Ramadhan, Eratkan Tali Silaturahim Kami…

13 Juli 2013

“Kepergianmu” mengajariku banyak hal. Bahwa dalam persahabatan, kita tidak harus selalu bersama, setiap waktu, setiap saat. Bahwa dalam persahabatan, kita juga harus mengenal “dunia” di luar “dunia kita”. Bahwa dalam persahabatan, “pergi” adalah cara terbaik agar sahabat yang kita miliki tidak tergantung pada kita. Tapi kau lupa mengajariku satu hal. Bahwa dalam persahabatan, sesibuk apapun kau, sesedikit apapun waktu yang kaumiliki, sediakanlah waktu untuk sahabat yang menyayangimu, sahabat yang selalu menanti kehadiranmu.

Bulan nan suci telah tiba. Ramadhan!🙂 Alhamdulillah, Allah masih memberiku kesempatan untuk menjumpai bulan yang selalu ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia ini. Di bulan yang penuh berkah ini, seperti sebelumnya, keluarga besar EDSA mengadakan kegiatan Buka Bersama. Meski bukan merupakan kegiatan rutin, tetapi sepertinya akan menjadi kegiatan yang wajib diadakan setiap Ramadhan datang. Kegiatan yang sebelumnya diadakan di kediaman Mba Vita di Sayegan, hari ini diadakan di rumahku di Wringin Lor, Purwobinangun, Pakem, Sleman, berjarak sekitar 25 km dari kota Yogyakarta. Alhamdulillah, jarak yang lumayan jauh yang harus ditempuh selama satu jam perjalanan ditambah hujan yang membasahi tanah ternyata tidak menyurutkan semangat sahabat-sahabatku untuk kembali menyambung tali silaturahim di bulan Ramadhan. Pasukan yang datang kali ini lumayan banyak. Ada Aji, Anggi, Mas Anjar, Dina, Erlin, Mas Faisal, Iqbal, Mustangin, Muthi’, Mba Nela, Mba Novia, Rani, Mba Rini, Mas Rizal, Mas Sigit, Mba Siti, Unul, Mba Uyunk, Mba Vita, Yuli, dan Zuhri. Ada pula satu teman sekelasku yang “menyusup” dalam acara buka bersama ini, Riza.😀 Kidding, bro!😀

Seperti Ramadhan sebelumnya, kami menyiapkan sendiri menu untuk berbuka puasa. Dan, seperti biasanya pula, Mba Vita kembali ditunjuk sebagai Koordinator Sie Konsumsi.😀

Mba Vita sedang memasak, dibantu Erlin.

Mba Vita dan Erlin.

Unul bersiap mengeksekusi sambal.

Unul bersiap “mengeksekusi” sambal.

"Penyusup" sedang mencoba menghancurkan minum-minuman keras alias es batu.

“Penyusup” sedang mencoba menghancurkan minum-minuman keras alias es batu.

Dina, Mba Rini, dan Mba Siti tengah berkutat dengan ayam.

Dina, Mba Rini, dan Mba Siti tengah berkutat dengan ayam.

Akhirnya, ketika adzan Maghrib telah berkumandang, hampir seluruh menu yang kami siapkan sudah matang, kecuali ikan Bawal.😀

Menu berbuka puasa kami, sederhana namun penuh nikmat.

Menu berbuka puasa kami, sederhana namun penuh nikmat.

Ya, karena kami sampai di rumah hampir pukul 15.30, waktu yang kami miliki untuk menyiapkan seluruh menu yang kami inginkan menjadi tidak banyak. Awalnya, Ibuk ingin membantu menyiapkan menu berbuka puasa kami, akan tetapi karena beliau tidak tahu apa yang kami inginkan, beliau pun membiarkan kami “mengeksekusi” sendiri.😀

Eksis dulu sebelum buka puasa.

Eksis dulu sebelum buka puasa.

Alhamdulillah, acara malam ini berjalan lancar. Selesai berbuka puasa, kami pun menunaikan kewajiban kami sebagai Muslim dan Muslimah, yakni sholat Maghrib. Berhubung ikan Bawal belum selesai “dieksekusi”, kami pun dugem a.k.a duduk gembira.

Dugem sebelum buka puasa.

Dugem sebelum buka puasa.

Tak lupa, aku pun di-bully gara-gara fotoku zaman TK dulu, ketika mengikuti Karnaval 17 Agustus. Bullyingisasi yang dimotori oleh Mas Faisal mengundang gelak tawa yang cetar membahana karena mereka bilang di foto itu aku terlihat “menantang orang untuk berkelahi”, padahal baju yang kukenakan baju adat Aceh lengkap dengan make up yang tebal dan rambut yang diberi hiasan.😦 Baru tahu, ada orang yang di-bully di rumahnya sendiri. -_-

Fotoku zaman TK ketika mengikuti karnaval memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Fotoku zaman TK ketika mengikuti Karnaval memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Ketika adzan berkumandang lagi, kami segera sholat Isya’ dan sholat tarawih dipimpin oleh Mas Rizal. Selesai sholat tarawih, barulah kami menyantap makanan yang telah kami persiapkan.

Mari makaaaaaaaaannn!

Mari makaaaaaaaaannn!

Sial! Duri ikan Bawal berhenti di tenggorokan Zuhri. Alamak, kasihan sekali sahabatku yang satu ini. Mukanya memerah, matanya pun berkaca-kaca. Hingga sahabat-sahabatku berpamitan pulang, duri itu masih setia menunggui tenggorokan Zuhri. Alhamdulillah, sekitar satu jam berikutnya, Zuhri mengabariku bahwa duri itu sudah tertelan. Congratz, Zu!🙂

Sangat menghargai orang-orang yang mampu mempertahankan persahabatan mereka selama setahun, dua tahun, tiga tahun, hingga bertahun-tahun. Menjaga persahabatan agar tetap awet tentu susah-susah gampang. Ya Allah, syukurku atas segala nikmat dan karunia yang telah Engkau berikan padaku. Kau izinkan aku memiliki sahabat-sahabat yang bersedia menyediakan waktunya untukku di tengah-tengah kesibukan mereka. Subhanallaaah. Semoga tali persaudaraan ini tak pernah terputus hingga akhir hayat kami kelak. Teruntuk sahabat-sahabat yang belum sempat datang karena beberapa halangan, semoga dilancarkan dan dimudahkan segala urusannya, semoga yang sakit segera diberi kesembuhan, semoga yang tengah dalam kesulitan segera diberi kemudahan, Aaamiiin. Aku memang pernah memiliki satu orang yang mengajariku banyak hal dengan “kepergiannya”, tapi kini aku memiliki lebih banyak orang yang mengajariku lebih banyak hal dengan kehadirannya di sampingku. Alhamdulillaaah. Ada, akan selalu ada ganti untuk yang telah pergi dan hilang—yang entah akan kembali atau tidak. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s