika aku tidak menguasai bahasa mereka, aku tentu tidak bisa menjelaskan bahwa Islam sangat mengistimewakan kaum wanita. Islam sangat menginginkan kaum wanita selamat di dunia dan di akhirat. Di dunia, wanita akan selamat dari (maaf) pelecehan seksual, pemerkosaan, dan tindak kejahatan lainnya. Di akhirat, wanita akan selamat dari panasnya api neraka. Nah! Masa’ iya aku harus menggunakan bahasa isyarat untuk menjelaskan kepada mereka? -___-

Percaya atau tidak, bule-bule yang datang mengunjungi tempat wisata di Indonesia terpikat dengan orang Indonesia yang percaya diri menggunakan bahasa Inggris. Meskipun seorang tukang becak di Malioboro hanya tahu yes, no, go there dengan gerakan tangannya, itu sudah sangat membantu seorang bule yang menanyakan direction. That’s why, wisatawan luar negeri yang datang ke Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya. Dan, tentu saja ini merupakan kabar baik untuk Indonesia yang kaya akan tempat wisata yang amazing! 😀

Well, ilmu dimana-mana sama. Tidak ada yang lebih tinggi, pun tidak ada yang lebih rendah. Ilmu itu sama, sama-sama berharga untuk orang yang mau mempelajarinya. Tidak ada jalan yang mudah untuk mendapatkan ilmu. Semudah apapun ilmu yang dipelajari seseorang, ia tetap harus berjuang—melawan rasa malas yang menggelayuti, contohnya. Jadi, jangan meremehkan ilmu yang sedang dipelajari seseorang, boleh jadi esok lusa kita malah membutuhkan bantuannya. Apalagi sampai mengaitkan ilmu itu dengan kaum tertentu. Last but not least, Allah berfirman dalam Q.S. Al Hujurat (49) ayat 13, “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”

Une Petite Lettre pour Meilleurs Amis…

[Video by Faisal Abidin]

Aku tidak akan pernah mengenalmu jika saja kita tidak “terdampar” di kampus kita tercinta ini. Biar sajalah orang-orang meragukan bahkan mencibir kampus kita. Toh, aku tetap akan bersyukur. Bagiku, ini adalah salah satu nikmat Allah yang diberikan kepadaku, kepada kita. Bayangkan saja jika masing-masing dari kita tidak berada di mana kita seharusnya berada sekarang. Aku tidak yakin kita akan memiliki ikatan persahabatan yang menakjubkan seperti ini. Ya, menakjubkan. Bagiku, persahabatan kita terlalu menakjubkan dan aku selalu merasa beruntung karena memilikimu.

Persahabatan, bagaimanapun, bukan tentang berapa lama waktu yang telah kita habiskan bersama. Aku tidak suka menggunakan ukuran waktu untuk menggambarkan betapa sejatinya persahabatan kita. Ayolah, kurang-lebih baru 3 tahun ini, kan, kita bersama-sama? Kita akan kalah total jika ukuran persahabatan kita hanya diukur dengan waktu. Di luar sana, ada begitu banyak orang yang memiliki persahabatan yang telah dijalin selama lima tahun, enam tahun, tujuh tahun, dan seterusnya. Kita? Baru 3 tahun! Lalu, bagaimana kita harus mengukur sejatinya persahabatan kita? Tidak ada. Tidak ada? Ya, tidak ada. Tidak ada alat ukur apapun yang bisa mengukur persahabatan kita.

Aku, tahunya, kita selalu bersama meski kita dihadapkan pada kesibukan masing-masing. Aku, tahunya, kau selalu bersedia untuk meluangkan waktu sejenak hanya sekadar untuk hang out bersamaku. Aku, tahunya, kau tak pernah mengeluh meski waktu yang kaugunakan untuk bertemu denganku sebenarnya lebih berharga untuk urusan yang lebih penting. Aku, tahunya, kau selalu ada ketika aku membutuhkan. Aku, tahunya, kau tak pernah benar-benar marah padaku. Aku, tahunya, kau selalu datang kepadaku dengan wajah yang menyenangkan. Aku, tahunya, kau selalu mengingatkanku setiap aku berbuat kesalahan. Aku, tahunya, kau benar-benar tahu cara membahagiakanku. Ah, terlalu banyak kebaikan yang telah kau berikan padaku.

Hari ini, ketika aku menulis surat ini, aku kirimkan doa-doaku untuk aku, untuk kau, untuk kita. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Semoga Allah menguatkan iman kita. Semoga Allah memanjangkan umur kita. Semoga Allah menyehatkan jiwa dan raga kita. Semoga Allah mengangkat penyakit di dalam tubuh kita. Semoga Allah menajamkan ingatan kita. Semoga Allah memudahkan kita dalam menyerap ilmu. Semoga Allah melapangkan rezeki kita. Semoga Allah memudahkan urusan kita di dunia dan di akhirat. Aaamiiin.

Apa kabar, sahabatku? Kelak, ketika kau membaca sepucuk surat ini, semoga Allah telah mengabulkan doa-doa kita. Kau tahu? Kau terlalu berharga untukku. Terkesan berlebihan memang, tapi aku tahu kau jauh lebih memahamiku daripada diriku sendiri. Kau pun tahu, inilah caraku untuk mengungkapkan betapa berartinya kau untukku. Dan, aku tahu bagaimana caramu menyayangiku. You treat me so well. Katakan padaku, jika kau sudah membaca surat ini. Merçi beaucoup, mes meilleurs amis. Je t’aime.