Soto Sampah, Rasanya Berbanding Terbalik dengan Namanya

Soto Sampah

Soto Sampah

Siapa tak mengenal soto? Salah satu kuliner khas Indonesia ini dapat dengan mudah ditemui di hampir seluruh kota di Indonesia. Sebut saja Soto Kudus, Soto Lamongan, Soto Sokaraja, Coto Makassar, dan lain sebagainya. Tentu soto-soto tersebut sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tetapi, bagaimana dengan Soto Sampah?

Dahi Anda pasti akan berkerut ketika nama makanan ini disebutkan. Ya, Soto Sampah. Sekilas tidak ada bedanya dengan soto-soto yang pernah kita jumpai sebelumnya. Ada nasi putih, tauge, mie putih dan tentu saja kuah yang menggoda. Namun, tidak ada daging ayam atau daging sapi seperti biasanya. Sebagai gantinya, lemak ayam yang menghiasi sepiring Soto Sampah ini.

Jangan salah, meski namanya terkesan aneh untuk nama sebuah makanan, soto ini memiliki rasa yang luar biasa nikmat. Cukup dengan Rp 4.000,00, Anda bisa menikmati sepiring Soto Sampah yang cocok disantap ketika dingin menyergap tubuh Anda. Anda juga bisa menikmati lauk-pauk yang tersedia, seperti tempe mendoan, telur balado, perkedel, dan lain-lain tanpa merogoh kocek yang cukup dalam. Tertarik mencoba? Datang saja ke arah utara Tugu, warung yang buka 24 jam ini terletak di seberang SPBU Kranggan.

Soto Sampah, Bad Name for Amazing Taste!

Soto Sampah

Soto Sampah

Who doesn’t know soto? This Indonesian food can be easily found in almost in the whole of Indonesia. Soto Kudus, Soto Lamongan, Soto Sokaraja, Coto Makassar, etc. are absolutely familiar for us. What about Soto Sampah?

You will have your forehead wrinkled when you hear someone tells you about Soto Sampah for the first time. Soto Sampah isn’t different from other soto we have met before at first. Rice, bean sprouts, white noodle, and sauce. But, there’s no chicken or beef as usual. Soto Sampah has fat to replace the chicken or beef.

Although the name is absolutely bad for a name of food, the taste is so amazing. Only Rp 4.000,00, you will have a plate of Soto Sampah. It will be so delicious when you eat it in the night. You can have your side dishes like tempe mendoan, telur balado, perkedel, etc. without getting worry with your wallet. D’you wanna try? You can go to Tugu, go straight to the north, and you will find SPBU Kranggan. Soto Sampah is across SPBU Kranggan. You can go there anytime since it opens 24 hours.

One Day Trip to Kotagede

Oleh: Marlin Dwinastiti

Apa yang ada di benak Anda ketika Anda mendengar kata Yogyakarta? Sebutan Kota Gudeg dan Kota Pelajar mungkin yang pertama kali Anda pikirkan. Lalu, tempat wisata apa yang akan Anda kunjungi di Yogyakarta? Kaliurang dan Candi Prambanan bisa jadi ada dalam daftar yang wajib Anda kunjungi ketika berwisata di kota ini. Tetapi, tahukah Anda bahwa Yogyakarta tidak hanya melulu tentang Kaliurang dan Candi Prambanan?

Kali ini kita akan mencoba menjelajah salah satu kawasan yang dulunya adalah kerajaan Mataram. Kotagede! Tidak perlu mengeluarkan ongkos yang cukup besar untuk menjelajahi Kotagede. Pasalnya, kita akan lebih nyaman untuk mengeksplorasi keunikan Kotagede dengan berjalan kaki. And, here we go….

Dalem Sopingen

Kita bisa mulai menjelajah Kotagede dari sini, Dalem Sopingen. Sopingen adalah rumah kediaman Raden Amatdalem Sopingi. Bersama Raden Amatdalem Mustahal, beliau menjabat sebagai kepala lurah juru kunci makam di bawah Kasultanan Yogyakarta. Raden Amatdalem Sopingi juga menyediakan rumahnya sebagai tempat singgah bagi pejabat kerajaan yang akan berziarah ke Makam Raja-raja Mataram di Kotagede. Di era 1900-1980 pendapa Sopingen pernah menjadi pusat ruang publik egaliter di Kotagede. Tokoh-tokoh kebangkitan nasional seperti HOS Cokroaminoto (Ketua Sarekat Islam), Samanhoedi (Pendiri Sarekat Islam), KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), dan Ki Hajar Dewantoro (Pemimpin Perguruan Tamansiswa) – bahkan pimpinan komunis seperti Samaun, Muso, dan Alimin – pernah berpidato di pendapa Dalem Sopingen. Dalem Sopingen terdiri dari pendapa, dalem, gandhok kiwo dan tengen, gadri pada bagian belakang, serta mushola di depan barat daya. Atap pendapa Sopingen bersusun tiga, disebut Joglo Pangrawit. Sayang, pada awal tahun 2000-an pendapa Sopingen dijual dan hanya menyisakan lantainya saja.

Tampak depan Dalem Sopingen.

Tampak depan Dalem Sopingen.

Dari Dalem Sopingen, kita lanjut ke Pasar Legi atau biasa juga disebut Pasar Kotagede.

Suasana Pasar Legi.

Suasana Pasar Legi.

Untuk Anda yang menyukai, mengoleksi atau sekadar ingin melihat-lihat berbagai macam unggas yang dijual, bisa datang ke pasar ini ketika kalender Jawa menunjukkan tanggalan legi.

Burung-burung cantik ini dijual di Pasar Kotagede setiap kalender Jawa menunjukkan tanggalan legi.

Burung-burung cantik ini dijual di Pasar Kotagede setiap kalender Jawa menunjukkan tanggalan legi.

Jika Depok memiliki Masjid Kubah Emas, maka Kotagede memiliki Masjid Perak.

Masjid Perak

Masjid Perak

Masjid yang merupakan masjid kedua setelah Masjid Gedhe ini terletak di Jalan Mandarakan, Prenggan (sekarang berada dalam kompleks SMA Muhammadiyah). Masjid ini didirikan pada tahun 1937 oleh Kyai Amir dan H. Masyhudi. Masjid Perak ditujukan untuk mewadahi pertumbuhan umat Islam yang berkembang pesat di Kotagede sejak 1910 dengan hadirnya organisasi Muhammadiyah. Penamaan Masjid Perak mempresentasikan kekuatan kerajinan perak di Kotagede saat itu, tetapi juga membawa spirit religius tertentu.

Bagian dalam Masjid Perak.

Bagian dalam Masjid Perak.

Tentu tidak afdol rasanya jika berwisata ke suatu daerah tanpa mencicipi makanan khas daerah tersebut. Sembari berwisata ke Kotagede, kita bisa mencicipi makanan khas Kotagede yang terbuat dari tepung ketan, parutan kelapa, dan gula merah. Kipo, demikian orang-orang menyebutnya. Kipo berasal dari kata iki opo, yang berarti ini apa. Kipo bisa dengan mudah ditemukan di sepanjang jalan di kawasan Kotagede. Satu bungkus biasanya berisi 5 buah kipo yang cukup mungil, harganya Rp 1.300,- saja. Cukup murah, bukan?

Kue kipo, kue khas Kotagede.

Kue kipo, kue khas Kotagede.

Kenyang dengan makan kipo, kita beranjak ke salah satu keunikan yang ada di Kotagede, yakni Between Two Gates. Di kampung Alun-alun, Purbayan, terdapat sebuah lingkungan permukiman yang terdiri dari sembilan rumah joglo. Ruang antara pendapa dan dalem rumah-rumah joglo tersebut sambung-menyambung membentuk gang. Gang ini sebenarnya adalah ruang milik pribadi, namun boleh dilewati umum. Ini merupakan salah satu bentuk kerukunan antarwarga, karena itulah orang kemudian menyebutnya dalan rukunan. Disebut demikian karena gang tersebut diapit oleh gerbang pada kedua ujungnya, maka lingkungan ini juga dikenal dengan istilah Between Two Gates (antara dua gerbang). Istilah Between Two Gates sebenarnya merupakan ungkapan baru yang dimunculkan pada tahun 1986 oleh tim peneliti arsitektur, yang kemudian menjadi populer di kalangan masyarakat.

Between Two Gates

Between Two Gates

Puas mengitari “labirin” Kotagede, kita bisa juga melihat cara pembuatan coklat di Pabrik Coklat Monggo, gratis. Kita cukup datang pada hari dan jam kerja, yakni hari Senin sampai Sabtu pada pukul 08.00-15.00. Di sini kita bisa melihat bagaimana buah coklat diolah menjadi makanan yang enak dan lezat. Jangan lupa membeli coklat untuk sanak saudara, ya!

Mbah Yatiman: Belajar Ikhlas dari “Buang Air Besar”

Foto: Vinita. Mbah Yatiman

Foto: Vinita. Mbah Yatiman

Muhammad Yatiman Syafiie (81)—biasa disapa Mbah Yatiman–pernah menjabat sebagai Ketua Cabang dan Ketua Ranting. Berawal dari niat ingin beribadah kepada Allah swt., kakek ini mengaku memiliki pengalaman yang lebih banyak memberinya suka daripada duka.

Lahir dan besar di lingkungan Muhammadiyah, Mbah Yatiman pun tak luput dari peran orang-orang di sekitarnya yang memandunya dari usia belia untuk terlibat dalam kegiatan Muhammadiyah. Kakek kelahiran 17 Juli 1932 ini berproses dari Pemuda Muhammadiyah, Pengurus Ranting Muhammadiyah, Pengurus Cabang Muhammadiyah hingga Pengawas Pendidikan di Kota Kecamatan.

Menyadari usianya tak lagi muda, Mbah Yatiman yang pernah menempuh pendidikan di Akademi Tabligh Muhammadiyah Yogyakarta ini akhirnya memutuskan untuk berhenti dari kepengurusan Muhammadiyah. Namun, karena kepercayaan yang diberikan kepadanya, saat ini beliau menjabat sebagai Penasehat Cabang Muhammadiyah.

Mbah Yatiman berpesan bahwa yang terpenting dan yang paling utama dalam Muhammadiyah adalah pendidikan keikhlasan dalam beramal. Maksudnya adalah beribadah kepada Allah swt., beramal kepada masyarakat, dan lain sebagainya harus dilandasi dengan rasa ikhlas, tidak mengharapkan pamrih, sanjungan, bahkan pujian dari masyarakat. Beliau mengibaratkan sifat ikhlas yang benar seharusnya seperti orang yang tengah buang air besar—manusia tidak perlu mengingat-ingat kebaikan yang telah ia lakukan dan ia berikan kepada orang lain, serta tidak mengharapkan balasan dari orang lain. Selain itu, kesederhanaan juga diperlukan untuk mengimbangi keikhlasan di dalam kehidupan. Falsafah yang dipegang teguh oleh Mbah Yatiman ini terdapat dalam lagu “Sang Surya”, mars Muhammadiyah. (Alin-Vinita)

Dolly [English Version]

Marlin Dwinastiti’s Short Story

“Honey, you have had too many dolls,” that’s what Mama says when Selena starts to ask a new doll.

“But, please, Mama. This is the last time I ask you.” Selena hasn’t given up yet.

“You always say like that, Honey,” says Mama again.

“I promise, Mama. This is the last time I ask you. I also promise… I’ll throw Dolly away, Mama,” replies Selena.

Selena is moping around when Mama looks at her sadly. And, once again, Mama can’t push her beloved daughter’s wish away.

“Well, okay. Mama will buy this doll, but you have to throw Dolly away,” says Mama.

Selena blinks her eyes. A big bear in a shop window is on Selena’s hands now.

* * *

The intensity of the sun’s heat burns the people of the town’s head. This afternoon, the sun acts like it will revenge for yesterday it was rain all day long. Dolly walks along the roads of Boneka Town alone. He wipes off his sweat with his green handkerchief. Getting tired, he sits in a leafy park in the center of the town. The sound of water flowing in a small stream and the birds perching on the limb can a little bit comfort Dolly who is so sad.

Boneka Town, that’s how people call this town. It is so called since all of the people in this town are dolls. It is Dolly’s new house. The trash truck brought him here this morning. She was Selena, a blue-eyed girl who threw him away to trash bin. It was her promise to Mama after she got her big bear. It was not totally her wish to throw Dolly away, but she had already promised to Mama. Selena didn’t want to disappoint Mama, so she didn’t break her promise to Mama. For Mama, Dolly was only a worn-out doll which was not suitable to be in Selena’s room any longer. Well, Mama’s opinion was true. Dolly’s appearance is really bad to see. His shirt and his trousers are patched all over. The colors are not beautiful anymore. He had been sewed by Selena in his left cheek. Selena did it since Dolly’s left cheek was biten by Blacky, Selena’s dog.

“Hi!” A girl addresses Dolly, scattering Dolly’s daydream.

Dolly looks at a blonde-hair girl standing in front of him. She smiles to him. She’s so cute.

“I’m Lily,” she says while she extends her right hand. It is full of colorful bracelets.

Dolly and Lily are shaking hands each other.

“I’m Dolly,” says Dolly.

“Nice to meet you, Dolly.”

Dolly smiles.

“May I sit here, please?”

Dolly nods his head.

“Are you a new inhabitant in this town?” asks Lily.

“Yes,” replies Dolly.

“I have stayed here so long, Dolly,” says Lily.

Dolly frowns his forehead. I didn’t ask you, right?

“Ah, I forgot to ask your permission. Would you mind if you listen to my story, Dolly? Maybe my story will a little bit comfort you.”

Dolly doesn’t shake his head, nor nod.

“In the beginning, I didn’t want to be here. I was thrown away in a trash bin by a girl. She was beautiful. She was very very beautiful. She had blue eyes. You know what? Almost all of the girl in her town wanted to have blue eyes. She was so lucky since she had it. She had white skin like her mother. If she smiled, I think that all boys would be enchanted. She was so beautiful.

“In the beginning, she was so kind, but she became annoying day after day. When she got a new doll from her mother, she always threw the old dolls away. And, finally, it was my turn. She threw me away in a smelled-trash bin in front of her house. The next morning, a trash truck came and I finally was here, the Boneka Town.

“But now, I’m happy to be here. I’m thankful since I can find this beautiful place. I feel so comfort in every place in this town. The people are friendly and they are so pleasure. Are you getting confused? You didn’t ask me about my past but I told you so? Well, you don’t have to be confused. The people did the same as what I did just now. It made me happy to be here. I hope that you’ll be happy to be here, too, and we’ll be best friends.”

Lily stops for a while. She drinks a mineral water.

“You know what? Sometimes you have to be able to accept something that you don’t want.”

“How do you know that I’m not happy to be here?”

“Oh, come on! Almost all of the people in this town had ever felt a smelled-trash bin. We were neglected dolls who didn’t like this town in the beginning. But, finally we are happy when we finally realize that our life is here, not anywhere else.”

“Why?”

“It’s so simple and easy question. We can do what we want to do. We are not briedled anymore. We are not tortured by the human being anymore. Our hair is not cut or modified. We also can wear any dress.”

“But, I really love Selena.”

“Selena?”

“Yeah, Selena. You know her?”

“Does she have blue eyes?”

“Yes. She’s so beautiful.”

“Of course I know! She was the girl throwing me away in trash bin.”

“Really?”

“Yeah,” says Lily.

“She also threw my best friends away,” says Lily again.

The cloudy suddenly comes, replacing the bright sunshine.

“I have to go home. It will rain in a minute. Bye!”

Dolly stares at Lily’s back which is disappear in a bend in the road.

“Selena? Did she throw Lily away? Just like what she did to me?

* * *

Selena is awakened at 2 a.m. She is breathing hard. Her sweat pours out. She was dreaming about Dolly. Without thinking any longer, she opens the blanket which covers her body and she goes on tiptoes. She opens the door and walks to the trash bin in front of her house.

“Dolly…Dolly…” She calls Dolly.

She is trying to look for Dolly in the trash bin. Nothing. She begins to cry.

“Dolly, please forgive me. I shouldn’t throw you away. I love you, Dolly…”

 

Dolly

Cerpen Marlin Dwinastiti

“Sayang, bonekamu sudah terlalu banyak,” begitu jawaban Mama setiap kali Selena mulai merengek meminta dibelikan boneka.

“Tapi, Ma. Satu ini saja.” Selena belum ingin menyerah.

“Selena selalu bilang seperti itu, Sayang,” ujar Mama lagi.

“Selena janji, Ma. Sekali ini saja. Selena juga janji… Selena akan membuang Dolly, Ma,” jawab Selena.

Mama melihat iba pada putrinya yang tengah merajuk. Dan, untuk kesekian kalinya, Mama tidak mampu menolak keinginan putri kesayangannya itu.

“Ya sudahlah. Mama akan belikan boneka ini, tapi Selena harus membuang Dolly,” kata Mama akhirnya.

Mata Selena mengerjap-ngerjap. Boneka beruang besar di etalase kaca sebuah toko segera pindah ke kedua tangannya yang mungil.

* * *

Terik matahari membakar ubun-ubun penduduk kota. Siang ini, matahari seolah hendak membalaskan dendamnya. Pasalnya, seharian kemarin hujan mengguyur seluruh kota. Dolly berjalan menyusuri jalanan kota Boneka sendirian. Ia tak henti-hentinya mengusap peluh yang mengalir. Lelah berjalan, ia pun duduk di taman yang cukup rindang di tengah kota. Suara gemericik air mancur dan burung-burung yang hinggap di dahan-dahan pohon sedikit menghibur hati Dolly yang sedang sedih.

Kota Boneka, begitulah orang-orang menyebut kota ini. Disebut begitu karena seluruh penduduk kota ini adalah boneka. Inilah tempat tinggal baru Dolly. Truk sampah membawanya ke sini pagi tadi. Adalah Selena, gadis cantik bermata biru yang tega membuangnya ke tong sampah. Sesuai janjinya pada Mama setelah ia mendapatkan boneka beruangnya. Bukan sepenuhnya keinginan Selena untuk membuang Dolly, tetapi ia terlanjur berjanji pada Mama. Bagi Mama, Dolly hanyalah boneka usang yang tak layak berada di kamar Selena lebih lama lagi. Penampilan Dolly sungguh tidak enak dilihat. Baju dan celananya penuh tambal di sana-sini. Warnanya pun sudah luntur. Belum lagi bekas jahitan di pipi kirinya. Jelek sekali. Selena yang menjahitnya karena pipi Dolly berlubang akibat gigitan Blacky, anjing Selena.

“Hai!” sapa seorang gadis.

Lamunan Dolly buyar. Dilihatnya seorang gadis cantik berambut pirang tengah berdiri di hadapannya. Ia tersenyum, manis sekali.

“Aku Lily,” katanya sambil mengulurkan tangan. Warna-warni gelang memenuhi tangan kanannya.

Dolly ragu-ragu menerima uluran tangan Lily.

“Aku Dolly,” kata Dolly akhirnya.

“Senang bertemu denganmu, Dolly.”

Dolly tersenyum.

“Boleh aku duduk di sini?”

Dolly mengangguk. Lily sudah berpindah tempat di sebelahnya.

“Kau penduduk baru, ya?” tanya Lily.

“Iya,” jawab Dolly.

“Aku sudah cukup lama tinggal di sini, Dolly,” kata Lily.

Dolly mengernyitkan dahi. Aku tidak bertanya, bukan?

“Ah, aku lupa meminta izin darimu. Maukah kau mendengarkan ceritaku, Dolly? Barangkali bisa sedikit menghiburmu.”

Dolly tidak menggeleng, tidak juga mengangguk.

“Awalnya, aku terpaksa tinggal di sini. Aku dibuang di tong sampah oleh seorang gadis. Gadis itu cantik. Sangat cantik. Matanya biru. Kau tahu? Mata biru adalah impian seluruh gadis di kota tempat ia tinggal. Ia sungguh beruntung karena memilikinya. Kulitnya berwarna putih bersih, sama seperti ibunya. Dagunya terbelah. Jika ia tersenyum, kurasa semua lelaki akan terpesona olehnya. Ia sungguh-sungguh cantik.

“Awalnya, ia sangat baik, namun semakin lama ia semakin menyebalkan. Setiap kali mendapatkan boneka baru dari ibunya, ia selalu membuang boneka-boneka lama yang telah usang. Habis manis sepah dibuang. Peribahasa itu mungkin cocok untuknya. Dan, pada akhirnya, tiba giliranku untuk dibuang. Aku dimasukkan ke dalam tong sampah yang bau di depan rumahnya. Pagi harinya, truk sampah datang dan membawaku ke tempat ini, kota Boneka.

“Sekarang, aku tidak terpaksa lagi tinggal di sini. Aku justru sangat bersyukur bisa menemukan tempat seindah ini. Aku merasa damai setiap berada di setiap jengkal kota ini. Penduduknya ramah dan sangat menyenangkan. Kau heran mengapa aku bercerita padamu tentang masa laluku padahal kau tidak memintanya? Tidak usah heran. Aku dulu juga diperlakukan sama seperti ini. Ini yang membuatku betah berada di sini. Kuharap kau juga akan betah di sini dan kita bisa menjadi sahabat baik.”

Lily berhenti sejenak. Ia mengambil botol air minum dari ransel yang dibawanya.

“Kau tahu? Kadang kau harus bisa menerima sesuatu yang tidak kausukai.”

“Bagaimana kau tahu aku tidak suka berada di sini?”

“Ayolah, hampir seluruh penduduk di kota ini pernah merasakan busuknya bau tong sampah. Kami adalah boneka-boneka ‘terbuang’ yang pada mulanya tidak menyukai kota ini. Tapi, kami justru merasa senang ketika pada akhirnya jalan hidup kami digariskan untuk berada di sini.”

“Mengapa?”

“Sederhana saja. Kami bisa melakukan apapun yang kami sukai. Kami tidak lagi dikekang. Kami tidak lagi disiksa gadis-gadis cantik dari kalangan manusia. Rambut kami tidak lagi dipotong ataupun dimodifikasi. Kami pun bisa sesuka hati memakai baju yang kami inginkan.”

“Tapi, aku sangat menyayangi Selena.”

“Selena?”

“Ya, Selena. Kau mengenalnya?”

“Tentu saja! Ia yang telah membuangku ke tong sampah.”

“Sungguh?”

“Iya,” kata Lily lirih.

“Selena juga yang membuang sahabat-sahabat terbaikku,” kata Lily lagi.

Langit yang cerah tiba-tiba mendung.

“Aku harus pulang. Sebentar lagi hujan. Sampai jumpa!”

Dolly menatap punggung Lily yang terus mengecil dan menghilang di tikungan jalan.

“Selena? Benarkah Selena juga membuang Lily? Sama seperti Selena membuangku?”

* * *

Pukul 02.00 Selena terbangun. Napasnya memburu. Keringatnya mengucur deras. Ia bermimpi tentang Dolly. Tanpa berpikir panjang, Selena menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dan berjinjit menuruni anak tangga. Ia membuka pintu dan segera menghampiri tong sampah di depan rumahnya.

“Dolly…Dolly…” panggilnya.

Tangannya terus mencari-cari Dolly di tong sampah. Nihil. Selena terisak.

“Dolly, maafkan Selena. Selena tidak seharusnya membuang Dolly. Selena sayang Dolly…”

Hujan Sore Ini…

Cerpen Marlin Dwinastiti

Sore ini, masih sama seperti sore-sore sebelumnya. Mahasiswa-mahasiswi memadati area parkir kampus. Sebagian hendak masuk, sebagian lagi hendak keluar. Deru suara motor ditambah obrolan khas ketika bertemu teman turut menyemarakkan sore ini. Belum lagi peluit satpam kampus yang menjerit-jerit mencoba merapikan area parkir yang sempit. Mereka yang berhasil memarkir motor segera berlari-lari kecil masuk kelas, melewati Airin yang tengah duduk sendirian. Mengabaikan wajah kusut Airin. Beberapa yang mengenalnya berhenti sejenak untuk menyapa. Dan, Airin mau tidak mau harus tersenyum—menyembunyikan kesedihan. Sial! Airin tidak cukup pandai melakukannya.

Tidak apa-apa, jawabnya setiap kali mereka bertanya.

Sore ini, masih sama seperti sore-sore sebelumnya. Sore di awal musim hujan tahun ini. Lagi-lagi langit Yogyakarta mendung. Hujan akan segera turun. Airin menghela napas. Wajahnya tertunduk. Matanya berkaca-kaca. Wajah yang selalu meneduhkannya, beberapa menit yang lalu telah mengecewakannya lagi. Dan, sekali lagi, punggungnya telah menghilang dari pandangan mata Airin. Meninggalkan Airin sendirian.

Tidak bisakah kauluangkan sedikit waktu untukku? Sekali ini saja…, keluhnya dalam hati. Keluhan yang sama selama beberapa bulan terakhir. Keluhan yang selalu membawanya pada kenangan masa lalu.

* * *

“Ya, ayo bermain scrabble!”

“Ayo! Siapa lagi? Kurang satu orang!”

“Coba ajak dia!”

Arya mengikuti arah telunjuk Rian.

“Kau bisa bermain scrabble?”

Airin yang sedang khusyuk membaca buku mendongak, memastikan pertanyaan itu untuknya. Arya menatapnya, menunggu pertanyaannya mendapat jawaban.

Sambil tersenyum, Airin menggeleng sopan. Arya membalas senyumnya dan berbalik meninggalkan Airin.

* * *

Airin, Arya, Rian.

Entah bagaimana awalnya ketiga anak muda ini bisa menjadi sahabat baik. Tiga serangkai. Kemana-mana bersama. Semuanya baik-baik saja hingga suatu ketika Arya memilih “seseorang”-nya. Kabar buruk bagi Airin dan Rian. Arya hampir tidak pernah bisa meluangkan waktunya untuk mereka lagi.

“Lihat, Arya terlalu sibuk dengan seseorang-nya, bukan?” keluh Airin.

“Tidak, Rin. Dia hanya memilih dunia barunya dan dia tidak ingin melibatkan kita di dalamnya. Boleh-boleh saja, ‘kan?” timpal Rian, mencoba membela Arya.

“Tentu saja boleh! Tapi, tentu tidak seperti ini, ‘kan? Siapa seseorang itu? Orang baru, bukan? Lantas mengapa dia dengan mudahnya meninggalkan kita?”

“Kau cemburu?” gurau Rian.

“Iya! Aku cemburu! Arya tidak bisa meluangkan waktunya untuk kita lagi,” balas Airin. Sorot matanya menajam.

Rian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menyesal. Percuma bergurau pada Airin yang sedang kesal.

* * *

“Hari ini ada waktu?”

“Ada apa?” Arya balik bertanya.

“Boleh minta waktumu sebentar? Untuk merayakan … kau pasti tahu,” jawab Airin. Matanya berbinar-binar penuh harap.

“Ulang tahunmu?”

Airin mengangguk.

“Siapa saja?” tanya Arya lagi.

“Seperti biasa. Aku, kau, Rian.”

Hening. Tujuh menit berlalu tanpa ada suara.

“Kurasa tidak,” sahut Arya akhirnya. Singkat, padat, dan sangat jelas. Meredupkan sinar mata Airin dalam sekejap.

Sore ini, masih sama seperti sore-sore sebelumnya.

* * *

Rindu? Jelas! Siapa yang tidak merindukan sahabat yang selalu ada untuknya? Siapa yang tidak merindukan perhatian-perhatian kecilnya yang berarti besar? Airin pun rindu. Ingin sekali bertemu, tertawa, menangis, bersama sahabat yang dicintainya. Seperti dulu. Saat “seseorang” itu belum “mengambil” Arya-nya.

Airin sadar, ada yang berbeda. Sebongkah perasaan yang enggan dia sebut cinta telah bercokol di hatinya. Entah sejak kapan, dia tidak tahu. Berulang kali dia mencoba menepisnya, tapi perasaan itu justru semakin kuat. Airin tak ingin menghancurkan persahabatan mereka hanya karena perasaan bodohnya itu. Terlebih, Arya telah memilih seseorang yang lain, bukan dirinya.

* * *

Angin sore memainkan kerudung biru muda yang dikenakan Airin. Dia cukup lega sekarang, tidak perlu lagi memaksa bibirnya tersenyum pada setiap orang yang dikenalnya. Tidak perlu memedulikan berpasang-pasang mata yang menatapnya bak pesakitan. Koridor kampus terlihat lengang, perkuliahan sore ini telah dimulai sejak empat puluh menit yang lalu.

Terdengar langkah kaki seseorang menaiki anak tangga. Airin hafal betul suara itu.

Untuk apa dia kesini? Kuliah? Tidak mungkin.

Airin menggigit bibirnya. Air mata telah berkumpul di pelupuk matanya. Dalam hitungan detik, kumpulan air mata itu akan tumpah membasahi pipinya. Terlambat.

“Ada apa?” tanya Rian.

Airin menggeleng.

“Arya?” tanyanya hati-hati.

Airin tidak menjawab. Rian tidak bertanya lagi. Dia membiarkan Airin menyeka air matanya yang enggan berhenti mengalir. Lima belas menit berlalu, Airin tetap tidak bersuara. Rian pun tidak berniat membujuknya untuk mengatakan apa yang terjadi. Dua tahun. Dua tahun Rian mengenal Airin. Waktu yang cukup bagi Rian untuk memahami Airin. Airin yang cerewet. Airin yang suka heboh sendiri. Airin yang berisik. Airin yang tidak cukup pandai menyembunyikan kegundahan hatinya. Airin yang begini, Airin yang begitu. Nanti, ketika Airin merasa cukup siap untuk bercerita, tak seorang pun mampu menghentikannya. Dan, tugas Rian cukup menjadi pendengar yang baik. Sesederhana itu.

“Ada tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun dan seseorang pasti memiliki setidaknya satu hari istimewa dalam hidupnya.” Sembilan menit berlalu lagi, Airin tiba-tiba bersuara.

Gerakan jemari Rian yang tengah memainkan ponsel terhenti. Ditolehnya Airin yang ada di sebelah kirinya. Yang ditoleh tidak peduli. Pandangannya tetap lurus ke depan, seolah-olah Rian ada di hadapannya.

“Jadi, mengapa orang lain suka “menjatuhkan” seseorang di hari istimewanya?” Jari telunjuk dan jari tengah di kedua tangan Airin tak lupa membentuk tanda kutip ketika menyebut kata menjatuhkan.

“Bukankah masih ada tiga ratus enam puluh empat hari yang lain untuk melakukan itu? Mengapa orang lain suka membuat seseorang sedih bahkan kecewa di hari yang dia tunggu-tunggu?” lanjutnya.

Rian masih menunggu. Menunggu Airin melontarkan pertanyaan yang sama.

“Ada apa? Mengapa semuanya kini berbeda? Apa salahku?”

Nah!

Air mata Airin mengalir lagi. Rian menatapnya prihatin. Tidak tega. Ini bukan kali pertama dia melihat Airin menangis karena Arya. Untuk kesekian kalinya, Airin menanyakan hal yang sama dan Rian tidak pernah bisa menjawab pertanyaannya.

Maafkan aku, Rin. Aku tidak memiliki jawaban dari pertanyaan-pertanyaanmu. Hanya Arya-mu yang bisa menjawabnya, kata Rian dalam hati.

* * *

Hujan sore ini.

Sore ini, masih sama seperti sore-sore sebelumnya. Hujan membasahi tanah. Aroma tanah yang basah menyeruak, memaksa masuk kamar Airin melalui ventilasi udara. Menelusup hidung kecil Airin. Wangi.

Sore ini, masih sama seperti sore-sore sebelumnya. Tangan Airin menyentuh lembut jendela kamarnya yang lembap. Dingin. Bibirnya mengulum senyum. Manis sekali, ditambah lesung pipit yang agak samar di pipi kanannya.

Hujan, kau selalu tahu kapan kau harus datang, bisiknya.

Sore ini, masih sama seperti sore-sore sebelumnya. Ditemani hujan, Airin kembali mengenang Arya. Pertemuan pertamanya dengan Arya, kebersamaannya dengan Arya, hingga Arya yang sering mengecewakannya, seperti sore ini. Tentang Arya yang begini, tentang Arya yang begitu. Segalanya tentang Arya. Tentang dia yang entah mengapa selalu bisa memaafkan Arya. Tentang dia yang entah mengapa selalu bisa memaklumi Arya. Tentang dia yang menginginkan Arya untuk menjadi lebih dari sekadar sahabatnya.

Sore ini, masih sama seperti sore-sore sebelumnya. Masih sama seperti puluhan sore yang dilaluinya bersama hujan. Sekilas, tak ada bedanya dengan sore-sore yang telah berlalu.

Namun, sore ini berbeda. Tak pernah sama dengan sore-sore yang pernah ada.

Sore ini, ketika hujan tak bosan-bosannya memukuli tanah, ketika mendung menghentikan langkah bulan dan bintang yang hendak berlabuh, ketika petir sesekali memamerkan kilatan cahaya yang dimilikinya, Airin mengambil keputusan yang berani. Keputusan yang bahkan dia sendiri tak tahu apakah dia mampu melakukannya atau tidak. Keputusan yang dia yakini akan mengubah kehidupannya esok, lusa, dan seterusnya. Keputusan yang akan menyakiti hatinya—dan membingungkan Arya. Meski demikian, tekad Airin sudah bulat. Terlalu bulat malah. Dia akan melakukannya.

Harus, tidak boleh tidak, katanya dalam hati—meyakinkan dirinya sendiri.

“Arya, kuharap jarak dan waktu berhasil mengingatkanmu tentang aku. Semoga keduanya juga bisa meyakinkanku tentang perasaan ini—akan semakin kuat, atau justru memudar.”

Suara merdu Taylor Swift mengalun lembut dari radio kesayangannya, turut mengiringi keputusannya sore ini.

“I miss your tan skin

Your sweet smile

So good to me, so right

And how you held me in your arms that September night

The first time you ever saw me cry…”

Hujan pun reda. Akhirnya.