Hujan Sore Ini…

Cerpen Marlin Dwinastiti

Sore ini, masih sama seperti sore-sore sebelumnya. Mahasiswa-mahasiswi memadati area parkir kampus. Sebagian hendak masuk, sebagian lagi hendak keluar. Deru suara motor ditambah obrolan khas ketika bertemu teman turut menyemarakkan sore ini. Belum lagi peluit satpam kampus yang menjerit-jerit mencoba merapikan area parkir yang sempit. Mereka yang berhasil memarkir motor segera berlari-lari kecil masuk kelas, melewati Airin yang tengah duduk sendirian. Mengabaikan wajah kusut Airin. Beberapa yang mengenalnya berhenti sejenak untuk menyapa. Dan, Airin mau tidak mau harus tersenyum—menyembunyikan kesedihan. Sial! Airin tidak cukup pandai melakukannya.

Tidak apa-apa, jawabnya setiap kali mereka bertanya.

Sore ini, masih sama seperti sore-sore sebelumnya. Sore di awal musim hujan tahun ini. Lagi-lagi langit Yogyakarta mendung. Hujan akan segera turun. Airin menghela napas. Wajahnya tertunduk. Matanya berkaca-kaca. Wajah yang selalu meneduhkannya, beberapa menit yang lalu telah mengecewakannya lagi. Dan, sekali lagi, punggungnya telah menghilang dari pandangan mata Airin. Meninggalkan Airin sendirian.

Tidak bisakah kauluangkan sedikit waktu untukku? Sekali ini saja…, keluhnya dalam hati. Keluhan yang sama selama beberapa bulan terakhir. Keluhan yang selalu membawanya pada kenangan masa lalu.

* * *

“Ya, ayo bermain scrabble!”

“Ayo! Siapa lagi? Kurang satu orang!”

“Coba ajak dia!”

Arya mengikuti arah telunjuk Rian.

“Kau bisa bermain scrabble?”

Airin yang sedang khusyuk membaca buku mendongak, memastikan pertanyaan itu untuknya. Arya menatapnya, menunggu pertanyaannya mendapat jawaban.

Sambil tersenyum, Airin menggeleng sopan. Arya membalas senyumnya dan berbalik meninggalkan Airin.

* * *

Airin, Arya, Rian.

Entah bagaimana awalnya ketiga anak muda ini bisa menjadi sahabat baik. Tiga serangkai. Kemana-mana bersama. Semuanya baik-baik saja hingga suatu ketika Arya memilih “seseorang”-nya. Kabar buruk bagi Airin dan Rian. Arya hampir tidak pernah bisa meluangkan waktunya untuk mereka lagi.

“Lihat, Arya terlalu sibuk dengan seseorang-nya, bukan?” keluh Airin.

“Tidak, Rin. Dia hanya memilih dunia barunya dan dia tidak ingin melibatkan kita di dalamnya. Boleh-boleh saja, ‘kan?” timpal Rian, mencoba membela Arya.

“Tentu saja boleh! Tapi, tentu tidak seperti ini, ‘kan? Siapa seseorang itu? Orang baru, bukan? Lantas mengapa dia dengan mudahnya meninggalkan kita?”

“Kau cemburu?” gurau Rian.

“Iya! Aku cemburu! Arya tidak bisa meluangkan waktunya untuk kita lagi,” balas Airin. Sorot matanya menajam.

Rian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menyesal. Percuma bergurau pada Airin yang sedang kesal.

* * *

“Hari ini ada waktu?”

“Ada apa?” Arya balik bertanya.

“Boleh minta waktumu sebentar? Untuk merayakan … kau pasti tahu,” jawab Airin. Matanya berbinar-binar penuh harap.

“Ulang tahunmu?”

Airin mengangguk.

“Siapa saja?” tanya Arya lagi.

“Seperti biasa. Aku, kau, Rian.”

Hening. Tujuh menit berlalu tanpa ada suara.

“Kurasa tidak,” sahut Arya akhirnya. Singkat, padat, dan sangat jelas. Meredupkan sinar mata Airin dalam sekejap.

Sore ini, masih sama seperti sore-sore sebelumnya.

* * *

Rindu? Jelas! Siapa yang tidak merindukan sahabat yang selalu ada untuknya? Siapa yang tidak merindukan perhatian-perhatian kecilnya yang berarti besar? Airin pun rindu. Ingin sekali bertemu, tertawa, menangis, bersama sahabat yang dicintainya. Seperti dulu. Saat “seseorang” itu belum “mengambil” Arya-nya.

Airin sadar, ada yang berbeda. Sebongkah perasaan yang enggan dia sebut cinta telah bercokol di hatinya. Entah sejak kapan, dia tidak tahu. Berulang kali dia mencoba menepisnya, tapi perasaan itu justru semakin kuat. Airin tak ingin menghancurkan persahabatan mereka hanya karena perasaan bodohnya itu. Terlebih, Arya telah memilih seseorang yang lain, bukan dirinya.

* * *

Angin sore memainkan kerudung biru muda yang dikenakan Airin. Dia cukup lega sekarang, tidak perlu lagi memaksa bibirnya tersenyum pada setiap orang yang dikenalnya. Tidak perlu memedulikan berpasang-pasang mata yang menatapnya bak pesakitan. Koridor kampus terlihat lengang, perkuliahan sore ini telah dimulai sejak empat puluh menit yang lalu.

Terdengar langkah kaki seseorang menaiki anak tangga. Airin hafal betul suara itu.

Untuk apa dia kesini? Kuliah? Tidak mungkin.

Airin menggigit bibirnya. Air mata telah berkumpul di pelupuk matanya. Dalam hitungan detik, kumpulan air mata itu akan tumpah membasahi pipinya. Terlambat.

“Ada apa?” tanya Rian.

Airin menggeleng.

“Arya?” tanyanya hati-hati.

Airin tidak menjawab. Rian tidak bertanya lagi. Dia membiarkan Airin menyeka air matanya yang enggan berhenti mengalir. Lima belas menit berlalu, Airin tetap tidak bersuara. Rian pun tidak berniat membujuknya untuk mengatakan apa yang terjadi. Dua tahun. Dua tahun Rian mengenal Airin. Waktu yang cukup bagi Rian untuk memahami Airin. Airin yang cerewet. Airin yang suka heboh sendiri. Airin yang berisik. Airin yang tidak cukup pandai menyembunyikan kegundahan hatinya. Airin yang begini, Airin yang begitu. Nanti, ketika Airin merasa cukup siap untuk bercerita, tak seorang pun mampu menghentikannya. Dan, tugas Rian cukup menjadi pendengar yang baik. Sesederhana itu.

“Ada tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun dan seseorang pasti memiliki setidaknya satu hari istimewa dalam hidupnya.” Sembilan menit berlalu lagi, Airin tiba-tiba bersuara.

Gerakan jemari Rian yang tengah memainkan ponsel terhenti. Ditolehnya Airin yang ada di sebelah kirinya. Yang ditoleh tidak peduli. Pandangannya tetap lurus ke depan, seolah-olah Rian ada di hadapannya.

“Jadi, mengapa orang lain suka “menjatuhkan” seseorang di hari istimewanya?” Jari telunjuk dan jari tengah di kedua tangan Airin tak lupa membentuk tanda kutip ketika menyebut kata menjatuhkan.

“Bukankah masih ada tiga ratus enam puluh empat hari yang lain untuk melakukan itu? Mengapa orang lain suka membuat seseorang sedih bahkan kecewa di hari yang dia tunggu-tunggu?” lanjutnya.

Rian masih menunggu. Menunggu Airin melontarkan pertanyaan yang sama.

“Ada apa? Mengapa semuanya kini berbeda? Apa salahku?”

Nah!

Air mata Airin mengalir lagi. Rian menatapnya prihatin. Tidak tega. Ini bukan kali pertama dia melihat Airin menangis karena Arya. Untuk kesekian kalinya, Airin menanyakan hal yang sama dan Rian tidak pernah bisa menjawab pertanyaannya.

Maafkan aku, Rin. Aku tidak memiliki jawaban dari pertanyaan-pertanyaanmu. Hanya Arya-mu yang bisa menjawabnya, kata Rian dalam hati.

* * *

Hujan sore ini.

Sore ini, masih sama seperti sore-sore sebelumnya. Hujan membasahi tanah. Aroma tanah yang basah menyeruak, memaksa masuk kamar Airin melalui ventilasi udara. Menelusup hidung kecil Airin. Wangi.

Sore ini, masih sama seperti sore-sore sebelumnya. Tangan Airin menyentuh lembut jendela kamarnya yang lembap. Dingin. Bibirnya mengulum senyum. Manis sekali, ditambah lesung pipit yang agak samar di pipi kanannya.

Hujan, kau selalu tahu kapan kau harus datang, bisiknya.

Sore ini, masih sama seperti sore-sore sebelumnya. Ditemani hujan, Airin kembali mengenang Arya. Pertemuan pertamanya dengan Arya, kebersamaannya dengan Arya, hingga Arya yang sering mengecewakannya, seperti sore ini. Tentang Arya yang begini, tentang Arya yang begitu. Segalanya tentang Arya. Tentang dia yang entah mengapa selalu bisa memaafkan Arya. Tentang dia yang entah mengapa selalu bisa memaklumi Arya. Tentang dia yang menginginkan Arya untuk menjadi lebih dari sekadar sahabatnya.

Sore ini, masih sama seperti sore-sore sebelumnya. Masih sama seperti puluhan sore yang dilaluinya bersama hujan. Sekilas, tak ada bedanya dengan sore-sore yang telah berlalu.

Namun, sore ini berbeda. Tak pernah sama dengan sore-sore yang pernah ada.

Sore ini, ketika hujan tak bosan-bosannya memukuli tanah, ketika mendung menghentikan langkah bulan dan bintang yang hendak berlabuh, ketika petir sesekali memamerkan kilatan cahaya yang dimilikinya, Airin mengambil keputusan yang berani. Keputusan yang bahkan dia sendiri tak tahu apakah dia mampu melakukannya atau tidak. Keputusan yang dia yakini akan mengubah kehidupannya esok, lusa, dan seterusnya. Keputusan yang akan menyakiti hatinya—dan membingungkan Arya. Meski demikian, tekad Airin sudah bulat. Terlalu bulat malah. Dia akan melakukannya.

Harus, tidak boleh tidak, katanya dalam hati—meyakinkan dirinya sendiri.

“Arya, kuharap jarak dan waktu berhasil mengingatkanmu tentang aku. Semoga keduanya juga bisa meyakinkanku tentang perasaan ini—akan semakin kuat, atau justru memudar.”

Suara merdu Taylor Swift mengalun lembut dari radio kesayangannya, turut mengiringi keputusannya sore ini.

“I miss your tan skin

Your sweet smile

So good to me, so right

And how you held me in your arms that September night

The first time you ever saw me cry…”

Hujan pun reda. Akhirnya.

4 thoughts on “Hujan Sore Ini…

  1. *clap hand*

    good,, ini cuma tugas? syang.. klu bisa pnjang lagi mpe 100 halaman minimal. mau aq rekomen ke penerbit.

    ^^ gaya bahasanya enak. dari sekian bnyak penulis yang aq baca bukunya. ini bisa masuk kategori bintang 3 dari 5. mau g??
    ayo bikin tah… *support*

    HWAITING SAENG!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s