Konsepsi Dakwah Islam

  • Arti

Dakwah secara bahasa mempunyai makna bermacam-macam:

  1. Memanggil dan menyeru, seperti dalam firman Allah surat Yunus ayat 25 yang berarti, “Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga) dan memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).”
  2. Menegaskan atau membela, baik terhadap yang benar ataupun yang salah, yang positif ataupun yang negatif.
  3. Suatu usaha berupa perkataan ataupun perbuatan untuk menarik seseorang kepada suatu aliran atau agama tertentu.
  4. Doa (permohonan), seperti dalam firman Allah yang artinya, “…. Aku mengabulkan permohonan orang jika ia meminta kepada-Ku….”
  5. Meminta dan mengajak seperti ungkapan, da’a bi as-syai’ yang artinya meminta dihidangkan atau didatangkan makanan atau minuman.

Secara terminologi, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan dan mendefinisikan dakwah, hal ini disebabkan oleh perbedaan mereka dalam memaknai dan memandang kalimat dakwah itu sendiri. Sebagian ulama seperti yang diungkapkan oleh Muhammad Abu al-Futuh dalam kitabnya al-Madkhal ila ‘Ilm ad-Da’wat mengatakan, bahwa dakwah menyampaikan (at-tabligh) dan menerangkan (al-bayan) apa yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagian lagi menganggap dakwah sebagai ilmu dan pembelajaran (ta’lim). Muhammad al-Khaydar Husayn dalam kitabnya ad-Da’wat ila al-Ishlah mengatakan, dakwah adalah mengajak kepada kebaikan dan petunjuk, serta menyuruh kepada kebajikan (ma’ruf) dan melarang kepada kemungkaran agar mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat. Ahmad Ghalwasy dalam kitabnya ad-Da’wat al-Islamiyyat mendefinisikan dakwah sebagai pengetahuan yang dapat memberikan segenap usaha yang bermacam-macam, yang mengacu kepada upaya penyampaian ajaran Islam kepada seluruh manusia yang mencakup akidah, syariat, dan akhlak. Abu Bakar Zakaria, dalam kitabnya, ad-Da’wat ila al-Islam mendefinisikan dakwah sebagai kegiatan para ulama dengan mengajarkan manusia apa yang baik bagi mereka dalam kehidupan dunia dan akhirat menurut kemampuan mereka.

Para ulama sepakat bahwa dakwah adalah suatu kegiatan untuk menyampaikan dan mengajarkan serta mempraktikkan ajaran Islam di dalam kehidupan sehari-hari, seperti yang dikemukakan oleh Muhammad Abu al-Futuh dalam kitabnya al-Madkhal ila ‘Ilm ad-Da’wat, menurut beliau, dakwah adalah menyampaikan dan mengajarkan ajaran Islam kepada seluruh manusia dan mempraktikkannya (thathbiq) dalam realitas kehidupan. Menurut beliau, hakikat dakwah harus mencakup tiga fase pelaksanaan dakwah, yaitu penyampaian, pembentukan, dan pembinaan. Namun ada juga para ulama, seperti Syekh Muhammad atau ar-Rawi yang mendefinisikan dakwah semata-mata dengan landasan moral dan etika, tanpa melihat status sosial, budaya dan agama, karena dakwah Islam menurut beliau adalah dakwah universal yang mencakup semua unsur dalam masyarakat. Beliau mengatakan bahwa, dakwah adalah norma-norma yang sempurna bagi etika kemanusiaan dalam pelaksanaan hak-hak dan kewajiban.

  • Sejarah Dakwah Islam

Sejarah dakwah dapat dibagi menjadi empat periode. Periode pertama, tentang dakwah para Nabi sebelum Nabi Muhammad. Periode kedua, masa Nabi Muhammad dan Khulafa al-Rasyidun. Periode ketiga, masa kekuasaan dinasti Umayyah, Abasiyyah, dan Usmani. Periode keempat, masa modern.

1. Periode Sebelum Nabi Muhammad

Pada periode pertama, semenjak Nabi Nuh hingga Nabi Isa, para ahli sejarah Islam sepakat bahwa mereka merupakan para Da’i utusan Allah yang mengajak kepada ketauhidan (pengesaan Tuhan) serta memerangi kemusyrikan, menyuruh kepada ketaatan, dan mencegah perbuatan maksiat. Hal ini Allah terangkan dalam Qur’an surat an-Nisa’ ayat 163, yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudian, dan Kami telah memberi wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’kub dan anak-anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.”

Dan dalam surat an-Nahl ayat 36, yang artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat. “Sembahlah Allah dan jauhilah Thagut itu.”, maka di antara umat-umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul).”

Dakwah para nabi pada periode ini lebih bersifat lokal, di mana para nabi diutus hanya kepada kaum tertentu, sesuai dengan kebutuhan dan kecenderungan masing-masing kaum. Dalam menjalankan dakwah, para nabi dibekali dengan kemampuan luar biasa yang disebut dengan mu’jizat sebagai legitimasi kebenaran yang mereka bawa. Al-Qur’an juga menjelaskan tentang perjalanan dan metode dakwah mereka, di samping kendala dan cobaan-cobaan yang dihadapi, serta kesabaran dan istiqamah mereka dalam menghadapi kaumnya.

Para rasul telah berdakwah dan menyeru manusia untuk mengesakan (menauhidkan) Allah dan melarang mereka dari menyekutukan-Nya. Para nabi telah menjelaskan hakikat tauhid itu dengan metode dan cara yang beraneka ragam, antara lain dengan memerhatikan ayat-ayat kauniyat (tanda-tanda kekuasaan Allah yang berkaitan dengan alam fisik), mengingatkan manusia akan nikmat dan karunia Allah, menjelaskan sifat-sifat kesempurnaan yang ada pada-Nya dengan argumen-argumen yang logis, dengan membuat permisalan-permisalan atau dengan merenungi diri manusia itu sendiri dan cakrawala alam semesta.

Dengan kata-kata yang bijaksana dan argumen yang benar itulah para rasul menyampaikan dakwah kepada kaumnya. Tidak ada yang berbeda antara utusan yang satu dengan yang lain. Mereka meyakinkan risalah dan kerasulannya dengan menampakkan sikap jujur, karena setiap nabi dan rasul memiliki sifat itu.

Sebagaimana seorang nabi menampakkan kepada kaumnya sebagian mu’jizat dari sisi Tuhan untuk menguatkan kebenaran risalahnya, ia juga mendatangkan berbagai bukti dan argumen yang lain. Apa yang dibawa berupa kebenaran itu diturunkan dari sisi Allah SWT. dengan cara yang bijak, argumen yang mantap, dan bukti yang nyata, agar benar-benar bisa diterima dengan lapang dada oleh Mad’u (objek dakwah) dan bukan karena paksaan. Jika mereka telah beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan dalil-dalil naqli dan aqli (wahyu dan logika), dan ketika keimanan itu telah meresap di hati mereka, maka para rasul kemudian mengajak mereka untuk beriman kepada hari dibangkitkannya manusia dari kubur. Karena hal itu termasuk masalah gaib yang tidak mungkin dicapai oleh akal kecuali setelah beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Iman pada rasul-rasul Allah mengandung konsekuensi beriman terhadap apa yang mereka bawa. Dan di antara yang terpenting dari yang mereka bawa adalah mengajak untuk beriman kepada hari ba’ts (kebangkitan), hisab serta pembalasan. Oleh karena itu, mengingkari adanya hari ba’ts sama dengan mengingkari apa yang dibawa oleh para rasul.

2. Periode Nabi Muhammad dan Khulafa al-Rasyidun

Sejarah dakwah Nabi Muhammad dapat dibagi menjadi dua fase, fase Mekkah dan fase Madinah. Fase Mekkah dimulai semenjak Rasulullah menerima wahyu pertama di gua Hira, dan dimulai dari kalangan tertentu dari keluarga, saudara, dan kerabat terdekat beliau, seperti Khadijat, Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Haritsat, kemudian diikuti oleh beberapa sahabat lainnya, seperti Utsman bin ‘Affan, Zubair bin al-‘Awam, ‘Abd al-Rahman bin ‘Auf, dan lain-lain.

Setelah tiga tahun lamanya Nabi Muhammad berdakwah dengan sembunyi-sembunyi (dakwat bi al-sir), maka Allah menurunkan perintah kepada beliau untuk berdakwah dengan terang-terangan (dakwat bi al-jahr) dan memperluas jangkauan dakwah. Dakwah ini mendapat tantangan yang sangat keras terutama dari pamannya, Abu Lahab, dan orang-orang Quraisy. Namun penghinaan dan siksaan yang dilancarkan oleh orang-orang Quraisy tidak mampu menghentikan langkah Nabi Muhammad dan para pengikutnya.

Pada fase ini, Nabi Muhammad melakukan beberapa langkah yang dianggap sangat penting untuk kelanjutan dakwah Islam, di antaranya adalah konsentrasi beliau terhadap pendidikan dan penyucian diri bagi mereka yang menerima Islam (memeluk Islam) dengan jalan pembelajaran dan penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari serta memperdalam arti solidaritas antar sesama muslim.

Sedangkan fase Madinah dimulai ketika Nabi Muhammad menerima wahyu untuk berhijrah ke Madinah pada saat orang-orang Quraisy merencanakan pembunuhan terhadap Nabi Muhammad dan para pengikutnya. Fase Madinah merupakan lembaran sejarah baru bagi nabi dan para pengikutnya dengan semakin kuat dan bertambahnya umat Islam, baik secara kuantitas maupun kualitas.

Pada fase ini, Rasulullah masih tetap berkonsentrasi untuk menyampaikan dakwah atau risalah Islam dengan jalan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an, mengajarkan makna-makna Al-Qur’an dan hukum-hukumnya, mendirikan masjid sebagai pusat kegiatan umat Islam, mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dan Anshar, menegakkan hukum-hukum syariat, dan lain-lain.

Setelah wafatnya Nabi Muhammad, dakwah diteruskan oleh Abu Bakar yang menjabat selama dua tahun tiga bulan delapan hari, kemudian Umar bin Khattab yang menjabat selama sepuluh tahun enam setengah bulan, kemudian dilanjutkan oleh Utsman bin Affan yang menjabat selama dua belas tahun, kemudian Utsman digantikan oleh Ali bin Abi Thalib yang menjabat selama lima tahun. Jadi, masa Khulafa al-Rasyidun seperti yang diungkapkan oleh al-Suyuthi berlanjut selama 30 tahun, yaitu dari semenjak wafatnya Rasulullah pada tahun kesepuluh Hijrah hingga terbunuhnya Ali bin Abi Thalib pada tahun keempat puluh Hijrah.

Pada masa ini, aktivitas dakwah secara intern dilaksanakan dengan khotbah dan diskusi-diskusi keagamaan, baik antarpara sahabat ataupun dengan mereka yang baru memeluk Islam (Muallaf). Secara ekstern, dakwah semakin menggeliat dengan semakin luasnya daerah-daerah yang dikuasai oleh umat muslim terutama pada masa khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan, sedangkan pada masa Ali bin Abi Thalib laju dakwah agak tertahan karena menghadapi gejolak politik yang terjadi antara beliau dengan A’isyah dan pendukungnya, serta dengan Mu’awiyah yang banyak memakan korban.

Pada masa Abu Bakar terjadi peperangan melawan orang-orang murtad dan orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat, serta memerangi Musailamat al-Kazzab (seseorang yang mengaku nabi). Pada masa ini juga Al-Qur’an untuk pertama kali dikumpulkan sebagai reaksi dan ketakutan Abu Bakar dengan meninggalnya sebagian besar para sahabat yang hafal Al-Qur’an dalam peperangan.

Pada masa Umar bin Khattab banyak daerah yang dapat ditaklukkan, di antaranya Damaskus, Azerbijan, al-Ahwaz, Palestina (Bait al-Maqdis), dan lain-lain. Umar juga adalah khalifah pertama kali yang mengumpulkan umat muslim untuk shalat Tarawih berjamaah.

Secara umum, dakwah pada masa ini semakin bergairah, baik berupa gerakan-gerakan keilmuwan ataupun pendidikan dan pembelajaran. Pada periode ini Al-Qur’an dikumpulkan untuk pertama kali pada masa Abu Bakar dan kemudian pada masa Utsman bin Affan. Gerakan dakwah juga semakin luas dengan banyaknya daerah yang telah dikuasai oleh umat Islam dan berbondong-bondongnya orang yang ingin memeluk Islam dan menjadikannya sebagai pedoman hidup, karena mereka melihat kebaikan di dalamnya.

3. Periode Umayyah, ‘Abasiyyah, dan Utsmani

Periode ketiga adalah masa Dinasti Umayyah, ‘Abasiyyah, dan Utsmani. Periode ini dimulai dengan berdirinya Dinasti Bani Umayyah oleh Mu’awiyah bin Abi Shafyan pada tahun keempat puluh Hijriyah hingga runtuhnya kekuasaan Dinasti Utsmani pada tahun 1343 H/ 1924 M.

Pada periode ini dakwah Islam semakin luas dengan semakin banyaknya daerah yang dapat ditaklukkan, seperti Asia Kecil, Romawi, Afrika Utara, Andalusia, dan lain-lain. Pada masa ini para ulama ahli fiqh, tafsir, dan hadis dikirim ke daerah-daerah yang telah ditaklukkan untuk menyebarkan dan menjelaskan agama Islam dan ajaran-ajarannya untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga dibangun perpustakaan dan pusat-pusat ilmu pengetahuan yang tersebar di berbagai tempat, seperti Mesir, Baghdad, dan Iran. Pada periode ini, ilmu-ilmu keislaman, seperti filsafat, teologi, hukum-hukum Islam, dan mistik berkembang dengan pesat. Dalam bidang filsafat dikenal al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina. Dalam bidang teologi dikenal Imam Hasan al-Asy’ari, al-Ghazali, dan lain-lain. Dalam bidang hukum Islam dikenal Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ibn Hambal.

4. Periode Zaman Modern

Sejarah dakwah adalah suatu proses yang mencakup segala aspek kehidupan umat Islam lintas sosial, kultural, dan geografis. Pada periode ini sebagian sejarawan mengkaji sejarah dakwah berkaitan dengan aspek individu (Da’i), seperti sejarah dakwah Hasan al-Banna, al-Maududi dan lain-lain, sebagian lagi mengkaji sejarah dakwah dari aspek pergerakan, seperti pergerakan Ikhwan al-Muslimun di Mesir, ada juga yang mengkaji sejarah dakwah dari aspek geografis, seperti sejarah dakwah di Mesir, Indonesia, Afrika, dan lain-lain. Oleh karena itu, membahas tentang sejarah dakwah Islam zaman modern merupakan bahasan yang sangat luas sehingga tidak memungkinkan untuk melihatnya secara utuh.

Namun secara garis besar, proses dakwah pada periode ini baik yang berupa penyampaian (tablig) dan penyebaran Islam serta kegiatan belajar mengajar masih tetap berjalan, walaupun proses dakwah mendapat tantangan dan rintangan, apalagi setelah runtuhnya Dinasti Utsmani yang merupakan simbol kekuatan Islam dan terbagi-baginya daerah yang masuk ke dalam kedaulatan Islam menjadi daerah-daerah kecil yang dikuasai oleh imperialis (penjajah).

Pergerakan dakwah pada periode ini juga mengambil bentuk yang bermacam-macam, ada yang berdakwah secara personal, ada juga yang bergerak secara berkelompok yang kemudian mengambil bentuk pergerakan dakwah berupa institut formal dan nonformal dalam bentuk pergerakan politik, pemikiran dan sosial dengan menerapkan metode-metode yang sesuai dengan pergerakan masing-masing serta sarana-sarana dan prasarana yang berbeda.

  • Hukum

Hukumnya, telah ditunjukkan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah tentang wajibnya berdakwah mengajak menusia ke jalan Allah SWT. yaitu bahwa berdakwah termasuk kewajiban. Dalilnya sangat banyak, di antaranya, firman Allah SWT., “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (An-Nahl: 125)

“Dan serulah mereka ke (jalan) Rabb-mu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb.” (Al-Qashash: 87)

“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (Yusuf: 108)

Allah SWT. menjelaskan, bahwa para pengikut Rasulullah SAW adalah para Da’i dan para pemilik ilmu yang mapan. Dan yang wajib sebagaimana diketahui, adalah mengikutinya dan menempuh cara yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, sebagaimana firman Allah SWT.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Para ulama menjelaskan, bahwa mengajak manusia ke jalan Allah SWT. hukumnya fardhu kifayah di negeri-negeri atau wilayah-wilayah yang sudah ada para Da’i-nya yang melaksanakannya. Jadi, setiap negeri dan setiap wilayah memerlukan dakwah dan aktivitasnya, maka hukumnya fardhu kifayah jika telah ada orang yang mencukupi pelaksanaannya sehingga menggugurkan kewajiban ini terhadap yang lainnya dan hanya berhukum sunnah muakkadah dan sebagai suatu amalan yang agung.

Jika di suatu negeri atau suatu wilayah tertentu tidak ada yang melaksanakan dakwah dengan sempurna, semuanya berdosa, dan wajib atas semuanya, yaitu atas setiap orang untuk melaksanakan dakwah sesuai dengan kesanggupan dan kemampuannya. Adapun secara nasional, wajib adanya segolongan yang konsisten melaksanakan dakwah di seluruh penjuru negeri dengan menyampaikan risalah-risalah Allah dan menjelaskan perintah-perintah Allah SWT. dengan berbagai cara yang bisa dilakukan, karena Rasulullah SAW pun mengutus para Da’i dan berkirim surat kepada para pembesar dan para raja untuk mengajak mereka ke jalan Allah SWT.

  • Hakikat dan Aplikasi Dakwah

1. Hakikat Dakwah

Dakwah bukan hanya bunyi kata-kata, tetapi ajakan psikologis yang bersumber dari jiwa Da’i. Hakikat dakwah bisa dilihat dari sang Da’i, bisa juga dari makna yang dipersepsi oleh masyarakat yang menerima dakwah.

a. Dakwah sebagai tablig.

Tablig artinya menyampaikan, orangnya disebut mubalig. Dakwah sebagai tablig wujudnya adalah mubalig menyampaikan materi dakwah (ceramah) kepada masyarakat. Materi dakwah bisa berupa keterangan, informasi, ajaran, seruan, atau gagasan. Tablig biasanya dilakukan dari atas mimbar, baik di masjid, di majelis taklim, atau di tempat lain. Pusat perhatian tablig adalah pada menyampaikan, illa al balagh, setelah itu bagaimana respons masyarakat sudah tidak lagi menjadi tanggung jawab mubalig. Bagi masyarakat, tablig yang tidak jelas hanya bermakna bunyi-bunyian, tablig berupa informasi akan menghasilkan pengertian, tablig berupa renungan bisa menjadi penghayatan, dan dakwah berupa gagasan bisa menggelitik masyarakat untuk terus berpikir. Kekuatan tablig adalah jika sang mubalig benar-benar menjadi fa’il (subjek), menjadi pelaku yang merasa terpanggil tanggung jawabnya untuk melakukan tablig.

b. Dakwah sebagai ajakan.

Orang akan tertarik kepada ajakan jika tujuannya menarik. Oleh karena itu, Da’i harus bisa merumuskan tujuan ke mana masyarakat akan diajak. Ada dua tujuan, makro dan mikro. Tujuan makro cukup jelas, yaitu mengajak manusia kepada kebahagiaan dunia akhirat. Da’i dan mubalig pada umumnya tidak pandai merumuskan tujuan mikro, tujuan jangka pendek yang mudah terjangkau, yang menarik hati masyarakatnya.

c. Dakwah sebagai pekerjaan menanam.

Berdakwah juga mengandung arti mendidik manusia agar mereka bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai Islam. Mendidik adalah pekerjaan menanamkan nilai-nilai ke dalam jiwa manusia. Nilai-nilai yang ditanam dalam dakwah adalah keimanan, kejujuran, keadilan, kedisiplinan, kasih sayang, rendah hati, dan nilai akhlak mulia lainnya. Guru di sekolah (dan lembaga pendidikannya) adalah Da’i yang berdakwah berupa menanam. Guru yang Da’i adalah guru yang sudah bisa menjadi pendidik, bukan guru yang sekadar menjadi pengajar. Pengajar hanya mentransfer pengetahuan, sedangkan pendidik mentransfer pola tingkah laku atau kebudayaan.

d. Dakwah berupa akulturasi nilai.

Dakwahnya Wali Songo di Pulau Jawa merupakan contoh konkret dakwah akulturasi budaya. Para wali tidak mengubah bentuk-bentuk tradisi masyarakat Jawa, tetapi mengganti isinya. Tradisi selamatan tiga hari, tujuh hari, seratus hari, dulunya adalah tradisi masyarakat Jawa jika ada keluarganya yang meninggal dunia. Dalam acara itu diisi dengan begadang, makan, judi, dan minuman keras. Oleh para wali, bentuknya dipertahankan, makannya dipertahankan tetapi yang maksiat diganti dengan hal-hal yang islami, yakni membaca kalimat-kalimat tahlil. Makanannya pun diganti berupa nasi tumpeng yang melambangkan tauhid, dan setiap orang pulang dari tahlilan dengan membawa brekat (berkah). Dengan akulturasi budaya, orang Jawa tanpa disadari kemudian telah menjadi Islam. Kelemahannya, sinkritisme tidak bisa dihindari.

e. Dakwah berupa pekerjaan membangun.

Secara makro, dakwah juga bermakna membangun. Sebagaimana dicontohkan dalam sejarah, dakwah juga bisa dimaksud untuk membangun tata dunia Islam (daulah Islamiyah).

2. Aplikasi Dakwah

Ketiga metode dakwah (hikmah, mau’izah hasanah, dan mujadalah billati hiya ahsan) dapat diaplikasikan dalam berbagai pendekatan, diantaranya dengan pendekatan personal, pendidikan, diskusi, penawaran, dan pendekatan misi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 Faizah. Lalu Muchsin Effendi. Psikologi Dakwah. 2009. Jakarta: Rahmat Semesta.

Sumber Elektronik:

http://andiriyanto.wordpress.com/2010/04/02/hukum-hukum-dakwah/ (Diambil pada Senin, 1 April 2013 pukul 15.25 WIB.)

http://mutiara-sabar.blogspot.com/2012/04/hakikat-dakwah.html (Diambil pada Senin, 1 April 2013 pukul 19.19 WIB.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s