Do What I Love, Love What I Do

Tentang passion. Sudah seharusnya seseorang mengejar passion-nya, menuruti kata hatinya. Namun, kehidupan tak selalu memberi banyak pilihan. Ada kalanya seseorang harus mengalah, menerima kenyataan bahwa passion-nya tidak (atau lebih tepatnya belum) tercapai. Melapangkan dada, meluaskan hati, mengikhlaskan diri ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Seperti……… aku!

Ya, aku. Saat ini, aku tak punya banyak pilihan selain menjalani apa yang telah ada di depan mataku. Menuruti keinginan Bapak. Melanjutkan pendidikan tinggiku di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Kelak akan menjadi seorang guru, begitu prediksi banyak orang. Aku tersenyum. Kuliah di fakultas ini bukan berarti harus menjadi guru, ‘kan? Karena aku belum menemukan alasan yang kuat mengapa aku harus menjadi seorang guru. Seperti Bapak. Seperti Ibuk. Seperti Mas Hari.

Guru? Ah, guru. Satu kata ini hampir membuatku gila semester ini. Hey, I’m getting older! I have no choice! I have to face the challenges!

Hari Jum’at menjadi hari yang lebih “berat” dari hari Selasa, padahal hari Jum’at aku hanya memiliki satu kelas, Micro Teaching. Bukan hari Jum’at-nya yang membuat “berat”, tetapi kelas Micro Teaching-nya. Kelas yang menuntutku praktik menjadi seorang guru.

Tak banyak yang tahu, aku, dulu ketika masih kanak-kanak, memiliki banyak cita-cita. Mulai dari guru, dokter, polwan, hingga pramugari. Namun, itu dulu.

Aku pernah bercita-cita menjadi seorang guru?

Kurasa pertanyaan itulah yang akan pertama kali “mendarat” di kepala orang-orang di sekelilingku. Lalu, mengapa sekarang berbeda?

Ya, aku pernah bercita-cita menjadi seorang guru. Ibuk bilang, ketika aku masih kanak-kanak, setiap sore aku selalu bermain sekolah-sekolahan bersama teman-teman sepermainanku. Dan, Ibuk bilang, aku selalu menjadi gurunya. Aku membagi-bagikan buku tulis dan pensil pada teman-temanku, lalu aku berlagak layaknya seorang guru yang mengajar di kelas. Membacakan dongeng, menulis di papan tulis, memberikan pertanyaan kepada murid-muridnya. Hah?

Sekarang semuanya berbeda. Aku tak lagi memiliki semangat kanak-kanakku. Aku, sejujurnya, tak ingin menjadi guru. Aku tak menyukai kehidupan yang monoton. Aku tak menyukai kegiatan yang begitu-begitu saja. Aku seorang yang moody dan mudah bosan. Perlu bukti? Baru memasuki semester VI aku sudah pindah kos dua kali. Alasannya? Ingin suasana yang baru.

Tentang passion-ku. Penulis. Editor.

Segala hal yang berhubungan dengan dunia tulis-menulis.

Namun, aku pun harus tahu diri. Ada kalanya aku bisa mengerjakan sesuatu yang kusukai, seperti membaca, menulis, jalan-jalan. Ada kalanya pula aku harus bisa menyukai sesuatu yang harus kukerjakan, seperti mulai menyukai kenyataan bahwa aku harus bisa mengajar.

Hidup harus seimbang, bukan? Do what I love, love what I do.

2 thoughts on “Do What I Love, Love What I Do

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s