Screaming in the “Rain”

12 Maret 2013

Libur. Jalan-jalan. Yeay!

Solo apa Wonosobo? Gunungkidul! Nah lo?

Barat apa Timur? Selatan!

Setelah melalui perdebatan panjang antara Solo dan Wonosobo, akhirnya dengan senang hati diputuskan jalan-jalan kali ini ke Air Terjun Sri Gethuk di Gunungkidul😀

Air, air, air. Di kepala sudah penuh dengan berbagai harapan–semoga tidak mengecewakan seperti Air Terjun Sidoharjo (padahal yang membuat kecewa adalah diri sendiri yang terlalu “pintar”)😀 Siapa saja? Masih dengan sahabat terbaik “jebolan” Kotak Biru yang aku sayangi. Ada mas Faisal, Iqbal, Unul, mas Aflah, Zuhri, mas Anjar, mas Sigit, mas Rizal, daaaaaaaaannn aku!😀

Here we go…

Berhubung ingatanku tidak cukup baik untuk menghafalkan jalan, jadi mohon maaf sekali aku belum bisa memberi direction dari Yogyakarta ke Gunungkidul😦 I’m so sorry…😀

Jadi, langsung saja, ya! Kami berangkat dari kontrakan mas Faisal (lagi), tiba-tiba sudah sampai di Sri Gethuk! Hebat, ‘kan? -___-

Memasuki wilayah Sri Gethuk, kami harus membayar Rp 5.000,00. Next, untuk sampai ke air terjunnya, kami harus merogoh kocek sebesar Rp 10.000,00 untuk naik rakit yang bermesin–entah aku harus menyebut apa kendaraan itu.

Sebelum membeli tiket.

Sebelum membeli tiket.

Ouch! Tempat wisata yang satu ini dipenuhi banyak pengunjung, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua. Agaknya waktu kami untuk mengunjungi Sri Gethuk kurang tepat karena tanggal 12 Maret 2013 bertepatan dengan hari raya Nyepi, automatically hari libur nasional dan tentu saja tempat wisata penuh! -___- But, well it’s fine! No problem! Let’s see what we can do here! A crowded community in crowded situation😀

Detik-detik sebelum naik "rakit".

Detik-detik sebelum naik “rakit”.

Saking penuhnya tempat wisata ini pada hari raya Nyepi, kami harus ikut mengantri untuk menaiki “rakit”.

Menaiki “rakit” menuju Air Terjun Sri Gethuk.

Begitu sampai di air terjunnya, aku speechless! Air, air, dan air. Dimana-mana air. Unfortunately, air sungainya berwarna coklat, mungkin karena efek samping musim hujan😛 Tapi untungnya, air terjunnya bening! Tanpa berpikir panjang, aku pun segera meletakkan tas, melepas kacamata, dan sandal. Laluuuuuuuuu…

Subhanallah, indahnya Air Terjun Sri Gethuk.

Subhanallah, indahnya Air Terjun Sri Gethuk.

Air Terjun Sri Gethuk

Air Terjun Sri Gethuk

Screaming in the "rain".

Screaming in the “rain”.

Aku berteriak sekencang-kencangnya, mengeluarkan uneg-uneg yang mengganjal di hati dan pikiran, berteriak, berteriak, berteriak, terus berteriak. AAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!! Lega. Semua beban seakan telah menghilang. Menyenangkan sekali. Andai saja air terjun ini berada tak jauh dari tempat tinggalku, tentu aku akan kesana setiap kali aku merasa muak dengan rutinitas sehari-hari yang monoton. Sayangnya, aku harus menempuh perjalanan selama 2 jam untuk mencapai tempat ini.

Aku tidak peduli dengan bajuku yang basah, padahal aku tidak membawa baju ganti. Ribet! Aku pun pulang dengan baju basah kuyup. Belum sampai Yogyakarta, bajuku kering.

Bagaimana tidak kering? Kami harus berhenti sebentar karena ban motor mas Sigit bocor. Apa yang kami lakukan?

Menunggu ban motor mas Sigit ditambal.

Menunggu ban motor mas Sigit ditambal.

Asyiknya, bapak-bapak tambal ban punya pohon rambutan yang sedang berbuah. Saling lirik, kami pun menghampiri pohon rambutan itu.

Mundhut mawon, Mas. Mangga…”

Ah, bapaknya baik sekali. Jadilah beberapa dari kami berlarian dan lompat-lompat untuk mendapatkan buah rambutan yang enak itu.

Nyam-nyam, enak! Nyam-nyam, enak!

Nyam-nyam, enak! Nyam-nyam, enak!

Kemudiaaaaaaaaannn, kami melanjutkan perjalanan dan iseng mampir sebentar di Bukit Bintang, salah satu tempat favorit anak muda untuk menikmati senja Yogyakarta. Mengapa disebut Bukit Bintang? Aku sendiri kurang begitu paham, tapi mungkin karena dari atas sini kita bisa melihat rumah-rumah warga Yogyakarta yang dihiasi lampu ketika petang telah tiba. Lampu-lampu ini yang kemudian disebut bintang. Tapi, entahlah. Aku hanya mencoba menerka-nerka saja😀

Menikmati senja Yogyakarta dari Bukit Bintang.

Menikmati senja Yogyakarta dari Bukit Bintang.

Lapar karena bermain seharian, kami pun makan Bakso Jumbo Santhos atas rekomendasi mas Aflah. Urusan makanan, mas Aflah T.O.P.B.G.T! Sangat mengenyangkan! Ukurannya benar-benar jumbo dan perutku tak cukup besar untuk menghabiskan bakso jumbo itu. Harganya? Rp 9.000.,00 saja.

Bakso Jumbo Santhos

Bakso Jumbo Santhos

Baiklah, cukup sekian perjalanan hari ini. Semoga, esok lusa aku masih diberi kesempatan untuk menjelajah alam Indonesia yang luar biasa indahnya! Semoga, kelak ketika impianku untuk meninggalkan Indonesia tercapai, aku memiliki banyak alasan untuk kembali.

I was happy since I could scream in the “rain”. I knew that it was not real rain, but it felt like I was in the rain! Without Thunder absolutely!🙂

I write this story without knowing my Thunder’s life. I miss him…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s