Une Petite Lettre pour Meilleurs Amis…

[Video by Faisal Abidin]

Aku tidak akan pernah mengenalmu jika saja kita tidak “terdampar” di kampus kita tercinta ini. Biar sajalah orang-orang meragukan bahkan mencibir kampus kita. Toh, aku tetap akan bersyukur. Bagiku, ini adalah salah satu nikmat Allah yang diberikan kepadaku, kepada kita. Bayangkan saja jika masing-masing dari kita tidak berada di mana kita seharusnya berada sekarang. Aku tidak yakin kita akan memiliki ikatan persahabatan yang menakjubkan seperti ini. Ya, menakjubkan. Bagiku, persahabatan kita terlalu menakjubkan dan aku selalu merasa beruntung karena memilikimu.

Persahabatan, bagaimanapun, bukan tentang berapa lama waktu yang telah kita habiskan bersama. Aku tidak suka menggunakan ukuran waktu untuk menggambarkan betapa sejatinya persahabatan kita. Ayolah, kurang-lebih baru 3 tahun ini, kan, kita bersama-sama? Kita akan kalah total jika ukuran persahabatan kita hanya diukur dengan waktu. Di luar sana, ada begitu banyak orang yang memiliki persahabatan yang telah dijalin selama lima tahun, enam tahun, tujuh tahun, dan seterusnya. Kita? Baru 3 tahun! Lalu, bagaimana kita harus mengukur sejatinya persahabatan kita? Tidak ada. Tidak ada? Ya, tidak ada. Tidak ada alat ukur apapun yang bisa mengukur persahabatan kita.

Aku, tahunya, kita selalu bersama meski kita dihadapkan pada kesibukan masing-masing. Aku, tahunya, kau selalu bersedia untuk meluangkan waktu sejenak hanya sekadar untuk hang out bersamaku. Aku, tahunya, kau tak pernah mengeluh meski waktu yang kaugunakan untuk bertemu denganku sebenarnya lebih berharga untuk urusan yang lebih penting. Aku, tahunya, kau selalu ada ketika aku membutuhkan. Aku, tahunya, kau tak pernah benar-benar marah padaku. Aku, tahunya, kau selalu datang kepadaku dengan wajah yang menyenangkan. Aku, tahunya, kau selalu mengingatkanku setiap aku berbuat kesalahan. Aku, tahunya, kau benar-benar tahu cara membahagiakanku. Ah, terlalu banyak kebaikan yang telah kau berikan padaku.

Hari ini, ketika aku menulis surat ini, aku kirimkan doa-doaku untuk aku, untuk kau, untuk kita. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Semoga Allah menguatkan iman kita. Semoga Allah memanjangkan umur kita. Semoga Allah menyehatkan jiwa dan raga kita. Semoga Allah mengangkat penyakit di dalam tubuh kita. Semoga Allah menajamkan ingatan kita. Semoga Allah memudahkan kita dalam menyerap ilmu. Semoga Allah melapangkan rezeki kita. Semoga Allah memudahkan urusan kita di dunia dan di akhirat. Aaamiiin.

Apa kabar, sahabatku? Kelak, ketika kau membaca sepucuk surat ini, semoga Allah telah mengabulkan doa-doa kita. Kau tahu? Kau terlalu berharga untukku. Terkesan berlebihan memang, tapi aku tahu kau jauh lebih memahamiku daripada diriku sendiri. Kau pun tahu, inilah caraku untuk mengungkapkan betapa berartinya kau untukku. Dan, aku tahu bagaimana caramu menyayangiku. You treat me so well. Katakan padaku, jika kau sudah membaca surat ini. Merçi beaucoup, mes meilleurs amis. Je t’aime.

Ramadhan, Eratkan Tali Silaturahim Kami…

13 Juli 2013

“Kepergianmu” mengajariku banyak hal. Bahwa dalam persahabatan, kita tidak harus selalu bersama, setiap waktu, setiap saat. Bahwa dalam persahabatan, kita juga harus mengenal “dunia” di luar “dunia kita”. Bahwa dalam persahabatan, “pergi” adalah cara terbaik agar sahabat yang kita miliki tidak tergantung pada kita. Tapi kau lupa mengajariku satu hal. Bahwa dalam persahabatan, sesibuk apapun kau, sesedikit apapun waktu yang kaumiliki, sediakanlah waktu untuk sahabat yang menyayangimu, sahabat yang selalu menanti kehadiranmu.

Bulan nan suci telah tiba. Ramadhan! 🙂 Alhamdulillah, Allah masih memberiku kesempatan untuk menjumpai bulan yang selalu ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia ini. Di bulan yang penuh berkah ini, seperti sebelumnya, keluarga besar EDSA mengadakan kegiatan Buka Bersama. Meski bukan merupakan kegiatan rutin, tetapi sepertinya akan menjadi kegiatan yang wajib diadakan setiap Ramadhan datang. Kegiatan yang sebelumnya diadakan di kediaman Mba Vita di Sayegan, hari ini diadakan di rumahku di Wringin Lor, Purwobinangun, Pakem, Sleman, berjarak sekitar 25 km dari kota Yogyakarta. Alhamdulillah, jarak yang lumayan jauh yang harus ditempuh selama satu jam perjalanan ditambah hujan yang membasahi tanah ternyata tidak menyurutkan semangat sahabat-sahabatku untuk kembali menyambung tali silaturahim di bulan Ramadhan. Pasukan yang datang kali ini lumayan banyak. Ada Aji, Anggi, Mas Anjar, Dina, Erlin, Mas Faisal, Iqbal, Mustangin, Muthi’, Mba Nela, Mba Novia, Rani, Mba Rini, Mas Rizal, Mas Sigit, Mba Siti, Unul, Mba Uyunk, Mba Vita, Yuli, dan Zuhri. Ada pula satu teman sekelasku yang “menyusup” dalam acara buka bersama ini, Riza. 😀 Kidding, bro! 😀

Seperti Ramadhan sebelumnya, kami menyiapkan sendiri menu untuk berbuka puasa. Dan, seperti biasanya pula, Mba Vita kembali ditunjuk sebagai Koordinator Sie Konsumsi. 😀

Mba Vita sedang memasak, dibantu Erlin.

Mba Vita dan Erlin.

Unul bersiap mengeksekusi sambal.

Unul bersiap “mengeksekusi” sambal.

"Penyusup" sedang mencoba menghancurkan minum-minuman keras alias es batu.

“Penyusup” sedang mencoba menghancurkan minum-minuman keras alias es batu.

Dina, Mba Rini, dan Mba Siti tengah berkutat dengan ayam.

Dina, Mba Rini, dan Mba Siti tengah berkutat dengan ayam.

Akhirnya, ketika adzan Maghrib telah berkumandang, hampir seluruh menu yang kami siapkan sudah matang, kecuali ikan Bawal. 😀

Menu berbuka puasa kami, sederhana namun penuh nikmat.

Menu berbuka puasa kami, sederhana namun penuh nikmat.

Ya, karena kami sampai di rumah hampir pukul 15.30, waktu yang kami miliki untuk menyiapkan seluruh menu yang kami inginkan menjadi tidak banyak. Awalnya, Ibuk ingin membantu menyiapkan menu berbuka puasa kami, akan tetapi karena beliau tidak tahu apa yang kami inginkan, beliau pun membiarkan kami “mengeksekusi” sendiri. 😀

Eksis dulu sebelum buka puasa.

Eksis dulu sebelum buka puasa.

Alhamdulillah, acara malam ini berjalan lancar. Selesai berbuka puasa, kami pun menunaikan kewajiban kami sebagai Muslim dan Muslimah, yakni sholat Maghrib. Berhubung ikan Bawal belum selesai “dieksekusi”, kami pun dugem a.k.a duduk gembira.

Dugem sebelum buka puasa.

Dugem sebelum buka puasa.

Tak lupa, aku pun di-bully gara-gara fotoku zaman TK dulu, ketika mengikuti Karnaval 17 Agustus. Bullyingisasi yang dimotori oleh Mas Faisal mengundang gelak tawa yang cetar membahana karena mereka bilang di foto itu aku terlihat “menantang orang untuk berkelahi”, padahal baju yang kukenakan baju adat Aceh lengkap dengan make up yang tebal dan rambut yang diberi hiasan. 😦 Baru tahu, ada orang yang di-bully di rumahnya sendiri. -_-

Fotoku zaman TK ketika mengikuti karnaval memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Fotoku zaman TK ketika mengikuti Karnaval memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Ketika adzan berkumandang lagi, kami segera sholat Isya’ dan sholat tarawih dipimpin oleh Mas Rizal. Selesai sholat tarawih, barulah kami menyantap makanan yang telah kami persiapkan.

Mari makaaaaaaaaannn!

Mari makaaaaaaaaannn!

Sial! Duri ikan Bawal berhenti di tenggorokan Zuhri. Alamak, kasihan sekali sahabatku yang satu ini. Mukanya memerah, matanya pun berkaca-kaca. Hingga sahabat-sahabatku berpamitan pulang, duri itu masih setia menunggui tenggorokan Zuhri. Alhamdulillah, sekitar satu jam berikutnya, Zuhri mengabariku bahwa duri itu sudah tertelan. Congratz, Zu! 🙂

Sangat menghargai orang-orang yang mampu mempertahankan persahabatan mereka selama setahun, dua tahun, tiga tahun, hingga bertahun-tahun. Menjaga persahabatan agar tetap awet tentu susah-susah gampang. Ya Allah, syukurku atas segala nikmat dan karunia yang telah Engkau berikan padaku. Kau izinkan aku memiliki sahabat-sahabat yang bersedia menyediakan waktunya untukku di tengah-tengah kesibukan mereka. Subhanallaaah. Semoga tali persaudaraan ini tak pernah terputus hingga akhir hayat kami kelak. Teruntuk sahabat-sahabat yang belum sempat datang karena beberapa halangan, semoga dilancarkan dan dimudahkan segala urusannya, semoga yang sakit segera diberi kesembuhan, semoga yang tengah dalam kesulitan segera diberi kemudahan, Aaamiiin. Aku memang pernah memiliki satu orang yang mengajariku banyak hal dengan “kepergiannya”, tapi kini aku memiliki lebih banyak orang yang mengajariku lebih banyak hal dengan kehadirannya di sampingku. Alhamdulillaaah. Ada, akan selalu ada ganti untuk yang telah pergi dan hilang—yang entah akan kembali atau tidak. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Ada… Ada yang Jauh Lebih Paham…

29 April 2013

Pengalaman akan selalu menjadi guru terbaik. Akan selalu.

Bagaimana? Kau sudah merasakannya, bukan? Merasakan apa yang pernah kualami dulu. Menyakitkan? Tentu saja. Kau pun tahu, aku dulu hampir menangis. Bukan, bukan karena diceramahi, diomeli, dimarahi atau digunjing di belakang yang membuatku bersedih. Tetapi ketika tak ada lagi yang peduli. Tetapi ketika semua orang memilih untuk menyimpan kata-katanya. Tetapi ketika semua orang memilih “pergi”. Itu yang menyakitkan.

Bagaimana rasanya menanggung semuanya sendirian? Bagaimana rasanya ketika orang-orang berusaha terlihat sibuk agar memiliki alasan untuk tidak membantumu? Bagaimana rasanya ketika orang-orang menganggap semua ucapanmu hanya angin lalu? Bagaimana ketika ucapanmu hanya masuk ke telinga kanan kemudian keluar dari telinga kiri? Bagaimana rasanya?

Aku dulu pun kesal, jengkel, marah, kecewa. Entahlah. Semua perasaan tiba-tiba menyatu, mengaduk-aduk hati dan otak. Ingin sekali membalas perbuatan orang-orang itu. Ingin sekali melakukan hal yang sama. Tapi, tunggu! Jika aku melakukannya, apa bedanya aku dengan mereka? Sama saja. Aku akan menjadi sama jahatnya dengan mereka. Dan, aku tidak mau sama dengan mereka. Aku berbeda. Sangat berbeda. Maka, saat itu kuputuskan untuk diam. Bersabar. Semua ada waktunya. Ada waktunya ketika mereka harus mengalaminya sendiri.

Dan, waktu yang dijanjikan telah tiba. Hari ini. Kau mengeluh. Keluhan yang sama yang pernah kulontarkan dulu, “Kalian kemana?”. Aku hanya tersenyum mendengar kalimatmu. Sudah cukup lama aku tak mengucapkannya, aku bahkan hampir lupa kalau dulu aku yang paling sering mengucapkannya. Dan, hari ini kau mengingatkanku tentang dua kata sakti itu.

Ini lho yang dulu kurasakan. Ini lho yang sedari dulu membuatku kecewa. Tak ada kawan yang bisa membantuku. Tak ada kawan yang peduli. Aku bahkan kebingungan, membedakan mana kawan mana lawan. Segalanya absurd.

Pengalaman akan selalu menjadi guru terbaik. Akan selalu.

Dulu, aku berharap kau akan merasakan hal yang sama sepertiku. Bukan dendam. Agar kau tahu. Agar kau paham. Agar kau mengerti betul. Seperti ini rasanya ketika tidak ada lagi yang peduli.

Dan, sungguh, ada yang jauh lebih paham. Ada… Ada yang jauh lebih paham kapan waktu yang tepat untuk memberimu pengalaman itu. Ada yang jauh lebih paham, hari ini adalah waktu yang tepat. Sangat tepat.

A Javanese Heart

27 April 2013

Niat untuk bermalam Ahad di kos gagal ketika ada sebuah SMS masuk mengajak hang out. Ya sudah, daripada bengong di kos dan nanti ujung-ujungnya galau memikirkan Thunder (halah), aku iyakan saja. Malam ini, bersama Mba Nisa, Mas Faisal, dan Mas Anjar, aku menghabiskan malam Ahad di Malioboro naik TransJogja. Sesekali naik angkutan umum boleh dong? 😀

Karena dadakan, kami hanya pergi berempat. Seperti biasa, kami berkumpul di kontrakan Mas Faisal. Kami menuju halte TransJogja di Tegal Turi. Aku lupa kami naik bus jalur berapa, seingatku dari Tegal Turi kami turun di halte Museum Perjuangan dan pindah ke bus jalur 2B dan turun di halte Taman Pintar. Selanjutnya, kami berjalan kaki menuju kawasan Malioboro. Tujuan pertama kami adalah hunting ice cream. Jadilah kami mengantri di McDonald’s di Mal Malioboro. Well, sebenarnya bukan kami yang mengantri, tapi Mas Faisal dan Mas Anjar 😀

Perjuangan membeli ice cream.

Perjuangan membeli ice cream.

Akhirnya… setelah mengantri cukup lama, ice cream McFlurry warna-warni sudah berpindah ke tanganku dan Sundae Strawberry juga berpindah ke tangan Mba Nisa. Mas Faisal juga membeli McFlurry warna-warni dan Mas Anjar membeli Sundae Strawberry. Kami pun mencari tempat duduk yang kosong di sepanjang jalan Malioboro.

Selesai menghabiskan ice cream, aku mengusulkan untuk mencari tempat makan dan Mas Faisal langsung menunjuk KFC yang terletak di seberang jalan.

“Serius?” tanyaku.

“Iya,” jawabnya mantap.

Setelah berdebat agak panjang, kami pun memantapkan langkah kaki kami ke KFC. Setiba di sana, Mas Faisal langsung menuju tempat pemesanan untuk memesan (atau melihat lebih jelas harga yang terpampang di sana, ya?). Tiba-tiba ia langsung membalik badan. Perasaanku tidak enak. Sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Dan…

“Gila! Es teh Rp 8.000,00. Keluar yuk,” katanya.

Aku segera memutuskan untuk mengambil langkah seribu alias kabur! Meninggalkan Mba Nisa, Mas Faisal, dan Mas Anjar di dalam. Tak lama kemudian, mereka keluar.

DICARI: FAISAL ABIDIN

Tersangka atas tuduhan perbuatan memalukan di KFC Malioboro.

Kami tertawa cekikikan, membayangkan betapa bodohnya kami tadi.

Ujung-ujungnya, kami makan di Kafe Tiga Tjeret alias Angkringan. Angkringan tetap menjadi pilihan terbaik untuk anak kos di akhir bulan 😀 Akhir bulan kok bisa beli ice cream, ya? Aku bingung 😀

Kenyang, kami pun ingin pulang. Sayang, TransJogja sudah tidak beroperasi lagi karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.19. Kalaupun beroperasi, petugas TransJogja tidak bisa menjamin apakah kami akan sampai Tegal Turi atau tidak. Gerimis mulai turun membasahi jalan Malioboro. Ketika kami melewati kumpulan orang-orang yang menari ini, mereka seolah-olah tidak memedulikan gerimis. Mereka terus menari, menari, dan menari.

Dancing in the rain.

Dancing in the rain.

Ketika hujan semakin deras, orang-orang yang sebelumnya berjalan santai menikmati indahnya Malioboro di malam hari tiba-tiba langsung berhamburan ke sana kemari mencari tempat untuk berteduh, tak terkecuali kami. Malam semakin larut, kami harus segera mencari kendaraan untuk pulang. Ingin pulang naik delman, tetapi ongkosnya mahal, Rp 80.000,00! Akhirnya, kami mencoba menawar becak. Bapak Becak minta Rp 20.000,00 per becak. Mas Faisal menawar Rp 15.000,00 per becak. Terjadilah proses tawar-menawar yang cukup panjang dan aku baru sadar kalau Mas Faisal sungguh pintar menawar, melebihi perempuan 😀 Tidak mencapai kesepakatan, kami pun pergi. Tiba-tiba Bapak Becak memanggil kami dan akhirnya sepakat Rp 15.000,00 per becak. Beliau segera mencari temannya sesama tukang becak, jadilah Rp 40.000,00 untuk 2 becak. Aku dan Mas Faisal, Mba Nisa dan Mas Anjar.

Di sepanjang jalan, aku dan Mas Faisal membicarakan usaha brand clothing yang baru ia mulai bersama Mas Anjar, Match Point. Tiba-tiba ia berkata, “Lin, Jalan Pramuka is so far away from Malioboro, are you sure we want to give him only Rp 15.000,00 per pedicab?”

“Iya ya, Mas. Kasihan bapaknya,” jawabku polos.

Can you speak English?

Absolutely, yes! You know what? We have a Javanese heart,” kataku.

Nggak tegaan, ya?”

“Iya.”

Aku dan Mas Faisal akhirnya sepakat untuk membayar Rp 20.000,00 per becak, seperti keinginan Bapak Becak sebelumnya.

Daaaaaaaaannn, tahukah kalian? Ketika aku memberi selembar uang dua puluh ribuan ke Bapak Becak yang telah mengantarku dan Mas Faisal, beliau tersenyum dengan tulus. Bagaimana kita bisa tahu seseorang tersenyum dengan tulus atau tidak? Cukup lihat matanya. Aku melihat kedua mata Bapak Becak itu berbinar-binar karena bahagia.

Ya Allah, mudahkanlah segala urusannya di dunia dan di akhirat. Amin.

Orang boleh berkata orang Jawa terlalu perasa, apa-apa dimasukkan dalam hati, apa-apa menggunakan hati. Biarlah. Sebagai orang Jawa, aku justru bangga. Hei, orang Jawa hanya terlalu peka, okeI have a Javanese heart and I’m proud 😀

ES-PI-I-EL-EL: SPELL!

Foto: Widya. Sebanyak 37 peserta mengikuti Spelling Contest Englishvaganza III.

Foto: Widya. Sebanyak 37 peserta mengikuti Spelling Contest Englishvaganza III.

Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta kembali menggandeng EDSA (HMPS PBI) untuk menyelenggarakan serangkaian kegiatan Englishvaganza III. Dengan mengusung tema Burn Your Energy, Let Your Colors Burst, kegiatan yang telah memasuki tahun ketiga ini resmi dibuka pada Sabtu (13/4) di Hall Kampus II UAD.

Selang seminggu dari opening Englishvaganza III–Sabtu (20/4)-Red, berlangsung Spelling Contest “Break the Limit, Get the Real of You”. Lomba pertama dalam serangkaian kegiatan Englishvaganza III ini diikuti oleh 37 peserta yang seluruhnya adalah mahasiswa/i PBI. FYI, Englishvaganza merupakan kegiatan tahunan yang diadakan khusus untuk mahasiswa/i PBI yang bertujuan untuk meningkatkan potensi akademik dan non akademik mahasiswa/i PBI sekaligus menciptakan atmosfer kompetisi di lingkungan PBI.

Foto: Widya. Salah satu peserta sedang mengeja sebuah kata yang diberikan dewan juri.

Foto: Widya. Salah satu peserta sedang mengeja sebuah kata yang diberikan dewan juri.

Spelling Contest merupakan kegiatan yang mengadaptasi Spelling Bee, sebuah ajang perlombaan mengeja vocabulary (kata-kata dalam bahasa Inggris), yang telah terselenggara di Amerika Serikat dan berbagai negara lainnya.

Foto: Widya. Penonton memadati Hall Kampus II UAD.

Foto: Widya. Penonton memadati Hall Kampus II UAD.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB di Hall Kampus II UAD ini akhirnya dimenangkan oleh Berty Ariesta W. (2010)–tahun sebelumnya menjadi Juara II pada lomba yang sama–, disusul Rini Setiani (2010), dan Zulfi Ramitha Amalia (2011). (Alin)

Segenggam Rindu untuk Sahabat

Pernahkah kau merindukan seseorang yang jelas-jelas ada di depan matamu? Aku pernah.

Pernahkah kau merasa kehilangan seseorang yang jelas-jelas menyapamu ketika bertemu? Aku pernah.

Pernahkah kau merindukan sahabatmu? Tentu pernah.

Namun, pernahkah kau merindukan sahabat yang hampir bisa kautemui setiap hari? Aku pernah.

Pernahkah kau merasa kehilangan sahabatmu? Tentu pernah.

Namun, pernahkah kau merasa kehilangan sahabatmu yang selalu menyapamu ketika bertemu? Aku pernah.

Kapan? Sekarang. Saat ini.

We Were….. We Are…..

Dear Erlin, Hany, Unul, Zuhri…

Aku bersyukur Allah telah menurunkan kalian ke dunia untuk menemaniku.

Mewarnai duniaku yang tak berwarna. Melukis warna-warni pelangi terindah di langit-langit hatiku.

Tertawa hingga menangis. Menertawakan luka, menertawakan kesedihan, menertawakan kebodohan kita sendiri.

Aku rindu saat-saat itu. Saat dimana kita masih memiliki “roh”. Tidak seperti saat ini. Kosong.

Aku rindu tawa itu. Aku rindu canda itu. Aku rindu air mata itu.

Aku merindukan segalanya.

Aku merindukan warna-warni pelangi yang “menguatkan”.

Entah kapan kalian akan menemukan tulisan ini. Mungkin nanti, esok, lusa, atau mungkin berpuluh-puluh tahun kemudian. Aku tidak tahu. Saat ini, yang kutahu pasti, aku merindukan kalian. Merindukan kebersamaan kita yang dulu. Sebelum jarak dan waktu menggilasnya dengan keras.

“Kita tersenyum dalam luka

Menangis dalam tawa

Melewati semua

Takkan pernah aku sesali

Semua yang terjadi

Terlukis di hati….”

 

Sore ini, langit Yogyakarta mendung. Angin berhembus kencang. Dedaunan menari, memamerkan keelokannya. Tirai berayun-ayun. Hujan pun turun.

Get Married: Hot Topic of 6th Semester Female Students

12 April 2013

Menikah. Hmmm…. topik ini menjadi semakin sering kudengar. Maklum, topik khusus mahasiswi semester 6 yang rata-rata sudah berkepala dua alias berumur 20 tahun ke atas. Berbicara tentang topik yang satu ini membuatku teringat pada kejadian saat Mba Nisa dan Mba Mlathi heboh membicarakan jodoh. Saat itu aku baru semester 4. Setahun yang lalu.

Saat itu aku hanya berkata, “Nggak ada topik lain apa? Jodoh mulu….”

“Awas, ya, kalau kamu sudah semester 6, kamu bakal ngerasain hal yang sama. Galau,” tegur Mba Nisa.

Dan aku hanya menganggapnya angin lalu. Sekarang….

“Aku nanti minta mahar rumah dan seisinya,” kata Nuha.

“Rumah siput?” tanya Muthi’.

“Aku mau minta seperangkat novel aja deh,” giliranku berpendapat.

“Novel tentang pernikahan, ya? Tentang rumah tangga gitu,” sahut Muthi’.

Aku hanya tersenyum.

“Minta mahar aneh-aneh, calonnya siapa?” tanyaku.

* * *

“Akhir-akhir ini aku memimpikan Thunder,” kataku.

“Mungkin karena aku terlalu sering memikirkannya,” lanjutku.

“Bisa jadi,” jawab Nuha.

Tentang jodoh, sekarang sudah kuanggap santai. Kalau jodoh, pasti ada jalan. Kalau nggak, ya udah, pasti ada yang lebih baik lagi,” aku mulai berceloteh.

“Doa aja, Lin. ‘Ya Allah, kalau dia jodohku, maka jodohkanlah. Kalau tidak, maka jodohkanlah. Jika dia bukan jodohku, maka jangan jodohkan dia dengan orang lain.’ Doa kayak gitu aja,” ujar Muthi’.

“Maksa,” sahutku.

“Aku tidak berharap mereka break up kok, setiap selesai sholat aku berdoa ‘Ya Allah, semoga selesai S1, dia melamarku.’ Boleh, ‘kan?”

Hahahaha….”

Muthi’ dan Nuha seketika tertawa, namun mereka dengan kompak berkata, “Amiiiiiiiiinnn.”

“Ucapan ‘kan doa, jadi daripada mengucapkan yang buruk-buruk, lebih baik mengucapkan yang baik-baik. Semoga saja menjadi kenyataan.”

* * *

Menikah. Urusan satu ini terbilang rumit juga, terutama untuk perempuan. Sebenarnya aku tidak terlalu memikirkan urusan yang satu ini, tetapi karena terlalu banyak orang yang membicarakannya, mau tidak mau otakku langsung ter-setting untuk memikirkannya. Bagaimana tidak? Di kelas, dosen-dosen sudah mulai membicarakan masalah jodoh dan pernikahan. Di luar kelas, teman-temanku sudah cukup fasih. Aduh….

Tentang jodoh. Aku percaya janji Allah melalui Q.S. An-Nuur ayat 26 yang berbunyi, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).”

Tentang Thunder, cukup baca firman Allah yang satu ini saja 🙂

Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (Q.S. Al Baqarah: 216)