Dolly

Cerpen Marlin Dwinastiti

“Sayang, bonekamu sudah terlalu banyak,” begitu jawaban Mama setiap kali Selena mulai merengek meminta dibelikan boneka.

“Tapi, Ma. Satu ini saja.” Selena belum ingin menyerah.

“Selena selalu bilang seperti itu, Sayang,” ujar Mama lagi.

“Selena janji, Ma. Sekali ini saja. Selena juga janji… Selena akan membuang Dolly, Ma,” jawab Selena.

Mama melihat iba pada putrinya yang tengah merajuk. Dan, untuk kesekian kalinya, Mama tidak mampu menolak keinginan putri kesayangannya itu.

“Ya sudahlah. Mama akan belikan boneka ini, tapi Selena harus membuang Dolly,” kata Mama akhirnya.

Mata Selena mengerjap-ngerjap. Boneka beruang besar di etalase kaca sebuah toko segera pindah ke kedua tangannya yang mungil.

* * *

Terik matahari membakar ubun-ubun penduduk kota. Siang ini, matahari seolah hendak membalaskan dendamnya. Pasalnya, seharian kemarin hujan mengguyur seluruh kota. Dolly berjalan menyusuri jalanan kota Boneka sendirian. Ia tak henti-hentinya mengusap peluh yang mengalir. Lelah berjalan, ia pun duduk di taman yang cukup rindang di tengah kota. Suara gemericik air mancur dan burung-burung yang hinggap di dahan-dahan pohon sedikit menghibur hati Dolly yang sedang sedih.

Kota Boneka, begitulah orang-orang menyebut kota ini. Disebut begitu karena seluruh penduduk kota ini adalah boneka. Inilah tempat tinggal baru Dolly. Truk sampah membawanya ke sini pagi tadi. Adalah Selena, gadis cantik bermata biru yang tega membuangnya ke tong sampah. Sesuai janjinya pada Mama setelah ia mendapatkan boneka beruangnya. Bukan sepenuhnya keinginan Selena untuk membuang Dolly, tetapi ia terlanjur berjanji pada Mama. Bagi Mama, Dolly hanyalah boneka usang yang tak layak berada di kamar Selena lebih lama lagi. Penampilan Dolly sungguh tidak enak dilihat. Baju dan celananya penuh tambal di sana-sini. Warnanya pun sudah luntur. Belum lagi bekas jahitan di pipi kirinya. Jelek sekali. Selena yang menjahitnya karena pipi Dolly berlubang akibat gigitan Blacky, anjing Selena.

“Hai!” sapa seorang gadis.

Lamunan Dolly buyar. Dilihatnya seorang gadis cantik berambut pirang tengah berdiri di hadapannya. Ia tersenyum, manis sekali.

“Aku Lily,” katanya sambil mengulurkan tangan. Warna-warni gelang memenuhi tangan kanannya.

Dolly ragu-ragu menerima uluran tangan Lily.

“Aku Dolly,” kata Dolly akhirnya.

“Senang bertemu denganmu, Dolly.”

Dolly tersenyum.

“Boleh aku duduk di sini?”

Dolly mengangguk. Lily sudah berpindah tempat di sebelahnya.

“Kau penduduk baru, ya?” tanya Lily.

“Iya,” jawab Dolly.

“Aku sudah cukup lama tinggal di sini, Dolly,” kata Lily.

Dolly mengernyitkan dahi. Aku tidak bertanya, bukan?

“Ah, aku lupa meminta izin darimu. Maukah kau mendengarkan ceritaku, Dolly? Barangkali bisa sedikit menghiburmu.”

Dolly tidak menggeleng, tidak juga mengangguk.

“Awalnya, aku terpaksa tinggal di sini. Aku dibuang di tong sampah oleh seorang gadis. Gadis itu cantik. Sangat cantik. Matanya biru. Kau tahu? Mata biru adalah impian seluruh gadis di kota tempat ia tinggal. Ia sungguh beruntung karena memilikinya. Kulitnya berwarna putih bersih, sama seperti ibunya. Dagunya terbelah. Jika ia tersenyum, kurasa semua lelaki akan terpesona olehnya. Ia sungguh-sungguh cantik.

“Awalnya, ia sangat baik, namun semakin lama ia semakin menyebalkan. Setiap kali mendapatkan boneka baru dari ibunya, ia selalu membuang boneka-boneka lama yang telah usang. Habis manis sepah dibuang. Peribahasa itu mungkin cocok untuknya. Dan, pada akhirnya, tiba giliranku untuk dibuang. Aku dimasukkan ke dalam tong sampah yang bau di depan rumahnya. Pagi harinya, truk sampah datang dan membawaku ke tempat ini, kota Boneka.

“Sekarang, aku tidak terpaksa lagi tinggal di sini. Aku justru sangat bersyukur bisa menemukan tempat seindah ini. Aku merasa damai setiap berada di setiap jengkal kota ini. Penduduknya ramah dan sangat menyenangkan. Kau heran mengapa aku bercerita padamu tentang masa laluku padahal kau tidak memintanya? Tidak usah heran. Aku dulu juga diperlakukan sama seperti ini. Ini yang membuatku betah berada di sini. Kuharap kau juga akan betah di sini dan kita bisa menjadi sahabat baik.”

Lily berhenti sejenak. Ia mengambil botol air minum dari ransel yang dibawanya.

“Kau tahu? Kadang kau harus bisa menerima sesuatu yang tidak kausukai.”

“Bagaimana kau tahu aku tidak suka berada di sini?”

“Ayolah, hampir seluruh penduduk di kota ini pernah merasakan busuknya bau tong sampah. Kami adalah boneka-boneka ‘terbuang’ yang pada mulanya tidak menyukai kota ini. Tapi, kami justru merasa senang ketika pada akhirnya jalan hidup kami digariskan untuk berada di sini.”

“Mengapa?”

“Sederhana saja. Kami bisa melakukan apapun yang kami sukai. Kami tidak lagi dikekang. Kami tidak lagi disiksa gadis-gadis cantik dari kalangan manusia. Rambut kami tidak lagi dipotong ataupun dimodifikasi. Kami pun bisa sesuka hati memakai baju yang kami inginkan.”

“Tapi, aku sangat menyayangi Selena.”

“Selena?”

“Ya, Selena. Kau mengenalnya?”

“Tentu saja! Ia yang telah membuangku ke tong sampah.”

“Sungguh?”

“Iya,” kata Lily lirih.

“Selena juga yang membuang sahabat-sahabat terbaikku,” kata Lily lagi.

Langit yang cerah tiba-tiba mendung.

“Aku harus pulang. Sebentar lagi hujan. Sampai jumpa!”

Dolly menatap punggung Lily yang terus mengecil dan menghilang di tikungan jalan.

“Selena? Benarkah Selena juga membuang Lily? Sama seperti Selena membuangku?”

* * *

Pukul 02.00 Selena terbangun. Napasnya memburu. Keringatnya mengucur deras. Ia bermimpi tentang Dolly. Tanpa berpikir panjang, Selena menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dan berjinjit menuruni anak tangga. Ia membuka pintu dan segera menghampiri tong sampah di depan rumahnya.

“Dolly…Dolly…” panggilnya.

Tangannya terus mencari-cari Dolly di tong sampah. Nihil. Selena terisak.

“Dolly, maafkan Selena. Selena tidak seharusnya membuang Dolly. Selena sayang Dolly…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s