Ada… Ada yang Jauh Lebih Paham…

29 April 2013

Pengalaman akan selalu menjadi guru terbaik. Akan selalu.

Bagaimana? Kau sudah merasakannya, bukan? Merasakan apa yang pernah kualami dulu. Menyakitkan? Tentu saja. Kau pun tahu, aku dulu hampir menangis. Bukan, bukan karena diceramahi, diomeli, dimarahi atau digunjing di belakang yang membuatku bersedih. Tetapi ketika tak ada lagi yang peduli. Tetapi ketika semua orang memilih untuk menyimpan kata-katanya. Tetapi ketika semua orang memilih “pergi”. Itu yang menyakitkan.

Bagaimana rasanya menanggung semuanya sendirian? Bagaimana rasanya ketika orang-orang berusaha terlihat sibuk agar memiliki alasan untuk tidak membantumu? Bagaimana rasanya ketika orang-orang menganggap semua ucapanmu hanya angin lalu? Bagaimana ketika ucapanmu hanya masuk ke telinga kanan kemudian keluar dari telinga kiri? Bagaimana rasanya?

Aku dulu pun kesal, jengkel, marah, kecewa. Entahlah. Semua perasaan tiba-tiba menyatu, mengaduk-aduk hati dan otak. Ingin sekali membalas perbuatan orang-orang itu. Ingin sekali melakukan hal yang sama. Tapi, tunggu! Jika aku melakukannya, apa bedanya aku dengan mereka? Sama saja. Aku akan menjadi sama jahatnya dengan mereka. Dan, aku tidak mau sama dengan mereka. Aku berbeda. Sangat berbeda. Maka, saat itu kuputuskan untuk diam. Bersabar. Semua ada waktunya. Ada waktunya ketika mereka harus mengalaminya sendiri.

Dan, waktu yang dijanjikan telah tiba. Hari ini. Kau mengeluh. Keluhan yang sama yang pernah kulontarkan dulu, “Kalian kemana?”. Aku hanya tersenyum mendengar kalimatmu. Sudah cukup lama aku tak mengucapkannya, aku bahkan hampir lupa kalau dulu aku yang paling sering mengucapkannya. Dan, hari ini kau mengingatkanku tentang dua kata sakti itu.

Ini lho yang dulu kurasakan. Ini lho yang sedari dulu membuatku kecewa. Tak ada kawan yang bisa membantuku. Tak ada kawan yang peduli. Aku bahkan kebingungan, membedakan mana kawan mana lawan. Segalanya absurd.

Pengalaman akan selalu menjadi guru terbaik. Akan selalu.

Dulu, aku berharap kau akan merasakan hal yang sama sepertiku. Bukan dendam. Agar kau tahu. Agar kau paham. Agar kau mengerti betul. Seperti ini rasanya ketika tidak ada lagi yang peduli.

Dan, sungguh, ada yang jauh lebih paham. Ada… Ada yang jauh lebih paham kapan waktu yang tepat untuk memberimu pengalaman itu. Ada yang jauh lebih paham, hari ini adalah waktu yang tepat. Sangat tepat.

Kim Hyun Joong ke Jogja, Njuk Ngopo?

26 April 2013

Mba Azil, salah satu temanku yang mengaku K-Popers tiba-tiba mengabariku lewat twitter kalau Kim Hyun Joong akan ke Jogja untuk syuting. Baca saja twit di bawah ini:

Reaksiku? Biasa saja. Mungkin tidak banyak yang tahu kalau aku juga sedikit menyukai K-Pop. Dan, satu-satunya aktor yang aku sukai adalah… jeng-jeng… Kim Hyun Joong! *prok-prok-prok* 😀

Kim Hyun Joong

Kim Hyun Joong

He’s so handsome, right? Absolutely, yes! 🙂

Setahuku, Kim Hyun Joong adalah leader SS501. Ia pernah membintangi serial Boys Before Flowers (BBF) dan Playful Kiss. Ia juga pernah menjadi cameo di serial Dream High. Sudah. Itu saja. Pengetahuanku tentangnya tidaklah banyak.

Dan, aku tentu saja tidak sama dengan mereka–penggemar Kim Hyun Joong yang menurutku sudah berlebihan. Aku berbeda. Aku tidak ingin menyukainya secara berlebihan. Segala yang berlebihan tidak pernah baik, bukan? Coba saja kita makan berlebihan, pasti perut kita rasanya aneh. Tidak nyaman. Tapi kalau kita makan sesuai porsinya, aduhai, nikmatnya terasa sekali. Alhamdulillah 🙂 Lagipula, Allah telah berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 31 yang artinya: “Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”

27 April 2013

Menyeramkan sekali ketika dulu aku sering menonton televisi dan melihat kumpulan remaja yang berteriak-teriak, menjerit-jerit hingga suaranya serak, habis, atau bahkan sampai menangis ketika mereka melihat idolanya lewat atau hanya sekadar melambaikan tangan dan tersenyum. Aduhai, haruskah seperti itu?

Aku kira kejadian seperti itu hanya bisa kusaksikan di layar televisi, nyatanya tidak. Malam ini, ketika aku, Mba Nisa, Mas Faisal dan Mas Anjar menghabiskan malam di Malioboro, tiba-tiba kami mendengar jeritan-teriakan yang kami kira karena kecelakaan atau semacamnya. Ternyata? Artis Korea lewat!

Gara-gara jeritan-teriakan mereka, Mba Nisa sampai jatuh karena tersandung 😀

“Ada apa, sih?” tanyanya.

“Kim Hyun Joong lewat mungkin,” kataku santai.

“Kamu nggak pengen lihat?” tanyanya lagi.

Nggak,” jawabku.

“Itu kan oppa-mu,” katanya lagi.

Dalam hatiku: Oppa-ku? Oppa-ku bukan dia, oppa-ku adalaaaaaaaaahhh… jeng-jeng… Mas Hariiiiiiiii! 😀

Hari Purwaka Setyawan, S.Pd., Si.

Hari Purwaka Setyawan

Kakakku tidak kalah tampan, bukan? 😀 Daaaaaaaaannn, menurutku jauh lebih tampan kakakku daripada Kim Hyun Joong, karena kakakku selalu memenuhi keinginanku 😀 Ketika beberapa hari yang lalu kakakku ke Jogja saja aku sudah dibelikan Wall’s Dung Dung rasa nangka dan pandan, novel Negeri di Ujung Tanduk, ikat pinggang, dan dibuatkan roll kabel. Kurang baik apa coba? 😀

Lantas, mengapa aku biasa saja ketika Mba Azil memberitahuku tentang kedatangan oppa yang satu itu ke Jogja, tempat tinggalku sekarang? Karena ini:

Pada suatu hari, seseorang bertanya kepada Rasul Allah, “Kapan datang hari kiamat?”. Rasul Allah menjawab dengan pertanyaan–karena tentu saja pertanyaan ini tidak ada jawabannya, tanya Rasul, “Apa yang sudah kamu persiapkan untuk menyambut kedatangannya?” Lalu orang dari pedalaman itu menjawab, “Tidak ada persiapan apa-apa, selain aku cinta Allah dan Rasul-nya”. Maka Rasul bersabda, “Engkau bersama orang yang kamu cintai.” (HR Bukhari).

“Nah, itu jelas sebuah penjelasan yang tidak perlu penjelasan lagi.

“Nah, adik-adik sekalian, kalau kita cinta sama anggota boyband kinyis-kinyis, maka besok pas kiamat, kita akan bersama mereka. Cinta sama artis yang suka pergaulan bebas, hidup serumah tanpa menikah, kita akan bersama mereka. Kalau cinta berat sama pemain bola top yang jago selingkuh, kita akan bersama mereka. Cinta sama seseorang, sesuatu, kita akan bersama mereka. Semoga mereka-mereka ini bisa menolong.

“Penting sekali mencintai seseorang yang juga mencintai balik kita, dan jelas-jelas bisa membantu kita saat dalam kesusahan besar kelak di hari penghabisan.”

Tulisan di atas aku ambil dari facebook Om Tere Liye, salah satu novelis Indonesia yang telah menelurkan banyak novel dan beberapa diantaranya sudah diangkat ke layar lebar.

Novel karya Tere Liye.

Novel karya Tere Liye.

Well, aku tahu tulisan ini akan menimbulkan banyak kontroversi di kalangan penggila K-Pop. Tidak mengapa. Apapun respon mereka, itu urusan mereka. Aku hanya prihatin dengan mereka. Pernah tidak terbersit di pikiran kita untuk menangisi Ibu atau Ayah atau saudara kandung atau saudara sesama Muslim kita saja?

Tidak mengapa mereka mencibirku, menganggapku sok-sokan berdakwah, dan yang lebih menyakitkan lagi ketika mereka berkata, “Masalah buat lo?”. Tidak mengapa, sungguh tidak mengapa. Setidaknya aku telah mencoba mengingatkan, urusan mereka menerima atau tidak, itu urusan mereka sendiri. Tanggung jawabku hanya sebatas mengingatkan. Seperti firman Allah dalam Surah Al-‘Asr ayat 1-3 yang berarti:

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.”

Ketika tulisan ini dibuat, aku masih berusaha menghilangkan rasa sukaku yang berlebihan pada Taylor Swift, Joe Jonas, Boys Like Girls, Paramore, dan Simple Plan karena aku tahu mereka tidak bisa menolongku di akhirat nanti. Yuk, berusaha bersama-sama! 😀

 

Note: Tulisan ini hanya opini, tidak usah diambil serius. Hanya untuk mereka yang mau memikirkan saja 😀

 

A Javanese Heart

27 April 2013

Niat untuk bermalam Ahad di kos gagal ketika ada sebuah SMS masuk mengajak hang out. Ya sudah, daripada bengong di kos dan nanti ujung-ujungnya galau memikirkan Thunder (halah), aku iyakan saja. Malam ini, bersama Mba Nisa, Mas Faisal, dan Mas Anjar, aku menghabiskan malam Ahad di Malioboro naik TransJogja. Sesekali naik angkutan umum boleh dong? 😀

Karena dadakan, kami hanya pergi berempat. Seperti biasa, kami berkumpul di kontrakan Mas Faisal. Kami menuju halte TransJogja di Tegal Turi. Aku lupa kami naik bus jalur berapa, seingatku dari Tegal Turi kami turun di halte Museum Perjuangan dan pindah ke bus jalur 2B dan turun di halte Taman Pintar. Selanjutnya, kami berjalan kaki menuju kawasan Malioboro. Tujuan pertama kami adalah hunting ice cream. Jadilah kami mengantri di McDonald’s di Mal Malioboro. Well, sebenarnya bukan kami yang mengantri, tapi Mas Faisal dan Mas Anjar 😀

Perjuangan membeli ice cream.

Perjuangan membeli ice cream.

Akhirnya… setelah mengantri cukup lama, ice cream McFlurry warna-warni sudah berpindah ke tanganku dan Sundae Strawberry juga berpindah ke tangan Mba Nisa. Mas Faisal juga membeli McFlurry warna-warni dan Mas Anjar membeli Sundae Strawberry. Kami pun mencari tempat duduk yang kosong di sepanjang jalan Malioboro.

Selesai menghabiskan ice cream, aku mengusulkan untuk mencari tempat makan dan Mas Faisal langsung menunjuk KFC yang terletak di seberang jalan.

“Serius?” tanyaku.

“Iya,” jawabnya mantap.

Setelah berdebat agak panjang, kami pun memantapkan langkah kaki kami ke KFC. Setiba di sana, Mas Faisal langsung menuju tempat pemesanan untuk memesan (atau melihat lebih jelas harga yang terpampang di sana, ya?). Tiba-tiba ia langsung membalik badan. Perasaanku tidak enak. Sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Dan…

“Gila! Es teh Rp 8.000,00. Keluar yuk,” katanya.

Aku segera memutuskan untuk mengambil langkah seribu alias kabur! Meninggalkan Mba Nisa, Mas Faisal, dan Mas Anjar di dalam. Tak lama kemudian, mereka keluar.

DICARI: FAISAL ABIDIN

Tersangka atas tuduhan perbuatan memalukan di KFC Malioboro.

Kami tertawa cekikikan, membayangkan betapa bodohnya kami tadi.

Ujung-ujungnya, kami makan di Kafe Tiga Tjeret alias Angkringan. Angkringan tetap menjadi pilihan terbaik untuk anak kos di akhir bulan 😀 Akhir bulan kok bisa beli ice cream, ya? Aku bingung 😀

Kenyang, kami pun ingin pulang. Sayang, TransJogja sudah tidak beroperasi lagi karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.19. Kalaupun beroperasi, petugas TransJogja tidak bisa menjamin apakah kami akan sampai Tegal Turi atau tidak. Gerimis mulai turun membasahi jalan Malioboro. Ketika kami melewati kumpulan orang-orang yang menari ini, mereka seolah-olah tidak memedulikan gerimis. Mereka terus menari, menari, dan menari.

Dancing in the rain.

Dancing in the rain.

Ketika hujan semakin deras, orang-orang yang sebelumnya berjalan santai menikmati indahnya Malioboro di malam hari tiba-tiba langsung berhamburan ke sana kemari mencari tempat untuk berteduh, tak terkecuali kami. Malam semakin larut, kami harus segera mencari kendaraan untuk pulang. Ingin pulang naik delman, tetapi ongkosnya mahal, Rp 80.000,00! Akhirnya, kami mencoba menawar becak. Bapak Becak minta Rp 20.000,00 per becak. Mas Faisal menawar Rp 15.000,00 per becak. Terjadilah proses tawar-menawar yang cukup panjang dan aku baru sadar kalau Mas Faisal sungguh pintar menawar, melebihi perempuan 😀 Tidak mencapai kesepakatan, kami pun pergi. Tiba-tiba Bapak Becak memanggil kami dan akhirnya sepakat Rp 15.000,00 per becak. Beliau segera mencari temannya sesama tukang becak, jadilah Rp 40.000,00 untuk 2 becak. Aku dan Mas Faisal, Mba Nisa dan Mas Anjar.

Di sepanjang jalan, aku dan Mas Faisal membicarakan usaha brand clothing yang baru ia mulai bersama Mas Anjar, Match Point. Tiba-tiba ia berkata, “Lin, Jalan Pramuka is so far away from Malioboro, are you sure we want to give him only Rp 15.000,00 per pedicab?”

“Iya ya, Mas. Kasihan bapaknya,” jawabku polos.

Can you speak English?

Absolutely, yes! You know what? We have a Javanese heart,” kataku.

Nggak tegaan, ya?”

“Iya.”

Aku dan Mas Faisal akhirnya sepakat untuk membayar Rp 20.000,00 per becak, seperti keinginan Bapak Becak sebelumnya.

Daaaaaaaaannn, tahukah kalian? Ketika aku memberi selembar uang dua puluh ribuan ke Bapak Becak yang telah mengantarku dan Mas Faisal, beliau tersenyum dengan tulus. Bagaimana kita bisa tahu seseorang tersenyum dengan tulus atau tidak? Cukup lihat matanya. Aku melihat kedua mata Bapak Becak itu berbinar-binar karena bahagia.

Ya Allah, mudahkanlah segala urusannya di dunia dan di akhirat. Amin.

Orang boleh berkata orang Jawa terlalu perasa, apa-apa dimasukkan dalam hati, apa-apa menggunakan hati. Biarlah. Sebagai orang Jawa, aku justru bangga. Hei, orang Jawa hanya terlalu peka, okeI have a Javanese heart and I’m proud 😀

Dolly [English Version]

Marlin Dwinastiti’s Short Story

“Honey, you have had too many dolls,” that’s what Mama says when Selena starts to ask a new doll.

“But, please, Mama. This is the last time I ask you.” Selena hasn’t given up yet.

“You always say like that, Honey,” says Mama again.

“I promise, Mama. This is the last time I ask you. I also promise… I’ll throw Dolly away, Mama,” replies Selena.

Selena is moping around when Mama looks at her sadly. And, once again, Mama can’t push her beloved daughter’s wish away.

“Well, okay. Mama will buy this doll, but you have to throw Dolly away,” says Mama.

Selena blinks her eyes. A big bear in a shop window is on Selena’s hands now.

* * *

The intensity of the sun’s heat burns the people of the town’s head. This afternoon, the sun acts like it will revenge for yesterday it was rain all day long. Dolly walks along the roads of Boneka Town alone. He wipes off his sweat with his green handkerchief. Getting tired, he sits in a leafy park in the center of the town. The sound of water flowing in a small stream and the birds perching on the limb can a little bit comfort Dolly who is so sad.

Boneka Town, that’s how people call this town. It is so called since all of the people in this town are dolls. It is Dolly’s new house. The trash truck brought him here this morning. She was Selena, a blue-eyed girl who threw him away to trash bin. It was her promise to Mama after she got her big bear. It was not totally her wish to throw Dolly away, but she had already promised to Mama. Selena didn’t want to disappoint Mama, so she didn’t break her promise to Mama. For Mama, Dolly was only a worn-out doll which was not suitable to be in Selena’s room any longer. Well, Mama’s opinion was true. Dolly’s appearance is really bad to see. His shirt and his trousers are patched all over. The colors are not beautiful anymore. He had been sewed by Selena in his left cheek. Selena did it since Dolly’s left cheek was biten by Blacky, Selena’s dog.

“Hi!” A girl addresses Dolly, scattering Dolly’s daydream.

Dolly looks at a blonde-hair girl standing in front of him. She smiles to him. She’s so cute.

“I’m Lily,” she says while she extends her right hand. It is full of colorful bracelets.

Dolly and Lily are shaking hands each other.

“I’m Dolly,” says Dolly.

“Nice to meet you, Dolly.”

Dolly smiles.

“May I sit here, please?”

Dolly nods his head.

“Are you a new inhabitant in this town?” asks Lily.

“Yes,” replies Dolly.

“I have stayed here so long, Dolly,” says Lily.

Dolly frowns his forehead. I didn’t ask you, right?

“Ah, I forgot to ask your permission. Would you mind if you listen to my story, Dolly? Maybe my story will a little bit comfort you.”

Dolly doesn’t shake his head, nor nod.

“In the beginning, I didn’t want to be here. I was thrown away in a trash bin by a girl. She was beautiful. She was very very beautiful. She had blue eyes. You know what? Almost all of the girl in her town wanted to have blue eyes. She was so lucky since she had it. She had white skin like her mother. If she smiled, I think that all boys would be enchanted. She was so beautiful.

“In the beginning, she was so kind, but she became annoying day after day. When she got a new doll from her mother, she always threw the old dolls away. And, finally, it was my turn. She threw me away in a smelled-trash bin in front of her house. The next morning, a trash truck came and I finally was here, the Boneka Town.

“But now, I’m happy to be here. I’m thankful since I can find this beautiful place. I feel so comfort in every place in this town. The people are friendly and they are so pleasure. Are you getting confused? You didn’t ask me about my past but I told you so? Well, you don’t have to be confused. The people did the same as what I did just now. It made me happy to be here. I hope that you’ll be happy to be here, too, and we’ll be best friends.”

Lily stops for a while. She drinks a mineral water.

“You know what? Sometimes you have to be able to accept something that you don’t want.”

“How do you know that I’m not happy to be here?”

“Oh, come on! Almost all of the people in this town had ever felt a smelled-trash bin. We were neglected dolls who didn’t like this town in the beginning. But, finally we are happy when we finally realize that our life is here, not anywhere else.”

“Why?”

“It’s so simple and easy question. We can do what we want to do. We are not briedled anymore. We are not tortured by the human being anymore. Our hair is not cut or modified. We also can wear any dress.”

“But, I really love Selena.”

“Selena?”

“Yeah, Selena. You know her?”

“Does she have blue eyes?”

“Yes. She’s so beautiful.”

“Of course I know! She was the girl throwing me away in trash bin.”

“Really?”

“Yeah,” says Lily.

“She also threw my best friends away,” says Lily again.

The cloudy suddenly comes, replacing the bright sunshine.

“I have to go home. It will rain in a minute. Bye!”

Dolly stares at Lily’s back which is disappear in a bend in the road.

“Selena? Did she throw Lily away? Just like what she did to me?

* * *

Selena is awakened at 2 a.m. She is breathing hard. Her sweat pours out. She was dreaming about Dolly. Without thinking any longer, she opens the blanket which covers her body and she goes on tiptoes. She opens the door and walks to the trash bin in front of her house.

“Dolly…Dolly…” She calls Dolly.

She is trying to look for Dolly in the trash bin. Nothing. She begins to cry.

“Dolly, please forgive me. I shouldn’t throw you away. I love you, Dolly…”

 

Dolly

Cerpen Marlin Dwinastiti

“Sayang, bonekamu sudah terlalu banyak,” begitu jawaban Mama setiap kali Selena mulai merengek meminta dibelikan boneka.

“Tapi, Ma. Satu ini saja.” Selena belum ingin menyerah.

“Selena selalu bilang seperti itu, Sayang,” ujar Mama lagi.

“Selena janji, Ma. Sekali ini saja. Selena juga janji… Selena akan membuang Dolly, Ma,” jawab Selena.

Mama melihat iba pada putrinya yang tengah merajuk. Dan, untuk kesekian kalinya, Mama tidak mampu menolak keinginan putri kesayangannya itu.

“Ya sudahlah. Mama akan belikan boneka ini, tapi Selena harus membuang Dolly,” kata Mama akhirnya.

Mata Selena mengerjap-ngerjap. Boneka beruang besar di etalase kaca sebuah toko segera pindah ke kedua tangannya yang mungil.

* * *

Terik matahari membakar ubun-ubun penduduk kota. Siang ini, matahari seolah hendak membalaskan dendamnya. Pasalnya, seharian kemarin hujan mengguyur seluruh kota. Dolly berjalan menyusuri jalanan kota Boneka sendirian. Ia tak henti-hentinya mengusap peluh yang mengalir. Lelah berjalan, ia pun duduk di taman yang cukup rindang di tengah kota. Suara gemericik air mancur dan burung-burung yang hinggap di dahan-dahan pohon sedikit menghibur hati Dolly yang sedang sedih.

Kota Boneka, begitulah orang-orang menyebut kota ini. Disebut begitu karena seluruh penduduk kota ini adalah boneka. Inilah tempat tinggal baru Dolly. Truk sampah membawanya ke sini pagi tadi. Adalah Selena, gadis cantik bermata biru yang tega membuangnya ke tong sampah. Sesuai janjinya pada Mama setelah ia mendapatkan boneka beruangnya. Bukan sepenuhnya keinginan Selena untuk membuang Dolly, tetapi ia terlanjur berjanji pada Mama. Bagi Mama, Dolly hanyalah boneka usang yang tak layak berada di kamar Selena lebih lama lagi. Penampilan Dolly sungguh tidak enak dilihat. Baju dan celananya penuh tambal di sana-sini. Warnanya pun sudah luntur. Belum lagi bekas jahitan di pipi kirinya. Jelek sekali. Selena yang menjahitnya karena pipi Dolly berlubang akibat gigitan Blacky, anjing Selena.

“Hai!” sapa seorang gadis.

Lamunan Dolly buyar. Dilihatnya seorang gadis cantik berambut pirang tengah berdiri di hadapannya. Ia tersenyum, manis sekali.

“Aku Lily,” katanya sambil mengulurkan tangan. Warna-warni gelang memenuhi tangan kanannya.

Dolly ragu-ragu menerima uluran tangan Lily.

“Aku Dolly,” kata Dolly akhirnya.

“Senang bertemu denganmu, Dolly.”

Dolly tersenyum.

“Boleh aku duduk di sini?”

Dolly mengangguk. Lily sudah berpindah tempat di sebelahnya.

“Kau penduduk baru, ya?” tanya Lily.

“Iya,” jawab Dolly.

“Aku sudah cukup lama tinggal di sini, Dolly,” kata Lily.

Dolly mengernyitkan dahi. Aku tidak bertanya, bukan?

“Ah, aku lupa meminta izin darimu. Maukah kau mendengarkan ceritaku, Dolly? Barangkali bisa sedikit menghiburmu.”

Dolly tidak menggeleng, tidak juga mengangguk.

“Awalnya, aku terpaksa tinggal di sini. Aku dibuang di tong sampah oleh seorang gadis. Gadis itu cantik. Sangat cantik. Matanya biru. Kau tahu? Mata biru adalah impian seluruh gadis di kota tempat ia tinggal. Ia sungguh beruntung karena memilikinya. Kulitnya berwarna putih bersih, sama seperti ibunya. Dagunya terbelah. Jika ia tersenyum, kurasa semua lelaki akan terpesona olehnya. Ia sungguh-sungguh cantik.

“Awalnya, ia sangat baik, namun semakin lama ia semakin menyebalkan. Setiap kali mendapatkan boneka baru dari ibunya, ia selalu membuang boneka-boneka lama yang telah usang. Habis manis sepah dibuang. Peribahasa itu mungkin cocok untuknya. Dan, pada akhirnya, tiba giliranku untuk dibuang. Aku dimasukkan ke dalam tong sampah yang bau di depan rumahnya. Pagi harinya, truk sampah datang dan membawaku ke tempat ini, kota Boneka.

“Sekarang, aku tidak terpaksa lagi tinggal di sini. Aku justru sangat bersyukur bisa menemukan tempat seindah ini. Aku merasa damai setiap berada di setiap jengkal kota ini. Penduduknya ramah dan sangat menyenangkan. Kau heran mengapa aku bercerita padamu tentang masa laluku padahal kau tidak memintanya? Tidak usah heran. Aku dulu juga diperlakukan sama seperti ini. Ini yang membuatku betah berada di sini. Kuharap kau juga akan betah di sini dan kita bisa menjadi sahabat baik.”

Lily berhenti sejenak. Ia mengambil botol air minum dari ransel yang dibawanya.

“Kau tahu? Kadang kau harus bisa menerima sesuatu yang tidak kausukai.”

“Bagaimana kau tahu aku tidak suka berada di sini?”

“Ayolah, hampir seluruh penduduk di kota ini pernah merasakan busuknya bau tong sampah. Kami adalah boneka-boneka ‘terbuang’ yang pada mulanya tidak menyukai kota ini. Tapi, kami justru merasa senang ketika pada akhirnya jalan hidup kami digariskan untuk berada di sini.”

“Mengapa?”

“Sederhana saja. Kami bisa melakukan apapun yang kami sukai. Kami tidak lagi dikekang. Kami tidak lagi disiksa gadis-gadis cantik dari kalangan manusia. Rambut kami tidak lagi dipotong ataupun dimodifikasi. Kami pun bisa sesuka hati memakai baju yang kami inginkan.”

“Tapi, aku sangat menyayangi Selena.”

“Selena?”

“Ya, Selena. Kau mengenalnya?”

“Tentu saja! Ia yang telah membuangku ke tong sampah.”

“Sungguh?”

“Iya,” kata Lily lirih.

“Selena juga yang membuang sahabat-sahabat terbaikku,” kata Lily lagi.

Langit yang cerah tiba-tiba mendung.

“Aku harus pulang. Sebentar lagi hujan. Sampai jumpa!”

Dolly menatap punggung Lily yang terus mengecil dan menghilang di tikungan jalan.

“Selena? Benarkah Selena juga membuang Lily? Sama seperti Selena membuangku?”

* * *

Pukul 02.00 Selena terbangun. Napasnya memburu. Keringatnya mengucur deras. Ia bermimpi tentang Dolly. Tanpa berpikir panjang, Selena menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dan berjinjit menuruni anak tangga. Ia membuka pintu dan segera menghampiri tong sampah di depan rumahnya.

“Dolly…Dolly…” panggilnya.

Tangannya terus mencari-cari Dolly di tong sampah. Nihil. Selena terisak.

“Dolly, maafkan Selena. Selena tidak seharusnya membuang Dolly. Selena sayang Dolly…”

ES-PI-I-EL-EL: SPELL!

Foto: Widya. Sebanyak 37 peserta mengikuti Spelling Contest Englishvaganza III.

Foto: Widya. Sebanyak 37 peserta mengikuti Spelling Contest Englishvaganza III.

Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta kembali menggandeng EDSA (HMPS PBI) untuk menyelenggarakan serangkaian kegiatan Englishvaganza III. Dengan mengusung tema Burn Your Energy, Let Your Colors Burst, kegiatan yang telah memasuki tahun ketiga ini resmi dibuka pada Sabtu (13/4) di Hall Kampus II UAD.

Selang seminggu dari opening Englishvaganza III–Sabtu (20/4)-Red, berlangsung Spelling Contest “Break the Limit, Get the Real of You”. Lomba pertama dalam serangkaian kegiatan Englishvaganza III ini diikuti oleh 37 peserta yang seluruhnya adalah mahasiswa/i PBI. FYI, Englishvaganza merupakan kegiatan tahunan yang diadakan khusus untuk mahasiswa/i PBI yang bertujuan untuk meningkatkan potensi akademik dan non akademik mahasiswa/i PBI sekaligus menciptakan atmosfer kompetisi di lingkungan PBI.

Foto: Widya. Salah satu peserta sedang mengeja sebuah kata yang diberikan dewan juri.

Foto: Widya. Salah satu peserta sedang mengeja sebuah kata yang diberikan dewan juri.

Spelling Contest merupakan kegiatan yang mengadaptasi Spelling Bee, sebuah ajang perlombaan mengeja vocabulary (kata-kata dalam bahasa Inggris), yang telah terselenggara di Amerika Serikat dan berbagai negara lainnya.

Foto: Widya. Penonton memadati Hall Kampus II UAD.

Foto: Widya. Penonton memadati Hall Kampus II UAD.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB di Hall Kampus II UAD ini akhirnya dimenangkan oleh Berty Ariesta W. (2010)–tahun sebelumnya menjadi Juara II pada lomba yang sama–, disusul Rini Setiani (2010), dan Zulfi Ramitha Amalia (2011). (Alin)

Segenggam Rindu untuk Sahabat

Pernahkah kau merindukan seseorang yang jelas-jelas ada di depan matamu? Aku pernah.

Pernahkah kau merasa kehilangan seseorang yang jelas-jelas menyapamu ketika bertemu? Aku pernah.

Pernahkah kau merindukan sahabatmu? Tentu pernah.

Namun, pernahkah kau merindukan sahabat yang hampir bisa kautemui setiap hari? Aku pernah.

Pernahkah kau merasa kehilangan sahabatmu? Tentu pernah.

Namun, pernahkah kau merasa kehilangan sahabatmu yang selalu menyapamu ketika bertemu? Aku pernah.

Kapan? Sekarang. Saat ini.

We Were….. We Are…..

Dear Erlin, Hany, Unul, Zuhri…

Aku bersyukur Allah telah menurunkan kalian ke dunia untuk menemaniku.

Mewarnai duniaku yang tak berwarna. Melukis warna-warni pelangi terindah di langit-langit hatiku.

Tertawa hingga menangis. Menertawakan luka, menertawakan kesedihan, menertawakan kebodohan kita sendiri.

Aku rindu saat-saat itu. Saat dimana kita masih memiliki “roh”. Tidak seperti saat ini. Kosong.

Aku rindu tawa itu. Aku rindu canda itu. Aku rindu air mata itu.

Aku merindukan segalanya.

Aku merindukan warna-warni pelangi yang “menguatkan”.

Entah kapan kalian akan menemukan tulisan ini. Mungkin nanti, esok, lusa, atau mungkin berpuluh-puluh tahun kemudian. Aku tidak tahu. Saat ini, yang kutahu pasti, aku merindukan kalian. Merindukan kebersamaan kita yang dulu. Sebelum jarak dan waktu menggilasnya dengan keras.

“Kita tersenyum dalam luka

Menangis dalam tawa

Melewati semua

Takkan pernah aku sesali

Semua yang terjadi

Terlukis di hati….”

 

Sore ini, langit Yogyakarta mendung. Angin berhembus kencang. Dedaunan menari, memamerkan keelokannya. Tirai berayun-ayun. Hujan pun turun.