Pendidikan untuk Indonesiaku


Akar pendidikan itu pahit, tapi buahnya manis. (Aristoteles)

Berbicara tentang pendidikan di Indonesia tak akan pernah ada habisnya. Ada banyak hal yang harus dikaji ulang dan diperbaiki di sana-sini untuk membuat pendidikan di Indonesia lebih baik lagi dan lagi, terutama kualitas guru dan infrastruktur pendidikan. Kedua komponen dalam pendidikan ini menjadi unsur penting dalam meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) generasi muda di suatu negara. Kelak, generasi muda yang memiliki SDM yang tinggi inilah yang diharapkan dapat mengubah Indonesia menjadi negara maju yang tidak lagi terlilit hutang dan tidak tergantung pada negara-negara lain.

Saat ini, ada ribuan guru di Indonesia yang telah dinyatakan lulus sertifikasi–suatu ujian yang dilakukan untuk mengetahui kualitas dan kemampuan guru dalam mengajar. Untuk guru non Sarjana, sertifikasi diberikan kepada mereka yang berusia 50 tahun ke atas, berada pada golongan IVa dan telah mengabdi selama minimal 20 tahun. Untuk guru yang telah menyandang gelar Sarjana, sertifikasi diberikan setelah masa pengabdian minimal 5 tahun (khusus swasta). Guru yang telah dinyatakan lulus sertifikasi berhak mendapatkan tunjangan di luar gaji pokok mereka. Tentu bukan tanpa alasan mengapa guru bersertifikasi diberi uang tunjangan. Tujuan diberikannya tunjangan ini adalah agar guru yang telah bersertifikasi dapat mencukupi kebutuhannya dan tidak perlu mempunyai “pekerjaan sampingan” yang dapat mengganggu kewajiban utamanya mendidik generasi muda penerus bangsa. Diharapkan dengan adanya sertifikasi ini seorang guru dapat meningkatkan kualitas dirinya dan dapat menjadi seorang guru yang profesional dalam bekerja. Apabila tujuan ini tercapai, tentu akan berimbas pada kualitas murid-murid yang mereka didik. Namun pertanyaannya adalah apakah tujuan yang diharapkan dari adanya sertifikasi ini telah tercapai? Sayangnya, jauh api dari panggang. Fakta mengatakan bahwa tujuan sertifikasi ini BELUM sepenuhnya tercapai. Di sebuah sekolah yang tidak jauh dari perkotaan, penulis melihat ada beberapa guru yang meninggalkan murid-muridnya di dalam kelas dan mengurus “bisnis sampingan” yang justru modalnya berasal dari uang tunjangan yang mereka terima. Murid hanya diminta untuk mengerjakan latihan soal di dalam buku paket atau LKS (Lembar Kerja Siswa) sesuai mata pelajaran yang sedang diajarkan. Pembelajaran yang kurang efektif tentu saja, karena saat ini guru tidak hanya dituntut untuk dapat mentransfer ilmu yang dimilikinya, tetapi juga menanamkan karakter dan memperbaiki akhlak murid-murid. Lalu, bagaimana seorang guru dapat menanamkan karakter dan memperbaiki akhlak murid-muridnya jika ia justru meninggalkan tanggung jawabnya? Inilah pekerjaan rumah yang seharusnya dapat diselesaikan oleh mereka yang terlibat dan ahli dalam dunia pendidikan. Namun dunia pendidikan di Indonesia seolah-olah kebingungan dengan keadaan ini. Di satu sisi, uang tunjangan yang diberikan dapat meningkatkan kesejahteraan seorang guru, namun ternyata di sisi lain uang tersebut digunakan untuk “bisnis sampingan” yang menyita waktunya dan mengabaikan kewajiban utamanya. Selain diberi uang tunjangan, tampaknya seorang guru perlu diberi pengarahan untuk meningkatkan kualitas dalam mengajar dan menjaga profesionalisme dalam bekerja atau istilah kerennya agar guru tidak makan “gaji buta”.

Masalah lain yang dihadapi oleh pendidikan di Indonesia adalah tidak meratanya infrastruktur yang memadai. Masalah ini cukup rumit karena Indonesia merupakan negara yang besar dan memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi. Di daerah perkotaan, kita bisa dengan mudah menemukan sekolah-sekolah yang cenderung mewah dan memiliki fasilitas yang lengkap. Sekolah-sekolah tersebut tentu sebanding dengan biaya yang tinggi dan hanya bisa dinikmati oleh masyarakat kelas menengah ke atas. Sementara itu, jauh dari kehidupan kota yang serba mewah, ada ribuan sekolah di pelosok-pelosok Indonesia yang tidak layak pakai untuk digunakan belajar, memiliki fasilitas yang tidak lengkap atau bahkan tidak ada sama sekali dan ditempati oleh masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Murid-murid yang memiliki semangat tinggi untuk bersekolah di sana tidak didukung oleh infrastruktur yang dimiliki oleh sekolah-sekolah di perkotaan. Mereka pun harus menempuh jarak puluhan kilometer dengan berjalan kaki dan bahkan ada pula yang harus melewati sungai-sungai untuk “sekadar” menjumpai bapak-ibu guru yang tak kenal lelah mengajarkan ilmu baru untuk mereka. Barangkali cerita yang terinspirasi dari kisah nyata di novel tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan novel Sepatu Dahlan karya Khrisna Pabichara adalah contoh nyata yang mengingatkan kita bahwa tidak semua anak di Indonesia bisa menikmati pendidikan yang layak dan memadai. Alangkah baiknya jika Indonesia meniru negara-negara yang sudah maju, yang setelah merdeka langsung membenahi negaranya dengan meletakkan pendidikan dan kesehatan di urutan pertama yang benar-benar harus diperhatikan. Tidak seperti sekarang ini, para wakil rakyat sibuk membahas renovasi toilet di gedung mewah mereka yang diperkirakan menelan dana Rp 1,3 milyar padahal dunia pendidikan kita sedang berduka karena merebaknya kasus tawuran antar pelajar di ibukota dan berbagai kota besar lainnya di Indonesia. Menurut penulis, akan lebih baik jika dana sebesar itu dialokasikan untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Toh, nantinya negara ini juga yang akan merasakan manisnya pendidikan itu sendiri. Indonesia bisa mencetak generasi yang memiliki SDM yang tinggi, mampu bersaing dengan negara-negara lain di kancah internasional dengan segudang prestasi dan syukur-syukur bisa menjadikan Indonesia negara yang maju. Inilah yang sebenarnya diharapkan oleh para pahlawan yang telah berjuang untuk memerdekakan bangsa ini. Harapan yang hanya bisa dicapai dengan kerja keras yang tak pernah kenal lelah dari seluruh komponen negeri ini. Beruntung, ada banyak orang yang sebenarnya peduli terhadap pendidikan di Indonesia dan menyuarakan kepedulian mereka dengan berbagai cara. Salah satu contohnya adalah penulis novel best seller Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna, A. Fuadi. Ia bersama istrinya, Yayi, mendirikan dan mengelola Komunitas Menara. Komunitas Menara kini tengah berusaha mendirikan 1000 PAUD gratis untuk anak-anak yang kurang mampu di seluruh Indonesia. Harapannya, semoga moral anak bangsa yang saat ini telah jauh meninggalkan adat dan budaya Indonesia bisa diselamatkan melalui anak-anak yang bersekolah di sini. Dan semoga sekolah-sekolah yang didirikan oleh orang-orang yang peduli terhadap pendidikan di Indonesia bisa dinikmati oleh semua kalangan tanpa memandang status sosial yang dimilikinya.

2 thoughts on “Pendidikan untuk Indonesiaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s