Bawel, Kapan Kau Akan Diam?

2 April 2013

Welcome to my ‘nice’ Tuesday!

Lagi dan lagi. Aku harus bertemu dengan hari Selasa yang “sangat menyenangkan”! Mengapa perlu ada tanda kutip di kata “sangat menyenangkan”? Karena bukan makna yang sebenarnya tentu saja😀

Selasa. Kuliah Applied Linguistics dengan Bapak Drs. Surono, M.Hum. pukul 10.30 di ruang 309 (lantai 3), kemudian pukul 12.30 English for Tourism dengan Bapak Drs. H. Japen Sarage, M.A. di ruang 102 (lantai 1), then Literary Appreciation and Criticism di lantai 402 (lantai 4) dengan Bapak Raden Muhammad Ali, S.S., M.Pd. pukul 14.15 dan terakhir pukul 16.10 ada kelas Sertifikasi IV di ruang 402 lagi (lantai 4 lagi) bersama Bapak Dwi Santosa Pambudi, S.H.I., M.S.I.

Silakan bayangkan betapa crowded-nya aku setiap hari Selasa datang! Belum lagi ditambah tugas yang menuntut dikumpulkan hari itu juga. Serasa disambar petir di siang bolong!

Lagi dan lagi. Aku mengalami terrible Tuesday yang membuatku susah bernafas.

Hari ini, aku dan Mba Nov mendapat jatah presentasi tentang Language Interference di kelas Applied Linguistics.

Pukul 09.00.

Aku sampai di Ruang Jurnalis bersama Mba Nisa dan Mas Handung. Mulailah aku beraksi……….meledek Mas Handung! Lho? Jangan heran! Aku balas dendam! Tidak terima atas perlakuannya kemarin! Hah? Perlakuan apa? Dia menggangguku saat aku mengerjakan tugas Sertifikasi IV! (Jegeeeeeeeeerrr!!!)

Kemarin aku bilang, “Awas ya, Mas Handung! Jangan sampai Mas Handung ngerjain skripsi di depanku! Tunggu pembalasanku!” (tertawa jahat).

Mas Handung senyum-senyum nggak jelas!

Akhirnya hari ini kubalaskan dendamku padanya. Aku mengganggu Mas Handung yang sedang merevisi skripsi-nya–padahal tugasku belum selesai! ‘Kan sambil menunggu Mba Nov😀 (Alibi!)

Tak lama kemudian, Mba Nov tiba di Ruang Jurnalis (tet teret tereeeeeeeeettt!!!) untuk mengerjakan makalah dan power point yang akan kami presentasikan pukul 10.30. Last minute lagi! Belum kapok juga ternyata berkawan dengan last minute yang punya sepupu bernama the power of ‘kepepet’!😛

Kami hanya menyempurnakan makalah kami yang baru 80% jadi sekaligus mempelajari materi yang akan kami presentasikan. Mulailah Mba Nov (yang berkontribusi sangat banyak dalam membuat makalah ini) melengkapi makalah kami dan aku membuat power point yang entah mengapa hanya ada 4 slide. Aku benar-benar menganut asas point dalam kata power point. Benar-benar poin-poinnya saja yang kumasukkan di dalamnya. Astaghfirullah…. (Ampun, Mba Nov!)😀

Pukul 10.30.

Aku mulai panik. Mba Nov masih tenang (dari luar tampak tenang, entah di dalamnya seperti apa). Mba Nov masih sibuk c’tak-c’tok mengetik sana-sini, aku sudah mulai kelimpungan. Aku yang sejak bersama Mas Handung dan Mba Nisa tidak bisa diam mulai gelisah. Mba Nov masih sangaaaaaaaaattt tenang!

Berawal dari pukul 10.35, rasa panikku sudah di atas ubun-ubun.

Pukul 10.43.

Zuhri mengirim SMS mengatakan Pak Surono sudah di kelas–sedangkan aku masih di fotokopian Juwita di depan kampus. Aduh! Panik, aku salah mengatur printer yang harus digunakan, (agak) diomeli pemilik fotokopinya, lapar, haus, kering kerontang, kurus, lengkap sudaaaaaaaaahhh!!!

Pukul 10.46.

Zuhri mengirim SMS lagi. Kali ini dia berkata, “Udah dpanggil neh ama bpak’y.

Aduh, aduh, aduh! Gugup tingkat Nasional! Segera saja setelah lembaran fotokopian di-staples, aku berlari ke lantai 3 daaaaaaaaannn………

PRESENTASI!

Pukul 12.06.

“Aduh, lapar, haus. Bapaknya lama banget euy!” kataku pada Mba Nov yang duduk di sampingku.

Mba Nov nyengir.

Pukul 12.16.

“Ya, kita akhiri perkuliahan kita pada hari ini dengan membaca hamdalah. Alhamdulillah….,” tutup Pak Surono.

Alhamdulillah….,” sahutku. Segera.

“Lin, mau makan?” tanya Mba Nov.

“Iya, Mba. Dimana?”

“Di tempat ibu’ aja, ya.”

“Ya,” jawabku.

“Mba mau langsung pulang?”

“Iya. Kamu bareng aku ya, kita ambil motor dulu di basement.”

“Ya,” jawabku lagi, menurut saja apa maunya.

Kami pun turun ke basement. Saat keluar dari basement….

“Luthfi! Amel!” teriakku pada kedua teman sekelasku.

Astaghfirullah….” Luthfi terlihat sangat shocked karena ia tengah “memijat-mijat” smartphone. Sedangkan Amel cengar-cengir.

Hehehe…”

“Lin, tahu nggak kenapa kamu lapar dan haus?”

Enggak, emang kenapa?

“Mulutnya nggak bisa diem.”

Krik-krik-krik.

“Dari tadi pagi jam 09.00 kamu nggak diem-diem lho, kalau aku lapar dan haus, aku diem. Tapi kamu nggak kayak orang kelaparan dan kehausan.”

Nggg….” (Berjuta alibi keluar.)

Intinya, “Bawel, kapan kau akan diam?”

2 thoughts on “Bawel, Kapan Kau Akan Diam?

  1. Hahaha.. Luuccuuu ceritanya mbak e, btw, msih punya buku ato catatan2 ato softfile dri pak surono tuk mata kuliah Applied ling ?
    Aq ikut IS bliau tuk mta kuliah tu, dsuruh cari materi dri yg dah ikut kelas bliau. Saya mo copy catatan n softfile na. Lo’ msih ada tlong sya diberitahu ya coz hari senin besok dah harus ujian ma beliau. Trim’s..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s