A Javanese Heart

27 April 2013

Niat untuk bermalam Ahad di kos gagal ketika ada sebuah SMS masuk mengajak hang out. Ya sudah, daripada bengong di kos dan nanti ujung-ujungnya galau memikirkan Thunder (halah), aku iyakan saja. Malam ini, bersama Mba Nisa, Mas Faisal, dan Mas Anjar, aku menghabiskan malam Ahad di Malioboro naik TransJogja. Sesekali naik angkutan umum boleh dong?😀

Karena dadakan, kami hanya pergi berempat. Seperti biasa, kami berkumpul di kontrakan Mas Faisal. Kami menuju halte TransJogja di Tegal Turi. Aku lupa kami naik bus jalur berapa, seingatku dari Tegal Turi kami turun di halte Museum Perjuangan dan pindah ke bus jalur 2B dan turun di halte Taman Pintar. Selanjutnya, kami berjalan kaki menuju kawasan Malioboro. Tujuan pertama kami adalah hunting ice cream. Jadilah kami mengantri di McDonald’s di Mal Malioboro. Well, sebenarnya bukan kami yang mengantri, tapi Mas Faisal dan Mas Anjar😀

Perjuangan membeli ice cream.

Perjuangan membeli ice cream.

Akhirnya… setelah mengantri cukup lama, ice cream McFlurry warna-warni sudah berpindah ke tanganku dan Sundae Strawberry juga berpindah ke tangan Mba Nisa. Mas Faisal juga membeli McFlurry warna-warni dan Mas Anjar membeli Sundae Strawberry. Kami pun mencari tempat duduk yang kosong di sepanjang jalan Malioboro.

Selesai menghabiskan ice cream, aku mengusulkan untuk mencari tempat makan dan Mas Faisal langsung menunjuk KFC yang terletak di seberang jalan.

“Serius?” tanyaku.

“Iya,” jawabnya mantap.

Setelah berdebat agak panjang, kami pun memantapkan langkah kaki kami ke KFC. Setiba di sana, Mas Faisal langsung menuju tempat pemesanan untuk memesan (atau melihat lebih jelas harga yang terpampang di sana, ya?). Tiba-tiba ia langsung membalik badan. Perasaanku tidak enak. Sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Dan…

“Gila! Es teh Rp 8.000,00. Keluar yuk,” katanya.

Aku segera memutuskan untuk mengambil langkah seribu alias kabur! Meninggalkan Mba Nisa, Mas Faisal, dan Mas Anjar di dalam. Tak lama kemudian, mereka keluar.

DICARI: FAISAL ABIDIN

Tersangka atas tuduhan perbuatan memalukan di KFC Malioboro.

Kami tertawa cekikikan, membayangkan betapa bodohnya kami tadi.

Ujung-ujungnya, kami makan di Kafe Tiga Tjeret alias Angkringan. Angkringan tetap menjadi pilihan terbaik untuk anak kos di akhir bulan😀 Akhir bulan kok bisa beli ice cream, ya? Aku bingung😀

Kenyang, kami pun ingin pulang. Sayang, TransJogja sudah tidak beroperasi lagi karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.19. Kalaupun beroperasi, petugas TransJogja tidak bisa menjamin apakah kami akan sampai Tegal Turi atau tidak. Gerimis mulai turun membasahi jalan Malioboro. Ketika kami melewati kumpulan orang-orang yang menari ini, mereka seolah-olah tidak memedulikan gerimis. Mereka terus menari, menari, dan menari.

Dancing in the rain.

Dancing in the rain.

Ketika hujan semakin deras, orang-orang yang sebelumnya berjalan santai menikmati indahnya Malioboro di malam hari tiba-tiba langsung berhamburan ke sana kemari mencari tempat untuk berteduh, tak terkecuali kami. Malam semakin larut, kami harus segera mencari kendaraan untuk pulang. Ingin pulang naik delman, tetapi ongkosnya mahal, Rp 80.000,00! Akhirnya, kami mencoba menawar becak. Bapak Becak minta Rp 20.000,00 per becak. Mas Faisal menawar Rp 15.000,00 per becak. Terjadilah proses tawar-menawar yang cukup panjang dan aku baru sadar kalau Mas Faisal sungguh pintar menawar, melebihi perempuan😀 Tidak mencapai kesepakatan, kami pun pergi. Tiba-tiba Bapak Becak memanggil kami dan akhirnya sepakat Rp 15.000,00 per becak. Beliau segera mencari temannya sesama tukang becak, jadilah Rp 40.000,00 untuk 2 becak. Aku dan Mas Faisal, Mba Nisa dan Mas Anjar.

Di sepanjang jalan, aku dan Mas Faisal membicarakan usaha brand clothing yang baru ia mulai bersama Mas Anjar, Match Point. Tiba-tiba ia berkata, “Lin, Jalan Pramuka is so far away from Malioboro, are you sure we want to give him only Rp 15.000,00 per pedicab?”

“Iya ya, Mas. Kasihan bapaknya,” jawabku polos.

Can you speak English?

Absolutely, yes! You know what? We have a Javanese heart,” kataku.

Nggak tegaan, ya?”

“Iya.”

Aku dan Mas Faisal akhirnya sepakat untuk membayar Rp 20.000,00 per becak, seperti keinginan Bapak Becak sebelumnya.

Daaaaaaaaannn, tahukah kalian? Ketika aku memberi selembar uang dua puluh ribuan ke Bapak Becak yang telah mengantarku dan Mas Faisal, beliau tersenyum dengan tulus. Bagaimana kita bisa tahu seseorang tersenyum dengan tulus atau tidak? Cukup lihat matanya. Aku melihat kedua mata Bapak Becak itu berbinar-binar karena bahagia.

Ya Allah, mudahkanlah segala urusannya di dunia dan di akhirat. Amin.

Orang boleh berkata orang Jawa terlalu perasa, apa-apa dimasukkan dalam hati, apa-apa menggunakan hati. Biarlah. Sebagai orang Jawa, aku justru bangga. Hei, orang Jawa hanya terlalu peka, okeI have a Javanese heart and I’m proud 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s