A Letter for My Thunder

Hey, how’s your life here? Here? Yeah, here. You’re here with me, but I can’t feel you’re here.

Okay, stop it! Everything’s good, right? I hope so….

Well, I don’t know whether you still “remember” me or not. It’s almost a year since I couldn’t “recognize” you as my thunder. And unfortunately, I can’t take this anymore! I’m so sorry, but I have to say this! There’s only a question that I want to ask you since you couldn’t come in my day.

“Am I still your best friend?”

I know that it’s a stupid question. And I’m pretty sure you’re getting confused about it. Be calm, I don’t need to know your answer. Why? Because you always answer my questions by doing, not telling. And I know your answer by seeing how you treat me recently. I can say you don’t treat me well now. It’s absolutely different when we met at the first time and became “best friends”. What’s going on? Did I make mistakes? Tell me….

I miss how you treat me well.

I miss how you give me small but meaningful attentions.

I miss your ears.

I miss your eyes.

I miss your words.

I miss your hands.

It really drives me crazy when we meet almost everyday but I still “miss” you.

Thunder, that’s how I often call you (in my heart). You’re still my best Thunder although I’m not your best Rain.

“Am I still your best friend?”

Someday, when you finally find my letter and read it, I don’t know whether I still miss you or not.

I miss you.

Now.

Since I “lost” the real you.

Since I couldn’t “recognize” you.

Since….

I….

realize….

that….

I….

love….

you….

Yeah, I love you.

Amazing Gallery Walk: Handmade and HeArtmade

24 Maret 2013

Hello, Sunday! Nice to meet you! 😀

Berbeda dengan Ahad-Ahad sebelumnya, Ahad kali ini aku main ke kos Ocha. Well, mengerjakan tugas Literary Appreciation and Criticism mungkin lebih tepat. Jadi, sampailah aku di kos Ocha jam 14.00 WIB. Sembari menunggu Diana dan Muthet, aku dan Ocha mulai membicarakan konsep yang akan kami gunakan dalam Gallery Walk kami. Kelompok kami mendapat materi tentang Expressive Approach. Sebenarnya, konsep yang masih kasar sudah ada di benak kami beberapa hari yang lalu, jadi hari ini kami hanya menyempurnakan konsep kami yang masih kasaran. Dan, mulailah kami beraksi!

Muthet datang tak lama setelah kami mem-fiksasi konsep. Berangkatlah Muthet dan Ocha untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan, seperti kertas Asturo, kertas karton, sterofoam, double tape, lem, dan saudara-saudaranya. Tinggallah aku sendirian menghadap laptop untuk mulai mendesain Gallery Walk. Tak lama, Diana pun datang.

Beberapa menit kemudian, Muthet dan Ocha kembali dari “ekspedisi” mereka. Mulailah kami “mengeksekusi” bahan-bahan yang telah dibeli Ocha dan Muthet.

Detik demi detik berlalu. Menit demi menit pun telah lewat. Jam dinding di kamar Ocha yang tidak berputar membuat kami tidak menyadari senja sebentar lagi akan datang dan adzan Maghrib akan segera berkumandang. Sebelum petang menghampiri, Muthet beranjak pamit pulang. Maklum, anak pondok 😀 Aku, Diana, dan Ocha pun bergegas ke fotokopian dan ke warung untuk hunting makanan.

Di fotokopian…

“Lin, kok gede banget, ya?” tanya Diana.

“Masa sih? Ah, nggak juga kok,” balasku.

Beneran nggak apa-apa?” tambah Ocha.

Nggak apa-apa. ‘Kan cuma ada 4,” jawabku santai.

Di kos Ocha…

Lho, kok gede banget, ya?” tanyaku kaget.

“‘Kan aku tadi udah bilang, Lin,” jawab Diana.

“Kamu juga tadi bilang gambarnya cuma ada empat jadi nggak apa-apa,” tandas Ocha.

“Iya ya? Hehehe…”

Dengan gambar 4 apel yang cukup besar, aku pun mulai menggambar daun yang mau tidak mau harus disesuaikan dengan ukuran apel. Here they are…

Gambar-Gunting-Tempel-Gambar-Gunting-Tempel-Gambar-Gunting-Tempel

Gambar-Gunting-Tempel-Gambar-Gunting-Tempel-Gambar-Gunting-Tempel

Malam menjelang. Hampir pukul 22.00 WIB. Tiga pasang mata mulai sipit, menahan kantuk. Tak tahan lagi, aku dan Diana pamit pulang. Kami berjanji akan kembali mengerjakan esok hari pukul 09.00 WIB.

 

25 Maret 2013

Pukul 09.00 WIB. Aku, Diana, Muthet dan Vinita sudah sampai di kamar Ocha lagi. “Pembantaian” lagi.

Pukul 10.30 WIB, kami meninggalkan kamar Ocha untuk kuliah. Aku dan Vinita kuliah Instructional Tehnology, sedangkan Diana, Muthet, dan Ocha entah kuliah apa 😀

Pukul 12.00 WIB. Selesai kuliah, kami sarapan terlebih dahulu. Selesai sarapan, kembali ke kamar Ocha.

Pukul 16.00 WIB, kami meninggalkan kamar Ocha untuk kuliah (lagi).

Pukul 18.00 WIB, kami pulang ke kos masing-masing.

Pukul 18.30 WIB, aku sudah sampai di kamar Ocha lagi.

Pukul 19.00 WIB, Diana dan Vinita datang.

75% Gallery Walk kami hampir selesai.

Hampir pukul 23.00 WIB, Gallery Walk kami sudah mencapai 90% hampir jadi. 10%-nya tinggal menge-print contoh dan menempelnya. Kami pun pamit pulang. Meninggalkan kamar Ocha dalam keadaan seperti ini. Peace, Cha! 😀

Kamar Ocha pasca insiden Gambar-Gunting-Tempel.

Kamar Ocha pasca insiden Gambar-Gunting-Tempel.

Aku, Diana, dan Vinita pulang bersama. Maklum, satu kos walaupun beda rumah. Sampai di kos…

“Aduh, gerbangnya sudah dikunci,” kataku.

“Mba Feli… Mba Feli…” Vinita berteriak memanggil Mba Feli tapi tidak ada jawaban.

“Coba di-miss call,” usulku.

“Kamu lompat aja, Di,” pinta Vinita.

“Hah?”

“Iya, kamu coba lompat untuk mengambil kunci gerbang.”

Diana pun mencoba naik gerbang tapi gagal.

Ah, kamu, Di. Sini aku aja,” Vinita pun mengambil ancang-ancang untuk melompat.

Akhirnya… hup! Ia berhasil! 😀

Dengan membuka pintu rumah, ia pun masuk ke dalam dan mengambil kunci gerbang.

Alhamdulillah, berkat Vinita, kami pun bisa masuk kos 😀

Unfortunately, sepertinya aku belum beruntung. Ketika Diana dan Vinita sudah masuk kos, aku justru tidak bisa masuk. Sial! Dikunci dari dalam!

“Dewi… Dewi…” teriakku, mencoba memanggil Dewi.

Tidak ada jawaban. Aku pun mengetik sms untuk Diana dan Vinita.

Diana keluar dari kosnya, “Dikunci dari dalam?” tanyanya.

“Mungkin,” jawabku pendek.

“Tidur kosku aja,” tawarnya.

“Tunggu. Kayaknya masih ada yang belum tidur. Ada suara air.”

Aku pun mengetuk pintu berkali-kali dan akhirnya ada jawaban dari dalam.

“Siapa?”

“Alin…”

Yeay! Pintu pun terbuka dan aku bisa masuk.

Well, berhubung ini adalah kerja kelompok, tak adil rasanya jika aku tak memperkenalkan sahabat-sahabatku.

They are

Here we are...

Here we are…

 

26 Maret 2013

Pukul 09.00 WIB. Aku ke kos Ocha lagi. Ocha tidak ada di kos. Kunci ditinggalkan di pintu kamarnya. Mulailah aku beraksi sendirian menyelesaikan Gallery Walk kami. Tak lama kemudian, Muthet datang. Mulailah kami berdua beraksi lagi. Dan akhirnya…

Finally, here it is!

Finally, here it is!

Pukul 14.20 WIB. Proses yang berat telah terlewati. Perjuangan membawa Gallery Walk kami menuruni kos Ocha di lantai 2, dan membawa ke kelas di lantai 4 patut diacungi jempol. Kami sampai di kelas ketika dosen kami, R. Muhammad Ali, S.S., M.Pd., tengah menjelaskan, entah menjelaskan apa.

Semua mata pun tertuju kepada kami, seolah-olah kami “pesakitan”. Daaaaaaaaannn, Gallery Walk kami tentu saja membuat heboh karena Gallery Walk yang lain imut-imut a.k.a mini, punya kami big size!

Sesi pemotretan.

Sesi pemotretan.

Betapa menyenangkan kelas Literary Appreciation and Criticim bersama Pak Ali ini. Lihatlah, kami harus mengunjungi Gallery Walk teman-teman kami untuk mendapatkan berbagai informasi tentang Expressive Approach, Mimetic Approach, Objective Approach, dan Pragmatic Approach.

Jalan-jalan, Man!

Jalan-jalan, Man!

Aku dimana? Aku di-bully Diana, Muthet, dan Ocha! Aku disuruh menjaga Gallery Walk kami dan itu artinya aku harus menjelaskan Expressive Approach. Dengan bantuan Vinita, aku pun dapat menjelaskan dengan baik. Mulutku sampai berbusa-busa dan aku harus sedikit berteriak untuk mengalahkan suara-suara yang berdengung seperti lebah.

Informant of Expressive Approach in Group 7 is Alin.

Berbagi informasi: Expressive Approach adalah….

See? Handmade and heartmade are the best tools to make your best Gallery Walk!

Biarlah, kami harus bersusah-payah untuk membuat Gallery Walk ini. Karena pada akhirnya, kepuasan-lah yang kami dapatkan atas kerja keras kami.

I’m proud of you, Diana, Muthet, Ocha, and Vinita! *hug*

Expressive Approach

The Definition

Expressive Approach: this approach treats the literary work primarily in relation to the author, the expression of the author’s feeling and emotion, or as the product of author’s imagination operating of his or her perceptions.

The Elements

The author’s intention: his/her ideas, meaning, what (s)he is setting out to say, the point (s)he is trying to make, in short, the ‘content’ of the work.

The author’s emotions: the feelings, passions, etc. which imbue the work and express its ‘tone’.

i.e. The author’s attitude to his subject matter.

The author’s identity: what evidence may be found in the work of him/herself, psychology, personality, character, the facts of his/her life, biography, etc.

The author’s originality: what is unique, special, peculiar about his/her ‘style’, what exactly differentiates the ‘form’ of his/her work from that of his/her predecessors.

The Example

Berdiri Aku

(Karya: Amir Hamzah)

Berdiri aku disenja senyap

Camar melayang menepis buih

Melayah bakau mengurai puncak

Berjulang datang ubur terkembang.

Angin pulang menyejuk bumi

Menepuk teluk mengempas emas

Lari ke gunung memuncak sunyi

Berayun alun di atas alas.

Benag raja mencelup ujung

Naik marak menyerak corak

Elang leka sayap tergulung

Dimabuk warna berarak-arak.

Dalam rupa maha sempurna

Rindu sendu mengharu kalbu

Ingin datang merasa sentosa

Menyecap hidup bertentu tuju.

Amir Hamzah lahir di Tanjung Pura pada tanggal 28 Februari 1911, dan wafat pada tahun 1946. Beliau belajar di H.I.S, A.M.S dan belajar di Sekolah Hukum Tinggi. Ia dibesarkan dalam lingkungan yang taat beragama Islam, dan banyak mempelajari kesusastraan Melayu Lama, sehingga dalam karyanya banyak menggunakan bahasa Melayu Lama dan bahasa daerahnya, contohnya pada puisi “Berdiri Aku”. Amir Hamzah termasuk salah seorang pendiri dan pemimpin Pujangga Baru.

References

http://creationbrain.blogspot.com/2012/08/literary-approach.html

http://www.rlwclarke.net/courses/lits2306/2007-2008/01DSub-TopicsinLiteraryTheory.pdf

http://ssgpelajarbahasa.blogspot.com/2011/11/pendekatan-ekspresif.html

B, C, D,… up to Z!

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. Ar-Rahman: 13)

Bersyukur, bersyukur, dan bersyukur. Sungguh, tiada yang lebih indah selain mensyukuri apa yang kumiliki dalam hidupku. Aku tidak pernah merasa kekurangan ketika aku berusaha mensyukuri segala yang ada dalam hidupku. Berusaha? Ya, berusaha. Aku sedang berusaha.

 

23 Maret 2013

Graduation party…

Malam Ahad. Seperti malam-malam sebelumnya. Bersama EDSA Famz. Lagi.

Agenda malam ini adalah syukuran kelulusan abang-abang kece a.k.a Mas Faisal, Mas Aflah, dan Mas Anjar. Sekalian syukuran ulang tahunnya Mas Anjar mungkin. Bertempat di rumah Mba Vita di Seyegan, kami memulai acara ini setelah Zuhur. Acara dimulai dengan masak-masak. Gosh! Aku angkat tangan! I can’t cook 😀

Finally, aku hanya pegang kamera untuk mengabadikan momen langka itu. Aku hanya membantu mengupas mentimun dan langsung berhenti setelah kupasanku terlalu tebal, padahal sungguh, sebelumnya kupasanku rapi sekali 😦 But no one believes in me 😦 Aku sedih…

Don’t worry! Semua ledekan yang kuterima kemarin tidak kumasukkan dalam hati, sungguh 🙂 Aku baik, ‘kan? 😀 Efek terlalu sering diledek jadi sudah kebal.

Aduh! *tepuk jidat* Aku lupa memberi tahu siapa saja yang mengikuti acara ini. Here they are

Tentu saja ada Mas Faisal, Mas Aflah, Mas Anjar, dan Mba Vita. Ada juga Mba Nisa, Dina, Mas Fatah, Pak Heri, Unul, Mba Kunti (meski bukan termasuk dalam bagian EDSA Famz, namun Mba Kunti ini cukup dekat dengan EDSA Famz terutama Mas Handung), Mba Mlathi, Zuhri, Mba Nela, Mba Novia, Mas Handung, Mas Sigit, Mba Siti, Mba Rini, Mas Rizal, Mas Inu, dan Mas Wawan (teman kontrakannya Mas Faisal).

Lupakan acara masak-masaknya. Aku tidak terlibat banyak di dapur yang merupakan daerah kekuasaan ibu-ibu itu. Yang aku tahu, aku punya tagline baru untuk Mba Novia 😀 Novia, disconnecting people 😀 (Kalau suatu saat menemukan cerita ini, jangan marah, ya, Mba 😀 I love you!)

Masak pun selesai! Seusai sholat Maghrib, kami pun makan malam bersama. Nikmatnyaaa, Alhamdulillah 😀 Selesai makan, satu per satu hadirin yang datang mulai berpamitan. Aku? Jangan tanya. Pulang belakangan tentu saja. Asyiknya, Mas Aflah beliin martabak dan terang bulan. Yes! 😀 Lebih tepatnya, aku dan Mba Vita yang meluncur ke abang tukang martabak–pakai duit Mas Aflah 😀 (Es krimnya belum!)
Di sinilah yang membedakan aku dengan yang lainnya. Awalnya ragu, namun kumantapkan hatiku untuk bercerita, agar hati sedikit lega. Mulailah aku bercerita dari A sampai H, sampai L, balik lagi ke A, kemudian sampailah aku di Z!
“Aku tak peduli lagi,” kataku.
“Jangan seperti itu. Tidak peduli boleh, tapi rasa sayang itu jangan dipaksa hilang,” katanya.
“Aku serasa ‘ditampar’ pas ulang tahun kemarin, Mba. Aku baru benar-benar sadar sesadar-sadarnya kalau aku masih punya banyak teman yang sayang aku. Jadi untuk apa selama ini aku hanya memikirkannya?”
“Ya, sama seperti aku. Tapi Allah pasti sayang aku, buktinya Allah menurunkan … dan … yang setia mendengarkanku. Aku sering mendatangi mereka hanya untuk menangis. Sampai suatu ketika aku mendatangi salah seorang diantara mereka dan ia berkata, ‘Kalau kamu masih sering menangis karena dia, berarti kamu menyepelekan kami? Orang-orang yang sayang kamu?’ Saat itu aku baru sadar, aku masih punya B, C, D, …”
“Bahkan sampai Z?”, potongku.
“Ya, bahkan sampai Z! Jadi aku tidak perlu memikirkan A! Aku ‘kan masih punya B, C, D,… sampai Z!”
Aku terdiam. Pelajaran yang sama di hari ulang tahunku.

 

Why do I have to think about A? On the other hand, I’ve already had B, C, D, … up to Z!

Ada berapa huruf dari B sampai Z? 25, bukan? Apalah artinya kehilangan huruf A? Hanya satu huruf saja. Masih ada 25 yang lain.

 

Mana nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S. Ar-Rahman: 13)

The Definition of Literary Appreciation and Criticism

Stages of Literary Appreciation (reflection)

Ogenlewe (2006) posits that ‘literary appreciation refers to the evaluation of works of imaginative literature as an intellectual or academic exercise.’ In this process the reader interprets, evaluates or classifies a literary work with a view to determining the artistic merits or demerits or such a work. Donelson and Nilsen (2009) echo this sentiment and add that it is the process by which one ‘gauges one’s interpretive response as a reader to a literary work’. This means that the reader is able to gain pleasure and understanding for the literature, understand its value and importance and admire its complexity.

Nilsen and Donelson (2005) further determined that a main goal of teaching literature is to elicit a response from students so they can explore their own lives and improve their logical thinking skills. Therefore, the key to developing appreciation for reading is first selecting appropriate adolescent literature in which students can identify and make connections. This can foster love for reading and improve their language arts skills as well.

Literary appreciation focuses on the adequate grasp of the definitions and applications of traditional literary devices such as plot, character, metaphor, setting and symbolism which may be encountered within texts.

According to Donelson and Nilsen (2009), literary appreciation occurs in seven stages.

Level 1: Pleasure and Profit (literary appreciation is a social experience)

Level 2: Decoding (literacy is developed)

Level 3: Lose yourself (reading becomes a means of escaping)

Level 4: Find yourself (discovering identity)

Level 5: Venture beyond self (‘going beyond me’, assessing the world around them)

Level 6: Variety in reading (reads widely and discusses experiences with peers)

Level 7: Aesthetic purposes (avid reader, appreciates the artistic value of reading)

Margaret Early’s Stages of Growth in Literary Appreciation determines that the personal attitudes, reading and observing skills are all part of literary appreciation. Stages which readers go through are added unto without dropping the previous stages. Thus, literary appreciation is a lifelong process. However, occasionally students are ill-equipped to handle transition from childhood literature to adolescent literature and fail at establishing literary appreciation.  This may occur as a result of a student’s late or early cognitive maturity. As teachers, we must understand that in order to appreciate literature students must experience pleasure from their reading. Transaction reading journals and literature circles can be helpful as students can document their progress and reflect on them. They should be provided with a forum to respond to literature in the classroom, discuss personal responses, ideas and deductions with other students. This will also allow them to make text to text connections.

Knickerbocker and Rycik (2002) asserts that it is important to understand literary development that teachers should consider students stages of development and select materials and methods appropriate to them. This sentiment is supported by Piaget’s Stages of Cognitive Development at which children are said to go through mental development at different ages. They affirm that each level must provide a sense of satisfaction for the reader if he or she is expected to move unto the next stage.

 

Literary Criticism

Literary criticism is the study, evaluation, and interpretation of literature. Modern literary criticism is often informed by literary theory, which is the philosophical discussion of its methods and goals. Though the two activities are closely related, literary critics are not always, and have not always been, theorists.

Whether or not literary criticism should be considered a separate field of inquiry from literary theory, or conversely from book reviewing, is a matter of some controversy. For example, the Johns Hopkins Guide to Literary Theory and Criticism draws no distinction between literary theory and literary criticism, and almost always uses the terms together to describe the same concept. Some critics consider literary criticism a practical application of literary theory, because criticism always deals directly with particular literary works, while theory may be more general or abstract.

Literary criticism is often published in essay or book form. Academic literary critics teach in literature departments and publish in academic journals, and more popular critics publish their criticism in broadly circulating periodicals such as the Times Literary Supplement, the New York Times Book Review, the New York Review of Books, the London Review of Books, The Nation, and The New Yorker.

History of Literary Criticism

Aristotle’s Poetics clearly defines aspects of literature and introduces many literary terms still used today.

Classical and medieval criticism

Literary criticism has probably existed for as long as literature. In the 4th century BC Aristotle wrote the Poetics, a typology and description of literary forms with many specific criticisms of contemporary works of art. Poetics developed for the first time the concepts of mimesis and catharsis, which are still crucial in literary study. Plato’s attacks on poetry as imitative, secondary, and false were formative as well. Around the same time, Bharata Muni, in his Natya Shastra, wrote literary criticism on ancient Indian literature and Sanskrit drama.

Later classical and medieval criticism often focused on religious texts, and the several long religious traditions of hermeneutics and textual exegesis have had a profound influence on the study of secular texts. This was particularly the case for the literary traditions of the three Abrahamic religions: Jewish literature, Christian literature and Islamic literature.

Literary criticism was also employed in other forms of medieval Arabic literature and Arabic poetry from the 9th century, notably by Al-Jahiz in his al-Bayan wa-‘l-tabyin and al-Hayawan, and by Abdullah ibn al-Mu’tazz in his Kitab al-Badi.

Definition of Literary Criticism

Literary criticism is simply the attempt to explain a literary work. A literary critic is one who explains or interprets a literary work–its meaning, production, aestheticism, and historical value.

History

The history of literary criticism dates back to Plato and Aristotle. Both philosophers expressed ground breaking opinions about literature, specifically on the issues of literary mimesis (imitation and representation) and didacticism. Literary mimesis asks the question, “Does literature imitate life, or does life imitate literature?” Didacticism in literature asks the question, “How does the text lend itself as an instructional or moral guide to life?”

Tools of Literary Criticism

The tools with which a literary critic uses to interpret a text are literary theories. A literary theory is a method for analyzing a literary work. Some critical theories include New Criticism, Psychoanalytic Criticism and Marxist Criticism.

New Criticism

New Criticism is characterized by its emphasis solely on the text. A New Critic approach to a literary work is only concerned with the meaning, irony, ambiguity, symbols and universal themes of the text, without any regard to authorial intent, historical or cultural contexts.

Psychoanalytic Criticism

Psychoanalytic Criticism uses psychoanalysis as a means of explaining the behavior and motives of the characters in a literary work. Psychoanalytic Criticism also explores how the psyche of the author informs the text.

Marxist Criticism

Marxist Criticism approaches a literary work from a socioeconomic standpoint. A Marxist critique of a literary work explores how the text intentionally or unintentionally supports capitalism, imperialism or other philosophies.

 

 

Electronic Sources:

http://mystique-mel.blogspot.com/2011/04/stages-of-literary-appreciation.html (Taken on Saturday, March 16, 2013 at 20.00.)

http://en.wikipedia.org/wiki/Literary_criticism (Taken on Monday, March 18, 2013 at. 15.23.)

http://www.ehow.com/facts_5529563_definition-literary-criticism.html (Taken on Monday, March 18, 2013 at 15.28.)

Ending is Beginning

16 Maret 2013

Sebuah akhir selalu menjadi sebuah awal (yang baru). Sama seperti hari ini. Entah berapa jumlah mahasiswa/mahasiswi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta yang memadati gedung Jogja Expo Center (JEC) hari ini. Entah berapa jumlah orang tua yang hadir menyaksikan putra-putrinya mengenakan toga. Entah berapa jumlah panitia yang sibuk mengatur ini-itu agar kegiatan yang telah direncanakan dapat berjalan lancar. Entah berapa jumlah “pengunjung” yang setia menunggu para wisudawan/wisudawati di luar gedung JEC. Entah berapa jumlah penjual bunga yang mencoba mengais rezeki dengan “membantu” menyemarakkan suasana dengan warna-warni bunga. Entah. Yang aku tahu, hari ini, “kakak-kakakku” menjadi bagian dari mahasiswa/mahasiswi yang diwisuda itu.

Inilah salah satu dari banyak kelompok “pengunjung” yang memadati JEC hari ini:

"Pengunjung" yang Meramaikan JEC

Bunga untuk kakak-kakak tersayang a.k.a. Abang-Abang Kece.

Bibir mengembang, senyum merekah, mata berkaca-kaca menahan haru. Betapa tidak? Adakah yang merasa sedih di hari yang sangat membahagiakan ini? Ayolah, sekalipun ada yang merasakannya, setidaknya mintalah kegalauan itu untuk absen hari ini saja. Hei, ada begitu banyak kebahagiaan hari ini, mengapa kita harus merasa sedih?

Mereka.

Faisal Abidin. Muhammad Aflah Jagan Natiqo. Radita Anjar Hirdanto.

Selamat! Akhirnya, setelah mengulang mata kuliah Pronunciation setiap tahun, mas Faisal bisa lulus dengan predikat kemelud a.k.a CUMLAUDE 😀 Makhluk halus a.k.a mas Anjar juga lulus dengan predikat yang sama. Tapi, sayangnya kakakku yang satu ini lulus tanpa menyandang predikat kemelud 😦 But well, I’m proud of you, mas Aflah! 😀 You have done your best! 😀

Aku bangga pada mereka. Mereka telah membuktikan bahwa mereka bisa menyelesaikan kuliah mereka dengan baik. Mereka, setidaknya telah membuktikan kepada kedua orang tua, keluarga, kerabat, kawan, dan sahabat mereka bahwa mereka bisa!

ki-ka: Mas Faisal, Alin, Mas Anjar

ki-ka: Mas Faisal, Alin, Mas Anjar

ki-ka: Alin, Mas Aflah, Mba Novia

ki-ka: Alin, Mas Aflah, Mba Novia

Setiap awal selalu memiliki akhir. Manusia mungkin tidak bisa memilih awal yang baik, tetapi manusia selalu bisa membuat akhir sebaik yang ia inginkan. Sama seperti hidup. Manusia tidak bisa memilih masa lalu yang indah, tetapi manusia selalu bisa memilih masa depan yang indah.

Hari ini, ketiga kakakku telah mengakhiri masa kuliahnya dengan baik. Tentu bukan sesuatu yang mudah untuk mendapatkannya, namun bukan pula sesuatu yang sulit sehingga mustahil untuk dilakukan. Nyatanya, mereka telah memilih masa depan yang lebih baik dari masa lalunya. Tout est bien qui finit bien. Segala sesuatu yang diawali dengan baik pasti akan berakhir dengan baik.

Esok, ketika mereka membuka kedua mata mereka, kehidupan yang baru telah siap menyambut mereka. Esok, mereka akan memulai kehidupan yang baru dengan gelar Sarjana Pendidikan di belakang nama mereka.

Faisal Abidin, S.Pd.

Muhammad Aflah Jagan Natiqo, S.Pd.

Radita Anjar Hirdanto, S.Pd.

Menyenangkan sekali bisa menyelesaikan apa yang telah kita mulai. Semoga, hari ini juga akan menjadi hari yang membahagiakanku kelak. Hari yang juga membahagiakan kedua orang tuaku, kakakku, keluargaku, kerabatku, sahabat-sahabatku. Segera.

Do what you love, and love what you do. Doaku menyertai kalian.

Don’t forget me, your amazing sister.

Screaming in the “Rain”

12 Maret 2013

Libur. Jalan-jalan. Yeay!

Solo apa Wonosobo? Gunungkidul! Nah lo?

Barat apa Timur? Selatan!

Setelah melalui perdebatan panjang antara Solo dan Wonosobo, akhirnya dengan senang hati diputuskan jalan-jalan kali ini ke Air Terjun Sri Gethuk di Gunungkidul 😀

Air, air, air. Di kepala sudah penuh dengan berbagai harapan–semoga tidak mengecewakan seperti Air Terjun Sidoharjo (padahal yang membuat kecewa adalah diri sendiri yang terlalu “pintar”) 😀 Siapa saja? Masih dengan sahabat terbaik “jebolan” Kotak Biru yang aku sayangi. Ada mas Faisal, Iqbal, Unul, mas Aflah, Zuhri, mas Anjar, mas Sigit, mas Rizal, daaaaaaaaannn aku! 😀

Here we go…

Berhubung ingatanku tidak cukup baik untuk menghafalkan jalan, jadi mohon maaf sekali aku belum bisa memberi direction dari Yogyakarta ke Gunungkidul 😦 I’m so sorry… 😀

Jadi, langsung saja, ya! Kami berangkat dari kontrakan mas Faisal (lagi), tiba-tiba sudah sampai di Sri Gethuk! Hebat, ‘kan? -___-

Memasuki wilayah Sri Gethuk, kami harus membayar Rp 5.000,00. Next, untuk sampai ke air terjunnya, kami harus merogoh kocek sebesar Rp 10.000,00 untuk naik rakit yang bermesin–entah aku harus menyebut apa kendaraan itu.

Sebelum membeli tiket.

Sebelum membeli tiket.

Ouch! Tempat wisata yang satu ini dipenuhi banyak pengunjung, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua. Agaknya waktu kami untuk mengunjungi Sri Gethuk kurang tepat karena tanggal 12 Maret 2013 bertepatan dengan hari raya Nyepi, automatically hari libur nasional dan tentu saja tempat wisata penuh! -___- But, well it’s fine! No problem! Let’s see what we can do here! A crowded community in crowded situation 😀

Detik-detik sebelum naik "rakit".

Detik-detik sebelum naik “rakit”.

Saking penuhnya tempat wisata ini pada hari raya Nyepi, kami harus ikut mengantri untuk menaiki “rakit”.

Menaiki “rakit” menuju Air Terjun Sri Gethuk.

Begitu sampai di air terjunnya, aku speechless! Air, air, dan air. Dimana-mana air. Unfortunately, air sungainya berwarna coklat, mungkin karena efek samping musim hujan 😛 Tapi untungnya, air terjunnya bening! Tanpa berpikir panjang, aku pun segera meletakkan tas, melepas kacamata, dan sandal. Laluuuuuuuuu…

Subhanallah, indahnya Air Terjun Sri Gethuk.

Subhanallah, indahnya Air Terjun Sri Gethuk.

Air Terjun Sri Gethuk

Air Terjun Sri Gethuk

Screaming in the "rain".

Screaming in the “rain”.

Aku berteriak sekencang-kencangnya, mengeluarkan uneg-uneg yang mengganjal di hati dan pikiran, berteriak, berteriak, berteriak, terus berteriak. AAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!! Lega. Semua beban seakan telah menghilang. Menyenangkan sekali. Andai saja air terjun ini berada tak jauh dari tempat tinggalku, tentu aku akan kesana setiap kali aku merasa muak dengan rutinitas sehari-hari yang monoton. Sayangnya, aku harus menempuh perjalanan selama 2 jam untuk mencapai tempat ini.

Aku tidak peduli dengan bajuku yang basah, padahal aku tidak membawa baju ganti. Ribet! Aku pun pulang dengan baju basah kuyup. Belum sampai Yogyakarta, bajuku kering.

Bagaimana tidak kering? Kami harus berhenti sebentar karena ban motor mas Sigit bocor. Apa yang kami lakukan?

Menunggu ban motor mas Sigit ditambal.

Menunggu ban motor mas Sigit ditambal.

Asyiknya, bapak-bapak tambal ban punya pohon rambutan yang sedang berbuah. Saling lirik, kami pun menghampiri pohon rambutan itu.

Mundhut mawon, Mas. Mangga…”

Ah, bapaknya baik sekali. Jadilah beberapa dari kami berlarian dan lompat-lompat untuk mendapatkan buah rambutan yang enak itu.

Nyam-nyam, enak! Nyam-nyam, enak!

Nyam-nyam, enak! Nyam-nyam, enak!

Kemudiaaaaaaaaannn, kami melanjutkan perjalanan dan iseng mampir sebentar di Bukit Bintang, salah satu tempat favorit anak muda untuk menikmati senja Yogyakarta. Mengapa disebut Bukit Bintang? Aku sendiri kurang begitu paham, tapi mungkin karena dari atas sini kita bisa melihat rumah-rumah warga Yogyakarta yang dihiasi lampu ketika petang telah tiba. Lampu-lampu ini yang kemudian disebut bintang. Tapi, entahlah. Aku hanya mencoba menerka-nerka saja 😀

Menikmati senja Yogyakarta dari Bukit Bintang.

Menikmati senja Yogyakarta dari Bukit Bintang.

Lapar karena bermain seharian, kami pun makan Bakso Jumbo Santhos atas rekomendasi mas Aflah. Urusan makanan, mas Aflah T.O.P.B.G.T! Sangat mengenyangkan! Ukurannya benar-benar jumbo dan perutku tak cukup besar untuk menghabiskan bakso jumbo itu. Harganya? Rp 9.000.,00 saja.

Bakso Jumbo Santhos

Bakso Jumbo Santhos

Baiklah, cukup sekian perjalanan hari ini. Semoga, esok lusa aku masih diberi kesempatan untuk menjelajah alam Indonesia yang luar biasa indahnya! Semoga, kelak ketika impianku untuk meninggalkan Indonesia tercapai, aku memiliki banyak alasan untuk kembali.

I was happy since I could scream in the “rain”. I knew that it was not real rain, but it felt like I was in the rain! Without Thunder absolutely! 🙂

I write this story without knowing my Thunder’s life. I miss him…