Jodoh untuk si Bungsu yang Manja

28 Oktober 2013

Mahasiswi kepala dua, tingkat akhir pula. Hmmm… Tiap kali bertandang ke rumah salah satu keluarga besar untuk bersilaturahim, pertanyaan yang sering muncul adalah, “Sudah semester berapa?”, “Kapan lulus?”, “Sudah punya pacar belum?”, dan sebagainya, dan sebagainya. Aku? *nyengir kuda*

Dan inilah jawaban-jawabanku:

“Sudah semester berapa?” –> “Semester 7.”

“Kapan lulus?” –> “Secepatnya, doakan saja, ya.”

“Sudah punya pacar belum?” –> “Belum.”

Dan, pertanyaan ini pun beranak-pinak.

Kok tidak mencari?” –> “Kalau niatnya mencari pacar, ya, tidak dapat suami.”

“Kapan menikah?” –> “Doakan saja ya.”

“Setelah lulus mau menikah dulu atau kerja dulu?” –> “Nggg…

Alamak! Memikirkan Proposal Chapter I sampai III saja sudah membuatku kalang kabut, apalagi memikirkan “urusan orang dewasa” yang satu ini. Sekali, dua kali, boleh lah seseorang mengajukan pertanyaan seperti itu, tetapi ketika pertanyaan yang sama diajukan berkali-kali, mau tidak mau “urusan orang dewasa” ini akan hinggap di kepalaku.

Semakin bertambah usiaku, semakin banyak orang-orang baru yang kutemui setiap harinya, dengan cerita yang berbeda, yang juga semakin menambah wawasanku tentang hidup, termasuk urusan jodoh. Agak malas sebenarnya membahas urusan ini, karena beberapa orang yang mengenalku berkata pola pikirku belum benar-benar matang lantaran aku belum dewasa dan masih childish.😀

Jadi, seperti ini…

Jodoh, seperti yang sering dikatakan orang-orang, adalah urusan Allah SWT. Well, sebagai umat Islam, kita tentu mempercayainya. Tidak hanya jodoh saja yang merupakan urusan-Nya, tetapi rezeki, maut, dan segala sesuatu yang terjadi di kehidupan kita. Hei, tidak ada yang kebetulan di muka bumi ini. Semuanya sudah diatur oleh-Nya, termasuk jodoh. Sama halnya seperti manusia lainnya, aku pun memiliki keinginan atau kriteria khusus mengenai “urusan orang dewasa” ini. Boleh lah, ya, sesekali anak kecil ikut campur urusan orang dewasa.😀

Aku anak bungsu yang manja. Aku hanya memiliki seorang kakak laki-laki. Mengenai jodoh, begini. Sebagai anak bungsu, aku ingin selalu berdekatan dengan Ibuk dan Bapak. Dekat saja aku sering merindukan keduanya, apalagi jauh. Yang bukan anak bungsu boleh menyanggah. Yang bukan anak bungsu yang manja boleh membantah. :p Terkesan agak berlebihan memang, tapi inilah aku, anak bungsu yang manja.

Jodoh untuk si bungsu yang manja? Anak sulung, atau anak kedua, ketiga, dan seterusnya, selama dia bukan anak bungsu, apalagi anak tunggal. Namanya juga manusia, wajar jika memiliki keinginan yang tak terhingga. Seperti keinginanku yang satu ini. Mengapa perlu menghindari anak bungsu atau bahkan anak tunggal? Kelak, ketika Ibuk dan Bapak sudah pensiun dari “tugas negara” di Jepara, Jawa Tengah, dan kembali ke rumah kami tercinta di Wringin Lor, Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta, aku ingin menemani keduanya. Aku ingin menghabiskan waktuku bersama keduanya.🙂 Namun, sebelum keduanya memintaku untuk pulang, aku ingin bekerja di luar Jogja terlebih dulu. Belakangan aku agak bosan dengan kota yang istimewa ini.😦 I have to grow. No grow in comfort zone and no comfort in growth zone.

Selain alasan itu, biasanya anak bungsu dan anak tunggal memang diminta oleh kedua orang tuanya untuk tinggal di rumah menemani mereka. Biasanya pula, anak sulung dan anak kedua, ketiga, dan seterusnya—selama bukan bungsu—memang “diusir” dari rumah. Hahaha.😀 Nanti kalau anak bungsu dengan anak bungsu, atau anak bungsu dengan anak tunggal, dikhawatirkan terjadi perebutan anak-anak untuk menemani orang tua masing-masing. Lebay! Hahaha.😀

Jodoh untuk si bungsu yang manja? Orang asli Jogja saja, maunya, kalau bisa Sleman juga no problem. Mengapa? Kalau kelak aku bekerja di luar kota, ketika Idul Fitri tiba, kami bisa mudik bersama-sama. Maksudku, kalau sama-sama orang Jogja, agak lebih mudah mengatur waktu dan keuangan (haha :p) untuk merayakan hari kemenangan bersama keluarga tercinta.

Jodoh untuk si bungsu yang manja? Laki-laki yang mencintai Allah, mencintai Rasul-Nya, mencintai si bungsu yang manja karena Allah, dan mencintai keluarga si bungsu yang manja.🙂

Well, they are only my wishes. If they come true, Alhamdulillah. If they do not come true, I do believe that Allah always has the best plans for me, InsyaAllah. 🙂

Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca apa yang ada dalam pikiran childish si bungsu yang manja tentang “urusan orang dewasa” ini. Si bungsu yang manja sedang bersemangat untuk memperbaiki diri agar pangeran berkuda biru bisa menjemputnya. Hahaha.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s