Jangan Biarkan Aku Menunggu

Cerpen Marlin Dwinastiti

Kriiiiinngg…kriiiiinngg…kriiiiinngg!!!

Pagi ini, masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Tepat pukul 04.30, jam beker kotak berwarna hitam kembali menghentikan mimpi Aini. Gadis itu menggeliat. Tangannya meraba-raba meja belajar mungil di samping tempat tidurnya. Tak sampai satu menit tangannya mencari, suara jam beker yang berisik telah hilang. Kini hanya meninggalkan suara air hujan yang terus mengguyur tanah sejak semalam. Udara dingin serta-merta membuat bulu kuduk Aini berdiri begitu ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Ingin sekali rasanya ia menarik selimutnya lagi, kembali merajut mimpi ditemani hujan. Tetapi adzan Shubuh yang berkumandang segera mematahkan keinginannya.

Hoaaammmhhh…” Aini menguap lebar. Tangannya sibuk mengucek kedua matanya yang masih lengket. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya, hendak menyalakan lampu. Sial! Listrik masih padam. Tadi malam ia terpaksa tidur lebih awal karena tak ada yang bisa ia lakukan dalam kegelapan. Aini mendengus kesal.

Dddrrrttttttttt…Dddrrrttttttttt…

Tiba-tiba telepon genggam Aini bergetar dengan cukup keras di atas meja.

Siapa yang menelepon Shubuh-Shubuh begini? tanya Aini dalam hati.

Aini meraih telepon genggamnya dan seketika kedua matanya melotot.

Mas Satya?

Assalaamu’alaikum…”

Wa’alaikumsalam. Aini? Aini sudah bangun?” jawab suara di seberang.

“Ya, Mas. Ada apa telepon Aini Shubuh-Shubuh begini?” tanya Aini.

“Aini belum berubah, ya.”

“Maksudnya?”

“Iya. Jam segini Aini pasti sudah bangun.”

“Maaf, Mas. Ada perlu apa, ya, Mas Satya telepon Aini?”

“Mas Satya cuma mau tanya satu hal.”

“Apa?”

“Aini masih mencintai Mas Satya?”

Jantung Aini tiba-tiba berdegup kencang ketika mendengar pertanyaan Satya.

“Ya,” jawabnya mantap.

“Masih adakah kesempatan untuk Mas Satya?”

* * *

“Aku Satya.”

Aini menoleh. Ia tidak segera menyambut uluran tangan Satya.

“Aku Satya,” kata Satya lagi.

“Aini,” jawab Aini. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada, mengabaikan uluran tangan Satya.

Satya menarik kembali tangannya yang menggantung di udara. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Akhirnya, setelah tujuh hari Satya hanya berani mencuri-curi pandang wajah Aini yang meneduhkan, hari ini ia berani menyapanya.

Jadi, namanya Aini? kata Satya dalam hati. Senyum di bibirnya terus mengembang.

“Mas, itu bus nomor 12 sudah datang,” kata Aini.

“Eh…eh… Sa…saya tidak naik bus itu,” balas Satya.

Aini mengernyitkan dahi tidak mengerti.

Lho… Bukannya Mas selalu naik bus itu, ya?”

“Eh…eh… I…ya. Maksud saya, saya hari ini tidak naik bus nomor 12, saya ada perlu di tempat lain.”

“Oh, kalau begitu saya duluan, Mas. Mari. Assalaamu’alaikum.”

Wa…wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh.”

Aini segera bergegas naik ke bus nomor 12, bus yang akan mengantarnya ke sebuah sekolah dasar di pinggir kota.

Satya, namanya Satya… gumam Aini. Senyum merekah di bibirnya. Ia merasakan panas di kedua pipinya. Ia yakin pipinya kini tengah merah merona.

Setelah bus yang membawa Aini menghilang di tikungan jalan, Satya segera meraih Kawasaki yang diparkir tidak jauh dari halte bus. Misi hari ini selesai. Ia sudah tahu nama gadis yang mencuri perhatiannya sejak satu minggu yang lalu. Ia tidak perlu lagi mengikuti Aini seperti yang telah ia lakukan sebelumnya.

* * *

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu sejak perkenalan Aini dan Satya di halte bus. Hingga suatu hari…

“Aini, mau tidak Aini menjadi kekasih hati Mas Satya?”

Aini diam. Ia mencintai Satya, dan ia yakin Satya juga mencintainya.

“Mas Satya mencintai Aini?”

“Tentu saja, Aini. Mas Satya sangat mencintai Aini.”

“Kalau Mas Satya mencintai Aini, mengapa Mas Satya hanya menginginkan Aini menjadi kekasih hati Mas Satya?”

“Maksud Aini?”

“Mengapa Mas Satya tidak melamar Aini saja?”

Satya terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Mas, kita sudah cukup dewasa, bukan?”

Satya masih terdiam.

“Aini, Mas Satya harus pergi sekarang.”

“Mas, pembicaraan kita belum selesai, bukan?”

“Kita bisa membahasnya lain waktu.”

“Mas…”

“Aini, Mas Satya mencintaimu, tetapi…”

“Tetapi apa, Mas? Bukankah cinta tidak pernah mengenal kata ‘tetapi’?”

“Aini, tolong mengerti Mas Satya. Menikah tidak semudah yang kita bayangkan. Mas Satya harus mempersiapkan banyak hal.”

“Sampai kapan?”

“Mas Satya tidak tahu.”

Satya merogoh kunci Kawasaki di saku celananya dan segera melesat dari hadapan Aini, meninggalkan Aini yang kebingungan.

* * *

“Aini? Aini masih di sana?”

“Ya, Mas. Aini masih di sini.”

“Masihkah ada kesempatan untuk Mas Satya?”

“Aini rasa tidak, Mas.”

“…”

“Maaf, Mas. Aini belum sholat. Assalaamu’alaikum.”

Aini tergugu. Ia menyesal dengan jawabannya, tetapi ia tidak mungkin melawan takdir. Tiga tahun lamanya ia menunggu dalam ketidakpastian. Ia menunggu Satya yang tak kunjung datang menemui orang tuanya untuk melamarnya. Abah yang lelah melihat putri bungsunya terus menunggu dalam ketidakpastian akhirnya memilihkan calon untuknya. Dan, ia tak mungkin melawan Abah, orang yang sangat dicintainya. Ia tidak punya pilihan lain, ia harus melepas Satya, cinta pertamanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s