ThundeRain

Tentang ia yang kusebut Thunder. Tentang aku yang kunamai Rain.

Mengapa Thunder? Mengapa Rain?

 

Tentang Thunder.

“Your voice was the soundtrack of my summer

Do you know you’re unlike any other?

You’ll always be my thunder

And I said,

Your eyes are the brightest of all the colors

I don’t wanna ever love another

You’ll always be my thunder…”

Sepotong lagu di atas sebenarnya sudah cukup mewakili siapa Thunder yang kuinginkan, yang selalu kusebut-sebut dalam setiap doa yang kupanjatkan.

Ia dan suaranya.

Ia dan matanya.

Ia dan kalimat-kalimatnya yang bijak.

Ia dan sikap halusnya kepadaku.

Ia yang selalu memperhatikanku meski seringnya aku tak pernah memperhatikannya.

Ia yang tak pernah marah padaku meski aku sering marah kepadanya.

Ia yang selalu memaafkanku meski aku tak pernah meminta maaf padanya.

Dan, ia yang sering membuatku kecewa.

 

Tentang Rain.

I love walking in the rain cause no one knows I’m crying.

Aku, gadis yang cengeng.

Sedikit-sedikit mataku berkaca-kaca.

Sedikit-sedikit menangis.

Dan, aku sangat membutuhkan hujan untuk menyembunyikan air mataku.

Orang lain tak perlu tahu aku sedih, aku menangis.

Mereka hanya perlu senyumku, tawaku. Tidak air mataku.

Tapi sayangnya, aku tak pernah bisa menyembunyikan air mata itu.

Air mata yang sebagian besar dikarenakan Thunder.

 

Thunder dan Rain

Entah sudah berapa kali Thunder dan Rain seperti ini. Rindu. Rain yang merindukan Thunder. Kalau Thunder? Entahlah. Tak ada yang tahu. Tapi, Rain? Semua orang cukup tahu. Kedua matanya tak pernah bisa berbohong. Meski ia mencoba terus menyibukkan diri, celah di hati dan otaknya selalu menyisakan ruang kosong untuk Thunder. Apakah Thunder tahu itu? Sayangnya, hanya ia dan Allah saja yang tahu. Selebihnya, tidak ada yang tahu.

Dekat, tapi tak merasa dekat. Jauh, dan Rain benar-benar merasa jauh. Rain sering bertanya-tanya, “Apakah aku cukup penting untuknya?” Namun, hingga saat ini, ia tak kunjung menemukan jawabannya. Hingga pada akhirnya Rain memutuskan untuk “pergi”. Tidak sekadar pergi untuk mencari jawaban atas pertanyaannya selama ini, tetapi pergi untuk menghilangkan perasaan bodohnya terhadap Thunder. Tetapi sekuat apapun usaha Rain untuk menghilangkan perasaannya, perasaan tetaplah sebongkah perasaan. Sesuatu yang mampu menguatkan sekaligus melemahkan. Perasaan itu justru semakin kuat, dan Rain semakin lemah.

Rain tahu, Thunder menyadari perubahan sikapnya. ‘Maaf’, kata Rain dalam hati setiap matanya bertemu dengan mata Thunder yang teduh. Rain selalu ingin menatap kedua mata Thunder menatapnya lebih lama, tetapi kali ini Rain harus menghindarinya. Bukan apa-apa, Rain hanya takut semakin lama ia akan semakin menginginkan kedua mata itu. Rain hanya takut ia akan semakin merindukan mata Thunder yang meneduhkan.

Ketika pagi menyambut, Rain selalu mengatakan hal yang sama kepada matahari, kepada dedaunan yang basah oleh embun pagi, kepada angin yang berbisik, kepada alam, “Sepagi ini, ketika jarak dan waktu masih berusaha mengingatkanmu, aku belum ingin menyerah. Pagi ini masih sama dengan pagi-pagi yang telah berlalu selama hampir setahun terakhir. Hari ini, ketika aku harus menyambut pagi tanpamu, aku tahu harapan baru akan selalu ada. Pagi ini, doa-doa dan harapan kupanjatkan, sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Dan entah pada pagi keberapa kau akan menyadarinya. Hei, kita dekat tapi aku tak pernah merasa kau ada. Dan hei, tidakkah kau merasa risih dengan semua ini? Selamat pagi, Thunder!”

Ketika malam menjelang, Rain tak lupa mengatakan hal yang sama kepada bulan, kepada bintang, kepada angin malam yang menusuk tulang, “Rindu? Jelas! Siapa yang tidak merindukan sahabat yang selalu ada untuknya? Siapa yang tidak merindukan perhatian-perhatian kecilnya yang berarti besar? Aku rindu. Ingin sekali bertemu, tertawa, menangis, bersama sahabat yang kucintai. Tapi, cara yang menyakitkan itu harus tetap dilakukan. Harus, tidak boleh tidak. Agar jarak dan waktu mengingatkanmu, bahwa ada seseorang yang tanpa kau sadari telah kau tinggalkan. Dan seseorang itu tetap menunggumu kembali, meski sekarang ia harus pergi. Selamat malam, Thunder…”

Tanpa sepengetahuan Thunder, Rain menangis dan bernyanyi lirih.

“I miss your tan skin, your sweet smile

So good to me, so right

And how you held me in your arms that September night

The first time you ever saw me cry…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s