Kartini Abad 21

Raden Ajeng Kartini
Sumber: id.wikipedia.org/wiki/Kartini

Betapa beruntungnya perempuan-perempuan Indonesia saat ini. Mereka tidak hanya berkutat dengan pekerjaan rumah yang memang selalu diidentikkan dengan pekerjaan perempuan, seperti memasak, mencuci piring dan pakaian, mengurus anak dan suami, membersihkan rumah, dan lain sebagainya. Kini, di zaman yang serba modern, mereka bebas mengenyam pendidikan setinggi mungkin, aktif di berbagai lembaga/organisasi, atau menjadi wanita karier. Mereka bebas memilih apapun yang mereka inginkan untuk dilakukan sepanjang tidak melanggar norma agama dan norma masyarakat yang berlaku. Mereka justru dituntut untuk aktif dan terlibat dalam berbagai hal. Namun, perlu diketahui bahwa tentu saja bukan suatu perkara yang mudah untuk bisa menikmati kebebasan seperti sekarang ini. Untuk mencapainya, ada perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa hebat yang harus dilakukan.

Adalah Raden Ajeng Kartini, sosok perempuan Jawa yang dianggap menjadi pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Ia lahir di Jepara, sebuah kota kecil di ujung utara Jawa yang terkenal dengan ukiran kayunya. Ia adalah putri Raden Mas Ario Sosroningrat—seorang bupati Jepara—dan M.A. Ngasirah. Ia terlahir di tengah-tengah kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Kartini cukup beruntung karena bisa menuntut ilmu hingga usia 12 tahun. Saat itu, tidak banyak perempuan yang bisa menikmati bangku sekolah milik pemerintah Belanda seperti dirinya. Selain karena sekolah-sekolah itu hanya untuk anak-anak dari kalangan priyayi seperti Kartini, di Jawa terdapat adat yang mengharuskan perempuan lebih banyak tinggal di rumah setelah usia 12 tahun karena dianggap sudah bisa dipingit. Mereka tidak diperbolehkan bersekolah seperti laki-laki. Akibatnya, perempuan pada masa Kartini berada pada status sosial yang rendah karena tidak berpendidikan tinggi.

Keadaan ini membuat Kartini ingin menciptakan perubahan agar perempuan tidak lagi dianggap sebagai kanca wingking atau teman “belakang”, yang hanya diam di rumah untuk melakukan pekerjaan rumah, melayani suami dan merawat anak-anaknya. Meskipun saat itu ia tidak diperbolehkan ke luar rumah, ia tidak lantas berdiam diri saja. Ia rajin membaca majalah-majalah dari Eropa yang membuatnya terkagum-kagum dengan kemajuan pola pikir perempuan-perempuan di sana. Ia yang fasih berbahasa Belanda juga rajin mengirim surat untuk teman-teman korespondensinya di Belanda untuk bertukar pikiran dan bercerita tentang impian-impian yang dimilikinya untuk mengubah nasib kaum perempuan Indonesia. Di usianya yang ke-24, ia menikah dengan bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat atas permintaan kedua orang tuanya. Didirikannya Sekolah Kartini di Rembang menjadi awal perjuangannya untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. Beruntung, keinginannya untuk memajukan kaum perempuan didukung sepenuhnya oleh suaminya.

Di abad 21 ini, Kartini memang telah tiada. Namun berkat kegigihannya, kini telah banyak bermunculan Kartini-Kartini muda yang mempunyai pengaruh baik di Indonesia maupun dunia. Sri Mulyani adalah contoh nyata Kartini modern abad 21. Ia menjadi perempuan sekaligus orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia sejak 1 Juni 2010 lalu. Ia menempati urutan ke-72 dari 100 wanita paling berpengaruh di dunia versi Majalah Forbes Agustus 2012 lalu. Contoh lainnya adalah Agnes Monica, penyanyi muda Indonesia yang melebarkan sayapnya di kancah industri Amerika Serikat. Prestasi-prestasi yang diraih Sri Mulyani dan Agnes Monica adalah contoh sederhana bagaimana perempuan saat ini mempunyai pengaruh yang besar melalui bidangnya masing-masing. Prestasi itu tentu saja patut dibanggakan oleh perempuan-perempuan Indonesia. Namun sejatinya, setinggi apapun jabatan mereka dalam pekerjaan dan sebesar apapun gaji yang mereka terima, mereka tidak boleh melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan. Seorang suami tetaplah imam bagi seorang istri, dan istri harus patuh terhadapnya. Seorang ibu tidak boleh lupa untuk mendidik anak-anaknya, calon generasi penerus bangsa.

Untuk mengenang jasa-jasa Kartini, pada tanggal 2 Mei 1964, Presiden Soekarno menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Selain itu, setiap tanggal 21 April, bertepatan dengan tanggal lahirnya, diperingati sebagai Hari Kartini. W.R. Supratman pun ikut andil dalam menghargai jasa Kartini dengan menciptakan lagu “Ibu Kita Kartini”. Nama Kartini diabadikan menjadi tagline kota Jepara, yakni Jepara Bumi Kartini. Namanya juga terdapat di beberapa tempat di Jepara, seperti Museum R.A. Kartini, stadion Gelora Bumi Kartini, dan Pantai Kartini. Ada pula Tugu Kartini yang terletak di Jalan C.S. Tubun no. 1 Jepara. Di tugu itu terdapat patung Kartini yang tangan kirinya sedang memegang pundak seorang anak perempuan sementara tangan kanannya memegang obor. Dari patung tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa Kartini menginginkan adanya perubahan untuk kaum perempuan yang mengalami masa “kegelapan”, masa dimana perempuan tidak diizinkan mengenyam pendidikan. Sekarang, impian Kartini telah menjadi kenyataan, masa “kegelapan” itu telah berlalu dan diganti dengan cahaya terang, seperti judul bukunya, “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Advertisements

Jika Aku Menjadi…Ketua KPK!

Tinggal di negara yang aman, tenteram, damai, sejahtera dan terbebas dari “virus” korupsi merupakan dambaan setiap warga negara yang baik. Namun, apa jadinya ketika kita justru “dipaksa” tinggal di negara yang di dalamnya korupsi tidak hanya membudaya tetapi telah membudidaya?

Baiklah, kita mungkin cukup beruntung karena memiliki Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang bertanggung jawab terhadap masalah korupsi di Indonesia. Sepak terjang KPK dalam memberantas “tikus-tikus” yang merugikan negara pun patut diacungi jempol. Namun, jika boleh berandai-andai, suatu saat nanti aku ingin bisa menjadi Ketua KPK. Setiap orang yang menjadi bagian dari KPK harus bisa mengimplementasikan 9 Nilai Antikorupsi yang meliputi tanggung jawab, disiplin, jujur, sederhana, mandiri, kerja keras, adil, berani, dan peduli. KPK berkewajiban memperbaiki akhlak dan moral negara ini melalui kesembilan nilai luhur tersebut karena pencegahan tindak pidana korupsi merupakan salah satu tugas KPK. Khusus untuk generasi muda, nilai-nilai tersebut harus ditanamkan sejak dini agar “virus” korupsi tidak menggerogoti jiwa mereka dengan cara menyisipkan nilai-nilai tersebut dalam mata pelajaran di sekolah. KPK juga perlu memberi pemahaman yang baik tentang 9 Nilai Antikorupsi terhadap para orang tua dan para pendidik di Indonesia melalui kampanye yang dilakukan di media cetak maupun media elektronik. Melalui langkah preventif ini, diharapkan kasus korupsi akan berkurang dan lama-lama hilang dari bumi Nusantara.


http://lombablogkpk.tempo.co/index/tanggal/1037/MarlinDwinastiti.html

Inovasi untuk Negara Agraris yang Miris

Sejak sebelum merdeka, Indonesia telah dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan alam melimpah. Terbukti dengan singgahnya kapal-kapal di perairan Nusantara yang berasal dari berbagai negara seperti Portugis dan Belanda. Pada awal kedatangannya, negara-negara ini hanya bertujuan untuk mencari rempah-rempah yang semakin sulit ditemukan di daratan Eropa. Namun ketika melihat kekayaan alam yang dimiliki Indonesia, tujuan awal mereka pun berubah. Penjajahan terhadap Indonesia selama berabad-abad mereka lakukan untuk dapat menguasai bumi Indonesia beserta alam dan isinya. Kekayaan alam ini juga yang membuat Indonesia mendapat beberapa julukan. Salah satunya adalah negara agraris karena hasil pertanian yang melimpah dan kemampuan mengekspor beras ke berbagai negara. Namun yang menjadi pertanyaan saat ini adalah: masihkah Indonesia layak disebut sebagai negara agraris? Sayangnya, tidak. Indonesia sekarang bukanlah Indonesia yang dulu. Ungkapan gemah ripah loh jinawi yang menggambarkan kemakmuran dan ketenteraman masyarakat karena kekayaan alam yang dimilikinya tidak lagi berlaku. Lagu yang bertajuk Kolam Susu yang pernah dipopulerkan oleh band lawas Koes Plus pun tinggal lirik belaka.

Saat ini, jangankan untuk mengekspor beras ke negara lain. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri saja Indonesia harus mengimpor berjuta-juta ton beras setiap tahunnya. Hal ini terjadi sebagai akibat dari semakin berkurangnya lahan-lahan pertanian di berbagai kota di Indonesia. Lahan-lahan itu telah beralih fungsi dengan didirikannya pabrik-pabrik industri, pusat perbelanjaan atau mall, berbagai wahana permainan dan kompleks perumahan yang hanya dinikmati oleh masyarakat kelas menengah ke atas. Karawang adalah salah satu contohnya. Dulu, Karawang merupakan areal persawahan yang luas dan penghasil beras terbesar di Jawa Barat. Tidaklah mengherankan jika kota ini sampai mendapat julukan “Kota Lumbung Padi” atau “Kota Padi”. Namun sekarang, entah masih layak atau tidak Karawang mendapat julukan itu. Pabrik-pabrik industri yang dibangun di atas tanah bekas areal persawahan di Karawang menyebabkan sungai Citarum tidak sedap dipandang mata karena limbahnya.

Inovasi-inovasi dalam bidang pertanian perlu ditingkatkan lagi agar dapat meningkatkan daya saing sektor pertanian dan membangkitkan kesejahteraan petani. Dalam hal ini, inovasi yang dapat dilakukan adalah dengan menciptakan produk barang dan jasa yang memanfaatkan teknologi tepat guna. Kehadiran hand tractor adalah salah satu contoh inovasi untuk meningkatkan semangat para petani yang saat ini enggan mencangkul lahan sawah yang digarapnya. Inovasi yang dikembangkan berdasarkan teknologi tepat guna diharapkan mampu menekan biaya produksi yang sangat tinggi. Apabila produk-produk pertanian yang berbasis teknologi tepat guna tersebut terus dikembangkan, bukan tidak mungkin harga jualnya dapat dijangkau oleh petani yang sebagian besar berasal dari masyarakat menengah ke bawah. Cara lain untuk meningkatkan hasil pertanian sehingga Indonesia tidak perlu mengimpor beras dari negara lain adalah dengan membuka lahan baru untuk areal persawahan, bukan untuk pembangunan pabrik-pabrik industri, mall ataupun wahana permainan. Pemerintah juga perlu memperketat izin pembangunan mall yang kini bagaikan jamur di musim hujan.

Indonesia sebagai negara yang memiliki kekayaan alam melimpah sudah sepantasnya menjaga dan melestarikannya untuk kelangsungan hidup anak-cucu nanti. Inovasi-inovasi yang dilakukan pun seharusnya tidak melupakan warisan-warisan leluhur yang telah diajarkan oleh nenek moyang terdahulu agar terciptanya keharmonisan antara alam dan manusia. Peran seluruh komponen negeri ini sangat diperlukan untuk membuat Indonesia menjadi negara yang layak disebut sebagai negara agraris (lagi).

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.bankmandiri.co.id dalam rangka memperingati HUT Bank Mandiri ke-14. Tulisan adalah karya saya pribadi dan bukan merupakan jiplakan.

Pendidikan untuk Indonesiaku


Akar pendidikan itu pahit, tapi buahnya manis. (Aristoteles)

Berbicara tentang pendidikan di Indonesia tak akan pernah ada habisnya. Ada banyak hal yang harus dikaji ulang dan diperbaiki di sana-sini untuk membuat pendidikan di Indonesia lebih baik lagi dan lagi, terutama kualitas guru dan infrastruktur pendidikan. Kedua komponen dalam pendidikan ini menjadi unsur penting dalam meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) generasi muda di suatu negara. Kelak, generasi muda yang memiliki SDM yang tinggi inilah yang diharapkan dapat mengubah Indonesia menjadi negara maju yang tidak lagi terlilit hutang dan tidak tergantung pada negara-negara lain.

Saat ini, ada ribuan guru di Indonesia yang telah dinyatakan lulus sertifikasi–suatu ujian yang dilakukan untuk mengetahui kualitas dan kemampuan guru dalam mengajar. Untuk guru non Sarjana, sertifikasi diberikan kepada mereka yang berusia 50 tahun ke atas, berada pada golongan IVa dan telah mengabdi selama minimal 20 tahun. Untuk guru yang telah menyandang gelar Sarjana, sertifikasi diberikan setelah masa pengabdian minimal 5 tahun (khusus swasta). Guru yang telah dinyatakan lulus sertifikasi berhak mendapatkan tunjangan di luar gaji pokok mereka. Tentu bukan tanpa alasan mengapa guru bersertifikasi diberi uang tunjangan. Tujuan diberikannya tunjangan ini adalah agar guru yang telah bersertifikasi dapat mencukupi kebutuhannya dan tidak perlu mempunyai “pekerjaan sampingan” yang dapat mengganggu kewajiban utamanya mendidik generasi muda penerus bangsa. Diharapkan dengan adanya sertifikasi ini seorang guru dapat meningkatkan kualitas dirinya dan dapat menjadi seorang guru yang profesional dalam bekerja. Apabila tujuan ini tercapai, tentu akan berimbas pada kualitas murid-murid yang mereka didik. Namun pertanyaannya adalah apakah tujuan yang diharapkan dari adanya sertifikasi ini telah tercapai? Sayangnya, jauh api dari panggang. Fakta mengatakan bahwa tujuan sertifikasi ini BELUM sepenuhnya tercapai. Di sebuah sekolah yang tidak jauh dari perkotaan, penulis melihat ada beberapa guru yang meninggalkan murid-muridnya di dalam kelas dan mengurus “bisnis sampingan” yang justru modalnya berasal dari uang tunjangan yang mereka terima. Murid hanya diminta untuk mengerjakan latihan soal di dalam buku paket atau LKS (Lembar Kerja Siswa) sesuai mata pelajaran yang sedang diajarkan. Pembelajaran yang kurang efektif tentu saja, karena saat ini guru tidak hanya dituntut untuk dapat mentransfer ilmu yang dimilikinya, tetapi juga menanamkan karakter dan memperbaiki akhlak murid-murid. Lalu, bagaimana seorang guru dapat menanamkan karakter dan memperbaiki akhlak murid-muridnya jika ia justru meninggalkan tanggung jawabnya? Inilah pekerjaan rumah yang seharusnya dapat diselesaikan oleh mereka yang terlibat dan ahli dalam dunia pendidikan. Namun dunia pendidikan di Indonesia seolah-olah kebingungan dengan keadaan ini. Di satu sisi, uang tunjangan yang diberikan dapat meningkatkan kesejahteraan seorang guru, namun ternyata di sisi lain uang tersebut digunakan untuk “bisnis sampingan” yang menyita waktunya dan mengabaikan kewajiban utamanya. Selain diberi uang tunjangan, tampaknya seorang guru perlu diberi pengarahan untuk meningkatkan kualitas dalam mengajar dan menjaga profesionalisme dalam bekerja atau istilah kerennya agar guru tidak makan “gaji buta”.

Masalah lain yang dihadapi oleh pendidikan di Indonesia adalah tidak meratanya infrastruktur yang memadai. Masalah ini cukup rumit karena Indonesia merupakan negara yang besar dan memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi. Di daerah perkotaan, kita bisa dengan mudah menemukan sekolah-sekolah yang cenderung mewah dan memiliki fasilitas yang lengkap. Sekolah-sekolah tersebut tentu sebanding dengan biaya yang tinggi dan hanya bisa dinikmati oleh masyarakat kelas menengah ke atas. Sementara itu, jauh dari kehidupan kota yang serba mewah, ada ribuan sekolah di pelosok-pelosok Indonesia yang tidak layak pakai untuk digunakan belajar, memiliki fasilitas yang tidak lengkap atau bahkan tidak ada sama sekali dan ditempati oleh masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Murid-murid yang memiliki semangat tinggi untuk bersekolah di sana tidak didukung oleh infrastruktur yang dimiliki oleh sekolah-sekolah di perkotaan. Mereka pun harus menempuh jarak puluhan kilometer dengan berjalan kaki dan bahkan ada pula yang harus melewati sungai-sungai untuk “sekadar” menjumpai bapak-ibu guru yang tak kenal lelah mengajarkan ilmu baru untuk mereka. Barangkali cerita yang terinspirasi dari kisah nyata di novel tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan novel Sepatu Dahlan karya Khrisna Pabichara adalah contoh nyata yang mengingatkan kita bahwa tidak semua anak di Indonesia bisa menikmati pendidikan yang layak dan memadai. Alangkah baiknya jika Indonesia meniru negara-negara yang sudah maju, yang setelah merdeka langsung membenahi negaranya dengan meletakkan pendidikan dan kesehatan di urutan pertama yang benar-benar harus diperhatikan. Tidak seperti sekarang ini, para wakil rakyat sibuk membahas renovasi toilet di gedung mewah mereka yang diperkirakan menelan dana Rp 1,3 milyar padahal dunia pendidikan kita sedang berduka karena merebaknya kasus tawuran antar pelajar di ibukota dan berbagai kota besar lainnya di Indonesia. Menurut penulis, akan lebih baik jika dana sebesar itu dialokasikan untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Toh, nantinya negara ini juga yang akan merasakan manisnya pendidikan itu sendiri. Indonesia bisa mencetak generasi yang memiliki SDM yang tinggi, mampu bersaing dengan negara-negara lain di kancah internasional dengan segudang prestasi dan syukur-syukur bisa menjadikan Indonesia negara yang maju. Inilah yang sebenarnya diharapkan oleh para pahlawan yang telah berjuang untuk memerdekakan bangsa ini. Harapan yang hanya bisa dicapai dengan kerja keras yang tak pernah kenal lelah dari seluruh komponen negeri ini. Beruntung, ada banyak orang yang sebenarnya peduli terhadap pendidikan di Indonesia dan menyuarakan kepedulian mereka dengan berbagai cara. Salah satu contohnya adalah penulis novel best seller Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna, A. Fuadi. Ia bersama istrinya, Yayi, mendirikan dan mengelola Komunitas Menara. Komunitas Menara kini tengah berusaha mendirikan 1000 PAUD gratis untuk anak-anak yang kurang mampu di seluruh Indonesia. Harapannya, semoga moral anak bangsa yang saat ini telah jauh meninggalkan adat dan budaya Indonesia bisa diselamatkan melalui anak-anak yang bersekolah di sini. Dan semoga sekolah-sekolah yang didirikan oleh orang-orang yang peduli terhadap pendidikan di Indonesia bisa dinikmati oleh semua kalangan tanpa memandang status sosial yang dimilikinya.