Kutulis Mimpiku dan Kubiarkan Tuhan Membacanya…

Tak ada yang spesial sore ini. Seperti biasa, aku duduk di depan basecamp EDSA—Organisasi Mahasiswa yang kuikuti di kampus—dengan sebuah novel yang cukup tebal di tangan. Novel ini baru saja kubeli dan aku tak sabar ingin segera membacanya—maklum, novel baruku ini ditulis oleh salah satu penulis Indonesia yang kuidolakan. Hampir semua novel yang ditulisnya telah tersusun rapi di perpustakaan pribadiku. Ditemani semilir angin sore yang menyejukkan, aku mulai membuka halaman demi halaman dan menikmati jalan cerita yang disuguhkan ketika tiba-tiba…
“Baca novel terus! Kapan nulisnya?” tegur seorang sahabat.
“Kapan-kapan!” balasku enteng tanpa mengalihkan kedua mataku dari novel yang sedang asyik kubaca.
Bukan kali pertama ia menegurku seperti itu dan bukan kali pertama pula ia kuabaikan. Namun sore ini tampaknya ada yang benar-benar spesial. Ia pun masuk ke basecamp EDSA dan mencari sahabat-sahabatku yang lain. Mungkin bosan karena berkali-kali kuabaikan dan aku terlalu asyik dengan “duniaku”. Dari luar, aku bisa mendengarkan keluhannya dengan cukup jelas.
“Alin itu “asupan” membacanya sudah cukup, setiap hari yang dibaca novel, novel dan novel. Aku sampai bosan melihatnya. Bukan apa-apa, tapi untuk apa membaca puluhan novel tanpa pernah mencoba menulis satu cerita pendek sekalipun?”
Aku tertegun mendengar kata-katanya. Kututup novel yang sedang kubaca. Benar juga, kataku dalam hati. Selama ini untuk apa aku terus membeli dan membaca novel kemudian menyimpannya dengan rapi di rak-rak buku di kamarku?

***

Di dalam kamar kos berwarna hijau muda yang segar, aku mulai merenungi “kejadian spesial” hari ini. Kali ini aku tak bisa mengelak seperti biasanya. Teguran sore ini benar-benar menusuk hatiku. Aku tak punya alasan mengapa aku tak mencoba menulis. Ya, aku harus mulai menulis. Aku harus bisa menulis. Aku tak ingin “asupan” membacaku selama ini terbuang sia-sia. Tiba-tiba hasrat untuk menulis tumbuh begitu kuat di dalam hatiku. Aku pun menuliskan satu kata yang cukup sederhana dalam deretan panjang daftar impianku, PENULIS. Sengaja betul aku menulisnya dengan huruf kapital dan menggunakan spidol yang tebal. Aku tersenyum melihatnya.
Terima kasih, Tuhan. Engkau beri aku sahabat yang benar-benar peduli padaku. Aku tak ingin mengecewakannya. Aku akan berusaha.
Every big thing always starts from a little thing. Segala sesuatu yang besar selalu berawal dari sesuatu yang kecil. Inilah yang kujadikan prinsip dalam hidupku, termasuk ketika aku berani bermimpi menjadi seorang penulis.

***

Beruntung aku hidup di zaman yang serba modern, zaman yang segala sesuatunya bisa diakses dengan mudah dan murah karena kecanggihan teknologi yang diciptakan. Aku pun tak mau ketinggalan untuk memanfaatkan fasilitas yang ada sebagai wadah untuk menyalurkan hasrat menulisku, blog.
Aku mulai mengaktifkan blog marlindwinastiti.wordpress.com bulan Oktober 2012. Apakah cukup hanya mengaktifkan blog saja? Tentu tidak. Aku “memaksa” teman-temanku untuk mengunjungi blog-ku dan meminta mereka mengomentari tulisan-tulisanku. Sejauh ini, komentar yang kuterima cukup positif. Mereka mengatakan bahwa tulisanku cukup bagus, bahasanya mudah dicerna dan enak dibaca. Bahkan ada seorang teman yang memintaku untuk mengajari menulis. Yang benar saja, aku saja baru belajar. Tentu saja aku merasa senang mendengar komentar-komentar positif itu, tetapi aku belum puas. Aku ingin mengembangkan kemampuanku lagi, lagi dan lagi.
Cara lain yang kutempuh adalah dengan mengikuti berbagai lomba menulis. Melalui akun jejaring sosial seperti twitter dan facebook yang kumiliki, aku mencari lomba menulis yang sesuai dengan kemampuanku. Aku telah mengikuti berbagai lomba menulis maupun lomba blog namun belum pernah menjadi juara dalam satu lomba pun! Sebenarnya ada banyak alasan jika aku ingin menyerah, tapi aku enggan melakukannya. Meminjam pepatah fall seven times, stand up eight times. Gagal 7 kali, bangkit 8 kali. Itulah aku saat ini. Tak mengapa aku belum pernah memenangkan lomba menulis ataupun lomba blog, yang penting aku pernah berusaha. Toh, hasil tulisan dalam berbagai lomba yang aku ikuti itu nantinya bisa kumasukkan dalam blog dan aku akan “memaksa” teman-temanku lagi untuk mengomentarinya dengan sejujur-jujurnya—seburuk apapun itu. Aku hanya perlu menyiapkan hati dan telingaku untuk mendengarkan saran dan kritik untuk memperbaiki tulisan-tulisanku.
Impianku tidak hanya berhenti sampai pada gelar PENULIS. Ada mimpi lain yang juga ingin kukejar. Menelurkan puluhan novel yang best seller dan novel-novelku diangkat ke layar lebar. Duhai senangnya jika impian-impian itu benar-benar menjadi kenyataan. Tentu saja bukan suatu perkara yang mudah untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Sebelum menerbitkan novel, aku harus siap pergi kesana-kemari untuk mencari penerbit yang mau menerbitkan naskahku. Aku juga harus menyiapkan mental jika penerbit-penerbit yang kudatangi menolak naskahku dengan berbagai alasan. Aku memang sudah sering ditolak, termasuk ketika ditolak masuk perguruan tinggi negeri impianku, namun aku tetap manusia biasa yang bisa merasakan kekecewaan dan kesedihan ketika harapan tidak sejalan dengan kenyataan. Aku juga harus bisa menciptakan ide yang out of the box, ide yang sekiranya tidak terpikirkan oleh penulis atau calon penulis lain.
Aku percaya Allah tahu apa yang tengah kuusahakan. Mengapa aku berani bermimpi? Karena aku punya Allah yang siap membaca mimpi-mimpi yang kutulis selama aku terus berusaha, tak pernah menyerah dan menyerahkan segala sesuatu pada-Nya. Jika bukan aku yang mengusahakan mimpi-mimpiku sendiri, siapa yang hendak melakukannya?

6 thoughts on “Kutulis Mimpiku dan Kubiarkan Tuhan Membacanya…

  1. amiinn,,,, makanya nulis!!! jgn baca novel mulu.

    cita-cita itu akan terwujud jika kita mulai berusaha. katanya mau jadi novelis. tapi mana tulisannya?

    so,, keep trying saengi!!! hwaiting!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s