Ibuk….

22 Desember 2013

Ibuk….

3 bulan lagi usiamu menginjak angka 54.

Kaucurahkan seluruh cintamu agar aku menjadi anak yang kuat.

Kaukerahkan seluruh tenagamu agar aku dapat bertahan di tengah kerasnya kehidupan.

Kauberikan semua yang kaumiliki untuk dapat membahagiakanku.

Ibuk….

3 bulan lagi usiaku menginjak angka 21.

Namun nyatanya, aku belum juga menjadi anak yang kuat.

Namun nyatanya, aku belum juga dapat bertahan di tengah kerasnya kehidupan.

Namun nyatanya, aku belum juga dapat membahagiakanmu.

Ibuk….

Bukankah seharusnya aku sudah tumbuh menjadi anak yang kuat?

Bukankah seharusnya aku dapat bertahan di tengah kerasnya kehidupan?

Bukankah seharusnya aku dapat membahagiakanmu?

Ibuk….

Apa yang telah kuberikan padamu selama 20 tahun ini?

Kecewa?

Luka?

Air mata?

Ibuk….

Putri kecilmu sedang beranjak dewasa sekarang.

Namun, maafkan ia yang terkadang lupa….

Lupa bahwa ibunya juga terus menua.

Lupa bahwa rambut ibunya kini mulai memutih.

Lupa bahwa kening ibunya mulai keriput.

Lupa bahwa langkah kaki ibunya tak lagi kokoh.

Ibuk….

Meski aku tak pernah mengatakannya….

Engkau harus tahu bahwa aku mencintaimu.

Engkau harus tahu bahwa aku tengah berusaha membahagiakanmu.

Engkau harus tahu….

Selamat Hari Ibu, Ibukku tercinta….

Kutitipkan doaku melalui hujan yang turun malam ini.

Mereka bilang doa yang dipanjatkan ketika hujan turun akan terkabul.

Semoga dosa-dosaku dan dosa-dosamu diampuni Allah SWT.

Sehingga doa yang kupanjatkan akan dengan mudah dikabulkan oleh-Nya.

Amin….

Ibuk….

20 tahun menjadi anakmu, aku hanya menyesali satu hal.

Menyesal mengapa aku sering mengabaikan nasihatmu….

Jodoh untuk si Bungsu yang Manja

28 Oktober 2013

Mahasiswi kepala dua, tingkat akhir pula. Hmmm… Tiap kali bertandang ke rumah salah satu keluarga besar untuk bersilaturahim, pertanyaan yang sering muncul adalah, “Sudah semester berapa?”, “Kapan lulus?”, “Sudah punya pacar belum?”, dan sebagainya, dan sebagainya. Aku? *nyengir kuda*

Dan inilah jawaban-jawabanku:

“Sudah semester berapa?” –> “Semester 7.”

“Kapan lulus?” –> “Secepatnya, doakan saja, ya.”

“Sudah punya pacar belum?” –> “Belum.”

Dan, pertanyaan ini pun beranak-pinak.

Kok tidak mencari?” –> “Kalau niatnya mencari pacar, ya, tidak dapat suami.”

“Kapan menikah?” –> “Doakan saja ya.”

“Setelah lulus mau menikah dulu atau kerja dulu?” –> “Nggg…

Alamak! Memikirkan Proposal Chapter I sampai III saja sudah membuatku kalang kabut, apalagi memikirkan “urusan orang dewasa” yang satu ini. Sekali, dua kali, boleh lah seseorang mengajukan pertanyaan seperti itu, tetapi ketika pertanyaan yang sama diajukan berkali-kali, mau tidak mau “urusan orang dewasa” ini akan hinggap di kepalaku.

Semakin bertambah usiaku, semakin banyak orang-orang baru yang kutemui setiap harinya, dengan cerita yang berbeda, yang juga semakin menambah wawasanku tentang hidup, termasuk urusan jodoh. Agak malas sebenarnya membahas urusan ini, karena beberapa orang yang mengenalku berkata pola pikirku belum benar-benar matang lantaran aku belum dewasa dan masih childish. 😀

Jadi, seperti ini…

Jodoh, seperti yang sering dikatakan orang-orang, adalah urusan Allah SWT. Well, sebagai umat Islam, kita tentu mempercayainya. Tidak hanya jodoh saja yang merupakan urusan-Nya, tetapi rezeki, maut, dan segala sesuatu yang terjadi di kehidupan kita. Hei, tidak ada yang kebetulan di muka bumi ini. Semuanya sudah diatur oleh-Nya, termasuk jodoh. Sama halnya seperti manusia lainnya, aku pun memiliki keinginan atau kriteria khusus mengenai “urusan orang dewasa” ini. Boleh lah, ya, sesekali anak kecil ikut campur urusan orang dewasa. 😀

Aku anak bungsu yang manja. Aku hanya memiliki seorang kakak laki-laki. Mengenai jodoh, begini. Sebagai anak bungsu, aku ingin selalu berdekatan dengan Ibuk dan Bapak. Dekat saja aku sering merindukan keduanya, apalagi jauh. Yang bukan anak bungsu boleh menyanggah. Yang bukan anak bungsu yang manja boleh membantah. :p Terkesan agak berlebihan memang, tapi inilah aku, anak bungsu yang manja.

Jodoh untuk si bungsu yang manja? Anak sulung, atau anak kedua, ketiga, dan seterusnya, selama dia bukan anak bungsu, apalagi anak tunggal. Namanya juga manusia, wajar jika memiliki keinginan yang tak terhingga. Seperti keinginanku yang satu ini. Mengapa perlu menghindari anak bungsu atau bahkan anak tunggal? Kelak, ketika Ibuk dan Bapak sudah pensiun dari “tugas negara” di Jepara, Jawa Tengah, dan kembali ke rumah kami tercinta di Wringin Lor, Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta, aku ingin menemani keduanya. Aku ingin menghabiskan waktuku bersama keduanya. 🙂 Namun, sebelum keduanya memintaku untuk pulang, aku ingin bekerja di luar Jogja terlebih dulu. Belakangan aku agak bosan dengan kota yang istimewa ini. 😦 I have to grow. No grow in comfort zone and no comfort in growth zone.

Selain alasan itu, biasanya anak bungsu dan anak tunggal memang diminta oleh kedua orang tuanya untuk tinggal di rumah menemani mereka. Biasanya pula, anak sulung dan anak kedua, ketiga, dan seterusnya—selama bukan bungsu—memang “diusir” dari rumah. Hahaha. 😀 Nanti kalau anak bungsu dengan anak bungsu, atau anak bungsu dengan anak tunggal, dikhawatirkan terjadi perebutan anak-anak untuk menemani orang tua masing-masing. Lebay! Hahaha. 😀

Jodoh untuk si bungsu yang manja? Orang asli Jogja saja, maunya, kalau bisa Sleman juga no problem. Mengapa? Kalau kelak aku bekerja di luar kota, ketika Idul Fitri tiba, kami bisa mudik bersama-sama. Maksudku, kalau sama-sama orang Jogja, agak lebih mudah mengatur waktu dan keuangan (haha :p) untuk merayakan hari kemenangan bersama keluarga tercinta.

Jodoh untuk si bungsu yang manja? Laki-laki yang mencintai Allah, mencintai Rasul-Nya, mencintai si bungsu yang manja karena Allah, dan mencintai keluarga si bungsu yang manja. 🙂

Well, they are only my wishes. If they come true, Alhamdulillah. If they do not come true, I do believe that Allah always has the best plans for me, InsyaAllah. 🙂

Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca apa yang ada dalam pikiran childish si bungsu yang manja tentang “urusan orang dewasa” ini. Si bungsu yang manja sedang bersemangat untuk memperbaiki diri agar pangeran berkuda biru bisa menjemputnya. Hahaha. 😀

Bahasa Inggris = Bahasa Orang Kafir?

24 Agustus 2013

“Jika seseorang ingin bahagia, seharusnya ia belajar bahasa Arab,” kata seorang teman.

Dahiku berkerut, dalam hati bertanya-tanya. Apa hubungannya?

“Iya, seseorang harus belajar bahasa Arab jika ia ingin bahagia. Mengapa? Karena seluk-beluk masalah kehidupan ada di sini,” lanjutnya sambil menunjukkan Al-Qur’an di tangan kanannya.

Aku masih diam saja, membiarkannya melanjutkan perkataannya.

“Kita tidak perlu belajar bahasa Inggris. Kita hanya terpengaruh orang-orang Barat.”

Hei!, jeritku dalam hati. Sadar tidak orang yang kauajak bicara ini mahasiswi jurusan apa?

* * *

Bahkan ketika Kretek sudah tertinggal jauh di belakang, beberapa kalimat itu entah mengapa enggan enyah dari kepala.

Hmmm… Lebih baik dilawan dengan tulisan. Lebih “berkelas”, tekadku malam ini.

* * *

Well, aku mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris, jadi harap maklum jika saja aku tak terlalu menyukai kalimat dari seorang teman seperti yang tertulis di awal cerita ini. Aku menghargai pendapatnya, dan alangkah lebih baik jika ia juga mau membaca tulisan sederhana ini. So, here we go

Sebagai umat Islam, aku paham bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi Muslim dan Muslimah. Rasulullah SAW bersabda, “Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.”

Allah juga telah berfirman dalam Q.S. al-Mujadalah (58) ayat 11, “… niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. …”

Ilmu yang dimaksud tentu bukan ilmu sihir, ilmu hitam, dan ilmu-ilmu yang menyesatkan lainnya. Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu dunia dan ilmu akhirat.

Sepanjang pengetahuanku, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan saudara-saudaranya termasuk dalam kategori ilmu dunia. Sedangkan yang termasuk dalam kategori ilmu akhirat adalah Fiqih, Nahwu, Tafsir, dan lain sebagainya. Sekali lagi, ini menurut pengetahuanku. Jika ada kesalahan, boleh dikoreksi. 🙂

Aku belajar bahasa Inggris tentu bukan tanpa alasan. Sejak aku duduk di kelas 4 SD, aku sudah tertarik dengan pelajaran yang satu ini. Nilai-nilai bahasa Inggris yang kudapatkan dari SD sampai SMA boleh dibilang cukup memuaskan. Bahkan ketika SMA aku dengan sadar memilih jurusan Bahasa karena aku ingin melanjutkan kuliah di jurusan bahasa Inggris. Alhamdulillah, aku akan memasuki semester 7, tinggal menghitung hari saja. Aku hampir menyelesaikan studiku ketika seorang teman berkata bahwa seseorang tidak perlu belajar bahasa Inggris karena pengaruh orang-orang Barat. Bagaimana bisa? Masa’ iya selama ini aku salah jika aku belajar bahasa Inggris?

Baiklah, aku paham sekarang. Bahasa Inggris adalah bahasa yang digunakan di negara-negara yang mayoritas penduduknya adalah (maaf) kafir. Mungkin, inilah alasan mengapa seorang teman tersebut tidak menyukai apapun tentang bahasa Inggris. Apapun. Dari lagu-lagu yang kuputar dari HP, dari cara bicaraku yang sesekali menggunakan bahasa Inggris, dan lain-lain. Dan, inilah sudut pandangku.

Sebagai Muslimah, aku paham bahwa umat Islam tidak boleh menyerupai kaum lain. Tetapi, kemudian aku bertanya-tanya. Apakah mempelajari bahasa Inggris bisa dianggap menyerupai kaum lain? Kaum lain yang dimaksud di sini adalah kaum kafir. Kalau iya, lantas apa bedanya dengan mempelajari Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan lain-lain? Bukankah mereka juga mempelajarinya? Lalu, dimana letak “kesalahannya” jika seseorang mempelajari bahasa Inggris, bahasa Prancis, bahasa Korea, bahasa Jepang, dan bahasa yang (katanya) digunakan oleh orang kafir? Hei, jangan lupa! Di negara-negara yang mayoritas penduduknya kafir tersebut, tetap ada saudara-saudara kita. Ada orang Islam di sana, meskipun populasinya tidak sebanyak di Indonesia. Dan, di Arab sekalipun, negara yang menggunakan “bahasa Allah”, tetap saja ada orang kafir tinggal di sana. Jadi, sekali lagi, dimana letak “kesalahannya”?

Kita tidak bisa begitu saja men-judge bahasa Inggris adalah bahasa orang kafir. Di Amerika, Inggris, Australia, dan di negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris, ada saudara kita, saudara sesama Muslim. Jika umat Islam di sana bersikeras menggunakan bahasa Arab, bagaimana mereka bisa bertahan hidup di sana? Bahasa juga merupakan salah satu “alat” untuk bisa bertahan hidup selain uang. Pernyataan ini aku dapatkan ketika mengikuti mata kuliah English for Specific Purposes semester 6 lalu.

Jangan dikira mempelajari ilmu bahasa itu lebih mudah dibandingkan mempelajari ilmu eksak. Sama susahnya. Aku harus memutar lagu berbahasa Inggris hampir setiap hari untuk melatih listening. Aku harus bermuka tebal jika bahasa Inggrisku kacau-balau saat speaking. Aku harus menahan rasa kantuk yang menyerang setiap reading. Dan, aku harus bolak-balik kamus untuk menemukan vocabulary ketika writing. Jangan, jangan pernah sekalipun meremehkan ilmu bahasa.

Awalnya, aku mempelajari bahasa Inggris karena aku menyukainya. Tetapi semakin ke sini, aku semakin sadar bahwa kemampuan berbahasa Inggris yang kumiliki juga harus digunakan untuk kepentingan umat Islam, salah satunya adalah untuk berdakwah. Bayangkan saja, jika aku bertemu bule-bule yang sedang asyik melancong di Malioboro dan mereka bertanya mengapa Muslimah harus memakai jilbab? Jika aku tidak menguasai bahasa mereka, aku tentu tidak bisa menjelaskan bahwa Islam sangat mengistimewakan kaum wanita. Islam sangat menginginkan kaum wanita selamat di dunia dan di akhirat. Di dunia, wanita akan selamat dari (maaf) pelecehan seksual, pemerkosaan, dan tindak kejahatan lainnya. Di akhirat, wanita akan selamat dari panasnya api neraka. Nah! Masa’ iya aku harus menggunakan bahasa isyarat untuk menjelaskan kepada mereka? -___-

Percaya atau tidak, bule-bule yang datang mengunjungi tempat wisata di Indonesia terpikat dengan orang Indonesia yang percaya diri menggunakan bahasa Inggris. Meskipun seorang tukang becak di Malioboro hanya tahu yes, no, go there dengan gerakan tangannya, itu sudah sangat membantu seorang bule yang menanyakan direction. That’s why, wisatawan luar negeri yang datang ke Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya. Dan, tentu saja ini merupakan kabar baik untuk Indonesia yang kaya akan tempat wisata yang amazing! 😀

Well, ilmu dimana-mana sama. Tidak ada yang lebih tinggi, pun tidak ada yang lebih rendah. Ilmu itu sama, sama-sama berharga untuk orang yang mau mempelajarinya. Tidak ada jalan yang mudah untuk mendapatkan ilmu. Semudah apapun ilmu yang dipelajari seseorang, ia tetap harus berjuang—melawan rasa malas yang menggelayuti, contohnya. Jadi, jangan meremehkan ilmu yang sedang dipelajari seseorang, boleh jadi esok lusa kita malah membutuhkan bantuannya. Apalagi sampai mengaitkan ilmu itu dengan kaum tertentu. Last but not least, Allah berfirman dalam Q.S. Al Hujurat (49) ayat 13, “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”

Une Petite Lettre pour Meilleurs Amis…

[Video by Faisal Abidin]

Aku tidak akan pernah mengenalmu jika saja kita tidak “terdampar” di kampus kita tercinta ini. Biar sajalah orang-orang meragukan bahkan mencibir kampus kita. Toh, aku tetap akan bersyukur. Bagiku, ini adalah salah satu nikmat Allah yang diberikan kepadaku, kepada kita. Bayangkan saja jika masing-masing dari kita tidak berada di mana kita seharusnya berada sekarang. Aku tidak yakin kita akan memiliki ikatan persahabatan yang menakjubkan seperti ini. Ya, menakjubkan. Bagiku, persahabatan kita terlalu menakjubkan dan aku selalu merasa beruntung karena memilikimu.

Persahabatan, bagaimanapun, bukan tentang berapa lama waktu yang telah kita habiskan bersama. Aku tidak suka menggunakan ukuran waktu untuk menggambarkan betapa sejatinya persahabatan kita. Ayolah, kurang-lebih baru 3 tahun ini, kan, kita bersama-sama? Kita akan kalah total jika ukuran persahabatan kita hanya diukur dengan waktu. Di luar sana, ada begitu banyak orang yang memiliki persahabatan yang telah dijalin selama lima tahun, enam tahun, tujuh tahun, dan seterusnya. Kita? Baru 3 tahun! Lalu, bagaimana kita harus mengukur sejatinya persahabatan kita? Tidak ada. Tidak ada? Ya, tidak ada. Tidak ada alat ukur apapun yang bisa mengukur persahabatan kita.

Aku, tahunya, kita selalu bersama meski kita dihadapkan pada kesibukan masing-masing. Aku, tahunya, kau selalu bersedia untuk meluangkan waktu sejenak hanya sekadar untuk hang out bersamaku. Aku, tahunya, kau tak pernah mengeluh meski waktu yang kaugunakan untuk bertemu denganku sebenarnya lebih berharga untuk urusan yang lebih penting. Aku, tahunya, kau selalu ada ketika aku membutuhkan. Aku, tahunya, kau tak pernah benar-benar marah padaku. Aku, tahunya, kau selalu datang kepadaku dengan wajah yang menyenangkan. Aku, tahunya, kau selalu mengingatkanku setiap aku berbuat kesalahan. Aku, tahunya, kau benar-benar tahu cara membahagiakanku. Ah, terlalu banyak kebaikan yang telah kau berikan padaku.

Hari ini, ketika aku menulis surat ini, aku kirimkan doa-doaku untuk aku, untuk kau, untuk kita. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Semoga Allah menguatkan iman kita. Semoga Allah memanjangkan umur kita. Semoga Allah menyehatkan jiwa dan raga kita. Semoga Allah mengangkat penyakit di dalam tubuh kita. Semoga Allah menajamkan ingatan kita. Semoga Allah memudahkan kita dalam menyerap ilmu. Semoga Allah melapangkan rezeki kita. Semoga Allah memudahkan urusan kita di dunia dan di akhirat. Aaamiiin.

Apa kabar, sahabatku? Kelak, ketika kau membaca sepucuk surat ini, semoga Allah telah mengabulkan doa-doa kita. Kau tahu? Kau terlalu berharga untukku. Terkesan berlebihan memang, tapi aku tahu kau jauh lebih memahamiku daripada diriku sendiri. Kau pun tahu, inilah caraku untuk mengungkapkan betapa berartinya kau untukku. Dan, aku tahu bagaimana caramu menyayangiku. You treat me so well. Katakan padaku, jika kau sudah membaca surat ini. Merçi beaucoup, mes meilleurs amis. Je t’aime.

Ramadhan, Eratkan Tali Silaturahim Kami…

13 Juli 2013

“Kepergianmu” mengajariku banyak hal. Bahwa dalam persahabatan, kita tidak harus selalu bersama, setiap waktu, setiap saat. Bahwa dalam persahabatan, kita juga harus mengenal “dunia” di luar “dunia kita”. Bahwa dalam persahabatan, “pergi” adalah cara terbaik agar sahabat yang kita miliki tidak tergantung pada kita. Tapi kau lupa mengajariku satu hal. Bahwa dalam persahabatan, sesibuk apapun kau, sesedikit apapun waktu yang kaumiliki, sediakanlah waktu untuk sahabat yang menyayangimu, sahabat yang selalu menanti kehadiranmu.

Bulan nan suci telah tiba. Ramadhan! 🙂 Alhamdulillah, Allah masih memberiku kesempatan untuk menjumpai bulan yang selalu ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia ini. Di bulan yang penuh berkah ini, seperti sebelumnya, keluarga besar EDSA mengadakan kegiatan Buka Bersama. Meski bukan merupakan kegiatan rutin, tetapi sepertinya akan menjadi kegiatan yang wajib diadakan setiap Ramadhan datang. Kegiatan yang sebelumnya diadakan di kediaman Mba Vita di Sayegan, hari ini diadakan di rumahku di Wringin Lor, Purwobinangun, Pakem, Sleman, berjarak sekitar 25 km dari kota Yogyakarta. Alhamdulillah, jarak yang lumayan jauh yang harus ditempuh selama satu jam perjalanan ditambah hujan yang membasahi tanah ternyata tidak menyurutkan semangat sahabat-sahabatku untuk kembali menyambung tali silaturahim di bulan Ramadhan. Pasukan yang datang kali ini lumayan banyak. Ada Aji, Anggi, Mas Anjar, Dina, Erlin, Mas Faisal, Iqbal, Mustangin, Muthi’, Mba Nela, Mba Novia, Rani, Mba Rini, Mas Rizal, Mas Sigit, Mba Siti, Unul, Mba Uyunk, Mba Vita, Yuli, dan Zuhri. Ada pula satu teman sekelasku yang “menyusup” dalam acara buka bersama ini, Riza. 😀 Kidding, bro! 😀

Seperti Ramadhan sebelumnya, kami menyiapkan sendiri menu untuk berbuka puasa. Dan, seperti biasanya pula, Mba Vita kembali ditunjuk sebagai Koordinator Sie Konsumsi. 😀

Mba Vita sedang memasak, dibantu Erlin.

Mba Vita dan Erlin.

Unul bersiap mengeksekusi sambal.

Unul bersiap “mengeksekusi” sambal.

"Penyusup" sedang mencoba menghancurkan minum-minuman keras alias es batu.

“Penyusup” sedang mencoba menghancurkan minum-minuman keras alias es batu.

Dina, Mba Rini, dan Mba Siti tengah berkutat dengan ayam.

Dina, Mba Rini, dan Mba Siti tengah berkutat dengan ayam.

Akhirnya, ketika adzan Maghrib telah berkumandang, hampir seluruh menu yang kami siapkan sudah matang, kecuali ikan Bawal. 😀

Menu berbuka puasa kami, sederhana namun penuh nikmat.

Menu berbuka puasa kami, sederhana namun penuh nikmat.

Ya, karena kami sampai di rumah hampir pukul 15.30, waktu yang kami miliki untuk menyiapkan seluruh menu yang kami inginkan menjadi tidak banyak. Awalnya, Ibuk ingin membantu menyiapkan menu berbuka puasa kami, akan tetapi karena beliau tidak tahu apa yang kami inginkan, beliau pun membiarkan kami “mengeksekusi” sendiri. 😀

Eksis dulu sebelum buka puasa.

Eksis dulu sebelum buka puasa.

Alhamdulillah, acara malam ini berjalan lancar. Selesai berbuka puasa, kami pun menunaikan kewajiban kami sebagai Muslim dan Muslimah, yakni sholat Maghrib. Berhubung ikan Bawal belum selesai “dieksekusi”, kami pun dugem a.k.a duduk gembira.

Dugem sebelum buka puasa.

Dugem sebelum buka puasa.

Tak lupa, aku pun di-bully gara-gara fotoku zaman TK dulu, ketika mengikuti Karnaval 17 Agustus. Bullyingisasi yang dimotori oleh Mas Faisal mengundang gelak tawa yang cetar membahana karena mereka bilang di foto itu aku terlihat “menantang orang untuk berkelahi”, padahal baju yang kukenakan baju adat Aceh lengkap dengan make up yang tebal dan rambut yang diberi hiasan. 😦 Baru tahu, ada orang yang di-bully di rumahnya sendiri. -_-

Fotoku zaman TK ketika mengikuti karnaval memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Fotoku zaman TK ketika mengikuti Karnaval memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Ketika adzan berkumandang lagi, kami segera sholat Isya’ dan sholat tarawih dipimpin oleh Mas Rizal. Selesai sholat tarawih, barulah kami menyantap makanan yang telah kami persiapkan.

Mari makaaaaaaaaannn!

Mari makaaaaaaaaannn!

Sial! Duri ikan Bawal berhenti di tenggorokan Zuhri. Alamak, kasihan sekali sahabatku yang satu ini. Mukanya memerah, matanya pun berkaca-kaca. Hingga sahabat-sahabatku berpamitan pulang, duri itu masih setia menunggui tenggorokan Zuhri. Alhamdulillah, sekitar satu jam berikutnya, Zuhri mengabariku bahwa duri itu sudah tertelan. Congratz, Zu! 🙂

Sangat menghargai orang-orang yang mampu mempertahankan persahabatan mereka selama setahun, dua tahun, tiga tahun, hingga bertahun-tahun. Menjaga persahabatan agar tetap awet tentu susah-susah gampang. Ya Allah, syukurku atas segala nikmat dan karunia yang telah Engkau berikan padaku. Kau izinkan aku memiliki sahabat-sahabat yang bersedia menyediakan waktunya untukku di tengah-tengah kesibukan mereka. Subhanallaaah. Semoga tali persaudaraan ini tak pernah terputus hingga akhir hayat kami kelak. Teruntuk sahabat-sahabat yang belum sempat datang karena beberapa halangan, semoga dilancarkan dan dimudahkan segala urusannya, semoga yang sakit segera diberi kesembuhan, semoga yang tengah dalam kesulitan segera diberi kemudahan, Aaamiiin. Aku memang pernah memiliki satu orang yang mengajariku banyak hal dengan “kepergiannya”, tapi kini aku memiliki lebih banyak orang yang mengajariku lebih banyak hal dengan kehadirannya di sampingku. Alhamdulillaaah. Ada, akan selalu ada ganti untuk yang telah pergi dan hilang—yang entah akan kembali atau tidak. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Soto Sampah, Rasanya Berbanding Terbalik dengan Namanya

Soto Sampah

Soto Sampah

Siapa tak mengenal soto? Salah satu kuliner khas Indonesia ini dapat dengan mudah ditemui di hampir seluruh kota di Indonesia. Sebut saja Soto Kudus, Soto Lamongan, Soto Sokaraja, Coto Makassar, dan lain sebagainya. Tentu soto-soto tersebut sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tetapi, bagaimana dengan Soto Sampah?

Dahi Anda pasti akan berkerut ketika nama makanan ini disebutkan. Ya, Soto Sampah. Sekilas tidak ada bedanya dengan soto-soto yang pernah kita jumpai sebelumnya. Ada nasi putih, tauge, mie putih dan tentu saja kuah yang menggoda. Namun, tidak ada daging ayam atau daging sapi seperti biasanya. Sebagai gantinya, lemak ayam yang menghiasi sepiring Soto Sampah ini.

Jangan salah, meski namanya terkesan aneh untuk nama sebuah makanan, soto ini memiliki rasa yang luar biasa nikmat. Cukup dengan Rp 4.000,00, Anda bisa menikmati sepiring Soto Sampah yang cocok disantap ketika dingin menyergap tubuh Anda. Anda juga bisa menikmati lauk-pauk yang tersedia, seperti tempe mendoan, telur balado, perkedel, dan lain-lain tanpa merogoh kocek yang cukup dalam. Tertarik mencoba? Datang saja ke arah utara Tugu, warung yang buka 24 jam ini terletak di seberang SPBU Kranggan.

Soto Sampah, Bad Name for Amazing Taste!

Soto Sampah

Soto Sampah

Who doesn’t know soto? This Indonesian food can be easily found in almost in the whole of Indonesia. Soto Kudus, Soto Lamongan, Soto Sokaraja, Coto Makassar, etc. are absolutely familiar for us. What about Soto Sampah?

You will have your forehead wrinkled when you hear someone tells you about Soto Sampah for the first time. Soto Sampah isn’t different from other soto we have met before at first. Rice, bean sprouts, white noodle, and sauce. But, there’s no chicken or beef as usual. Soto Sampah has fat to replace the chicken or beef.

Although the name is absolutely bad for a name of food, the taste is so amazing. Only Rp 4.000,00, you will have a plate of Soto Sampah. It will be so delicious when you eat it in the night. You can have your side dishes like tempe mendoan, telur balado, perkedel, etc. without getting worry with your wallet. D’you wanna try? You can go to Tugu, go straight to the north, and you will find SPBU Kranggan. Soto Sampah is across SPBU Kranggan. You can go there anytime since it opens 24 hours.