My 3J Trip

Mei 2013

Tiga kali aku merencanakan pulang ke Jepara, dan ketiga kalinya gagal. Rencana pertama dan kedua gagal dikarenakan aku harus mengikuti kuliah pengganti–dan ternyata semuanya di-cancel. Capek deh! Rencana yang ketiga gagal karena Ibuk memberiku 2 pilihan. Pilihan pertama: jika aku pulang bulan ini, maka aku tidak ikut Ibuk ke Jakarta bulan depan. Pilihan kedua: jika aku tidak pulang bulan ini, maka aku ikut Ibuk ke Jakarta. And finally, aku memilih untuk tidak pulang bulan ini agar aku bisa ikut Ibuk ke Jakarta bulan depan.

Juni 2013

Berkali-kali Ibuk meneleponku untuk memastikan apakah aku benar-benar bisa ikut ke Jakarta atau tidak, dan berkali-kali pula aku menjelaskan kepada Ibuk bahwa aku bisa. Aku meyakinkan beliau bahwa tidak masalah jika aku harus bolos kuliah selama satu minggu. Cukup dengan surat izin yang sudah ditandatangani Bulik Suyat, InsyaAllah semuanya bisa diatasi. And the day comes…

4 Juni 2013

Tiket travel ke Jepara sudah kupesan jauh-jauh hari sebelumnya. Aku sengaja memesan tiket pukul 17.00 agar aku masih bisa mengikuti kuliah hari ini. Akan tetapi, rencana tidak sejalan dengan kenyataan. Dari empat mata kuliah, aku hanya mengikuti kelas Applied Linguistics. Aku terpaksa melakukannya karena aku butuh cukup banyak waktu untuk mempersiapkan trip-ku kali ini. Terlebih, ada beberapa masalah yang muncul hari ini. But Alhamdulillah, semuanya bisa kuselesaikan sebelum aku berangkat ke Jepara. Sekitar pukul 23.00 aku dijemput Bapak di depan Polres Jepara.

5 Juni 2013

Belum hilang rasa lelah yang menggelayuti tubuhku, aku dan Ibuk harus mempersiapkan perjalanan kami selanjutnya. Bapak dan Ibuk sudah membeli tiket bus ke Jakarta jauh-jauh hari sebelumnya. Pukul 16.00, aku dan Ibuk ke Jakarta, meninggalkan Bapak di rumah.

6 Juni 2013

Sekitar pukul 06.15 kami sampai di Pasar Rebo. Sesuai permintaan Mas Hari, kakakku, kami pun turun di Pasar Rebo. Kami memasukkan koper dan 2 kardus yang masing-masing berisi kerupuk dan jambu Demak ke dalam bagasi taksi dan taksi tersebut segera meluncur ke rumah Bulik Yanti di Jalan Kenanga, Jakarta Selatan. FYI, aku dan Ibuk ke Jakarta karena Bulik Yanti akan mengadakan tasyakuran putra keduanya, Syanda, sudah dikhitan.

7-8 Juni 2013

Aku dan Ibuk tidak kemana-mana selama di Jakarta. Kami hanya di rumah, membantu persiapan hajatan Bulik Yanti dan Om Sarjiran. Kami tidak bepergian karena selain kami malas bertemu dengan kemacetan Jakarta, kami juga akan tersesat karena tidak ada yang bisa mengantar kami kemanapun. Om Sarjiran dan Mas Hari terlalu sibuk dengan pekerjaannya, Bulik Yanti tengah sibuk dengan segala persiapan untuk acara Ahad besok. Jadilah kami duduk manis saja di rumah.

9 Juni 2013

Orang-orang terlihat ramai memenuhi rumah Bulik Yanti dan Om Sarjiran. Undangan mulai berdatangan sekitar pukul 09.00. Aku dan Ibuk akan pulang ke Jepara hari ini. Pukul 14.00, kami berangkat ke Cijantung untuk menunggu bus. Kami hanya membawa koper dan 1 kardus yang entah isinya apa. Kardus itu sudah dipersiapkan oleh Bulik Yanti dan beliau enggan memberitahukan isinya. Waktu menunjukkan pukul 16.00 dan bus yang akan membawa kami ke Jakarta belum juga menampakkan diri. Sekitar pukul 16.30, bus yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba.

10 Juni 2013

Kami terlambat sampai di Jepara karena macet. Pukul 06.30 kami baru sampai di Jepara. Ketika kami turun, aku meminta kernet bus untuk membuka bagasi. Aku menunjuk koper kami dan mataku segera mencari-cari kardus yang kami bawa. Satu menit, dua menit, tiga menit lewat… Dan…voila! Aku tidak menemukan kardus tersebut. Aku dan Ibuk terus menjelaskan kardus yang kami bawa. Nihil. Kardus kami hilang! Aku pun memutuskan untuk memberikan nomor HP-ku kepada kernet bus agar jika sewaktu-waktu ada yang mau mengembalikan kardus kami, kernet bus tersebut bisa menghubungiku. Sepagi ini, aku pulang dengan rasa bersalah, kecewa, menyesal yang tercampur aduk menjadi satu. Tidak karu-karuan rasanya. Aku merasa aku bodoh sekali. Pasalnya, aku lupa untuk memberi nama pada kardus itu. Aku duduk di sebelah jendela dan setiap kali ada penumpang turun dan membuka bagasi, aku tidak melongok untuk memastikan kardus yang kami bawa tidak diambil orang. Ah, bodohnya aku!😦

Pukul 16.30 aku diantar Bapak ke perempatan Mantingan. Di sini, aku menunggu travel yang akan membawaku kembali ke Jogja. Aku kembali ke Jogja dengan perasaan bersalah masih menggelayutiku. Maafkan aku…

11 Juni 2013

Selamat pagi, Jogja! Aku sampai di Jogja pukul 23.00 semalam. Sekitar pukul 09.00, agen bus menghubungiku dan memberitahuku bahwa kardus kami benar-benar hilang. Kemungkinan ada orang yang sengaja mengambil kardus kami. Kemungkinan tertukar sangat kecil karena tidak ada kardus lain yang tertinggal di bus ketika semua penumpang sudah turun. Tetapi, Wallahu A’lam. Aku tidak tahu. Aku menghela napas. Astaghfirullah

Ya sudah. Mungkin belum rezeki kami. Ikhlas. Ikhlas. Ikhlas. InsyaAllah akan ada ganti yang lebih baik. Semoga Allah melapangkan hati kami agar kami senantiasa ikhlas menerima kenyataan yang pahit sekalipun.

My 3J trip is over. Jogja-Jepara-Jakarta. Selesai di sini. Aku harus kembali berkutat dengan rutinitasku. Kuliah. Mengerjakan tugas. Belajar. Aku harus segera lulus. Perjalanan kemarin telah memberiku suntikan semangat ketika Om Sarjiran memintaku segera lulus dan melamar pekerjaan di Jakarta saja. Jakarta? Apa iya, aku benar-benar akan menghabiskan waktu di kota itu? Aku tidak tahu. Tetapi sepertinya Ibuk dan Bapak bahagia jika aku bisa bekerja di Jakarta (atau sekitarnya) seperti kakakku yang bekerja di Cikarang. Well, jika itu bisa membahagiakan Ibuk dan Bapak, why not? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s