Eiffel, Aku Datang!

Cerpen Marlin Dwinastiti

Bismillaahirrahmaanirraahiim. Ayo, Asti! Semangat!”

Aku duduk bersila di atas karpet merah hati yang telah usang. Di hadapanku, laptop 14 inch siap menemaniku menuangkan ide-ide yang berebutan minta dikeluarkan. Kedua tanganku mengepal di udara. Aku mencoba menyemangati diriku sendiri. Sejurus kemudian, jemari tanganku asyik menari di atas keyboard laptop.

Simbah[1] tengah berzikir sambil menonton acara televisi kesayangannya. Sesekali ia menggerakkan kursi goyang. Di sampingku, Bulik[2] Endang dan Dhani, anak laki-lakinya, sudah terlelap selepas Isya’. Seluruh tubuh keduanya tertutup selimut tebal kecuali wajah. Maklum, rumah Bulik Endang hanya berjarak kurang lebih 9 km dari Gunung Merapi. Malam ini, masih sama seperti malam-malam sebelumnya. Dingin.

Satu halaman, satu setengah halaman, dua halaman, tiba-tiba jemariku berhenti.

“Aduh! Ayo, Asti! Jangan berhenti! Ayo, ide! Keluar!” kataku sambil menepuk jidat berulang kali.

“Sedang apa, Ti?” tanya Bulik Endang. Matanya mengerjap-ngerjap. Ia jelas terganggu dengan suara nyaringku.

Aku menoleh.

“Ini, Bulik. Asti sedang membuat cerpen. Hadiahnya liburan ke Eropa.”

“Mimpiiiiiiiii!!!” jawab Bulik Endang.

Senyumku memudar. Respon Bulik Endang benar-benar cepat dan tidak terduga.

“Setiap orang boleh bermimpi, kan, Bulik? Kan gratis,” ujarku sembari memaksa bibirku mengulum senyum lagi.

“Boleh, tapi jangan terlalu tinggi! Nanti kecewa!”

Aku mengangguk. Malas berdebat dengan Bulik Endang. Tidak akan pernah ada habisnya jika aku meladeninya.

“Tapi, ya, terserah kamu saja, Ti. Kalau kamu bermimpi setinggi langit, ya, terserah. Kalau gagal, kan, kamu sendiri yang kecewa.”

Aku menghela napas.

Astaghfirullaahal’adziim. Astaghfirullaahal’adziim. Astaghfirullaahal’adziim.

“Kenapa diam saja, Ti?” tanya Bulik Endang.

Mmm… Maaf, Bulik. Asti sedang konsentrasi,” jawabku singkat.

“Ya sudah. Bulik sebagai pengganti orang tua kamu di sini sudah mengingatkan, ya. Besok-besok kalau kamu gagal terus kecewa jangan salahkan Bulik.”

Nggih, Bulik. Matur nuwun.[3]

Kalimat Bulik Endang membuat semangatku padam seketika. Aku menutup laptop, enggan melanjutkan. Rasa malas tiba-tiba menggelayutiku. Bulik Endang sudah memeluk anak semata wayangnya lagi.

* * *

“DHAAANIIIIIIIII!!!”

Aku yang sedang menyapu halaman nyengir. Pagi ini, masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Matahari belum juga menampakkan wujudnya tetapi Bulik Endang sudah meneriaki Dhani.

“Bawa saja televisinya ke kamar mandi!” teriaknya lagi.

* * *

Aku bisa bernapas lega sekarang. Dhani sudah berangkat ke sekolah 20 menit yang lalu. Tidak ada lagi teriakan Bulik Endang yang memekakkan telinga. Hanya aku dan Simbah di rumah. Bulik Endang segera ke sawah seusai mengantar Dhani. Ada tetangga yang memerlukan bantuannya untuk menanam padi.

Aku kembali berkutat dengan laptop.

“Pagi-pagi sudah pegang itu, Nduk[4]? Kuwi jenenge opo?[5]” tanya Simbah.

Aku mendongak.

“Laptop, Mbah. Komputer. Asti mau ikut lomba. Hadiahnya liburan ke Eropa, Mbah,” jawabku.

“Eropa ki opo, Nduk[6]?” tanya Simbah lagi.

Mmm… Eropa itu luar negeri, Mbah,” jawabku seadanya. Aku bingung bagaimana harus menjelaskannya.

Bongso walondo, Nduk[7]?”

Nggih, Mbah. Doain Asti nggih, Mbah.”

“Iya, Nduk. Mugo-mugo Gusti Allah maringi gampang.[8]

Amin. Matur nuwun, Mbah.”

* * *

Alhamdulillaah…”

“Hei, itu, kan, minumanku!” protes Rara, sahabat karibku.

“Maaf, Ra. Panas banget. Dari jauh es jerukmu melambai-lambai minta diminum.”

“Dasar! Dari mana?”

“Dari rumah. Kamu sudah lama di sini?”

“Lumayan.”

Aku mengedarkan pandangan. Siang ini, kantin kampus tampak lengang. Hanya terlihat beberapa mahasiswa yang tengah menikmati hidangan yang tersaji di hadapannya.

“Ra, coba baca cerpenku,” pintaku pada Rara.

“Mana?”

Aku menyodorkan laptop. Lima belas menit berlalu…

“Kurang, Ti.”

“Apanya yang kurang?”

“Banyak.”

Aku menghela napas. Kedua telingaku terasa panas mendengar kritiknya yang pedas.

“Cerpen ini untuk apa, Ti? Lomba lagi?” tanyanya kemudian.

“Iya, Ra. Hadiahnya liburan ke Eropa,” jawabku dengan antusias.

Huahahahaha, ke Eropa dengan menulis cerpen? Mana mungkin?”

Aku dan Rara mencari-cari sumber suara. Via berdiri tak jauh dari meja kami.

Memangnya kenapa, Vi? Ada masalah?” tanya Rara.

“Asti! Realistis sedikit dong! Sudah berapa banyak lomba cerpen yang kamu ikuti? Mulai dari yang hadiahnya hanya voucher pulsa, antologi buku, uang tunai, sampai liburan ke luar kota saja kamu tidak pernah menang! Apalagi hadiahnya liburan ke Eropa! Mimpiiiiiiiii!!!”

Aku terdiam. Rara sudah siap membalas, namun cubitanku yang mendarat di lengan kirinya membuat ia mengurungkan niatnya. Via tampak puas. Senyum sinis tersungging di bibirnya.

* * *

“Ucapan Via tadi ada benarnya, Ra,” kataku saat kami meninggalkan kantin.

“Jangan bilang kamu akan menyerah, Ti. Kamu tidak akan melakukannya, kan?”

Aku menggeleng.

“Aku tidak tahu, Ra. Kamu tahu, kan, aku sudah beberapa kali ikut lomba cerpen tetapi tak satupun menang. Jangan-jangan aku memang tidak ditakdirkan untuk menjadi penulis.”

“Ti, aku tahu kamu suka menulis. Aku tahu passion kamu di sana. Dan, aku tahu persis kamu sangat ingin ke Prancis, kan? Kamu ingin melihat Menara Eiffel. Sekarang kamu akan menyerah hanya karena ucapan Via?”

“Bukan hanya Via, Ra.”

“Siapa lagi?”

“Bulik Endang.”

Oke-oke! Dua orang itu mungkin sudah meragukan kemampuanmu, tetapi apa kamu akan membiarkan mereka tertawa senang karena kamu gagal? Kalau bulikmu, aku tidak tahu apa alasan beliau meremehkanmu. Tetapi, kalau Via yang meremehkanmu, dari dulu, kan, Via sirik karena IP kita lebih tinggi dari IP-nya.”

Rara benar. Aku tidak ingin Bulik Endang dan Via menertawakan kegagalanku. Semangatku kembali membara. Tiba-tiba aku teringat tenggat waktu yang diberikan panitia lomba. Masih dua minggu lagi. Aku masih memiliki waktu untuk memperbaikinya.

* * *

Bismillahirrahmaanirrahiim.”

Aku meng-klik tombol Send.

Ya Allah, aku sudah memaksimalkan usahaku. Kini, aku mohon bantuan-Mu, Ya Rabb. Mudahkanlah urusanku. Wujudkanlah impianku. Semoga Engkau berkenan memberiku kabar gembira satu bulan lagi. Amin.”

* * *

Berulang kali aku mengucek kedua mataku. Aku nyaris meragukan penglihatanku.

“Ra…” panggilku.

Hmmm…” Rara tidak bergeming.

“Aku tidak sedang bermimpi, kan, Ra?”

“Tentu saja tidak!” sahut Rara cepat.

“Bisa cubit pipiku?” tanyaku.

“Dengan senang hati!” katanya sambil tertawa.

“Aduh! Sakit! Sudah! Aduh! Sudah!”

“Ada apa sih, Ti?” tanyanya. Penasaran, ia mengambil alih laptopku.

Mata Rara terbelalak, dan ia seketika berteriak, “Astiiiiiiiii!!! Eiffel, Ti! Eiffel! Impianmu terwujud!”

Alhamdulillahirabbil’alamiin…”

Aku memeluk Rara dan berbisik, “Terima kasih, Ra. Terima kasih.”

* * *

Mataku berkaca-kaca. Di hadapanku kini menjulang icon kota Paris yang terkenal di seluruh dunia, Menara Eiffel. Aku meninggalkan kata-kata yang menyakitkan dan meremehkanku di sana, di kota yang berjarak ribuan kilometer jauhnya dari tempatku berdiri sekarang.

Aku merentangkan tanganku. Aku ingin berlari. Melawan angin yang berhembus kencang di Paris. Berlari sekencang-kencangnya.

“EIFFEEEEEEEEELLL, AKU DATAAAAAAAAANNNGGG!”

* * *


[1] Nenek

[2] Tante

[3] Ya, Bulik. Terima kasih.

[4] Sapaan untuk anak perempuan.

[5] Itu namanya apa?

[6] Eropa itu apa, Nak?

[7] Bangsa Belanda, Nak?

[8] Mudah-mudahan Gusti Allah memberi kemudahan.

Advertisements

Jangan Biarkan Aku Menunggu

Cerpen Marlin Dwinastiti

Kriiiiinngg…kriiiiinngg…kriiiiinngg!!!

Pagi ini, masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Tepat pukul 04.30, jam beker kotak berwarna hitam kembali menghentikan mimpi Aini. Gadis itu menggeliat. Tangannya meraba-raba meja belajar mungil di samping tempat tidurnya. Tak sampai satu menit tangannya mencari, suara jam beker yang berisik telah hilang. Kini hanya meninggalkan suara air hujan yang terus mengguyur tanah sejak semalam. Udara dingin serta-merta membuat bulu kuduk Aini berdiri begitu ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Ingin sekali rasanya ia menarik selimutnya lagi, kembali merajut mimpi ditemani hujan. Tetapi adzan Shubuh yang berkumandang segera mematahkan keinginannya.

Hoaaammmhhh…” Aini menguap lebar. Tangannya sibuk mengucek kedua matanya yang masih lengket. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya, hendak menyalakan lampu. Sial! Listrik masih padam. Tadi malam ia terpaksa tidur lebih awal karena tak ada yang bisa ia lakukan dalam kegelapan. Aini mendengus kesal.

Dddrrrttttttttt…Dddrrrttttttttt…

Tiba-tiba telepon genggam Aini bergetar dengan cukup keras di atas meja.

Siapa yang menelepon Shubuh-Shubuh begini? tanya Aini dalam hati.

Aini meraih telepon genggamnya dan seketika kedua matanya melotot.

Mas Satya?

Assalaamu’alaikum…”

Wa’alaikumsalam. Aini? Aini sudah bangun?” jawab suara di seberang.

“Ya, Mas. Ada apa telepon Aini Shubuh-Shubuh begini?” tanya Aini.

“Aini belum berubah, ya.”

“Maksudnya?”

“Iya. Jam segini Aini pasti sudah bangun.”

“Maaf, Mas. Ada perlu apa, ya, Mas Satya telepon Aini?”

“Mas Satya cuma mau tanya satu hal.”

“Apa?”

“Aini masih mencintai Mas Satya?”

Jantung Aini tiba-tiba berdegup kencang ketika mendengar pertanyaan Satya.

“Ya,” jawabnya mantap.

“Masih adakah kesempatan untuk Mas Satya?”

* * *

“Aku Satya.”

Aini menoleh. Ia tidak segera menyambut uluran tangan Satya.

“Aku Satya,” kata Satya lagi.

“Aini,” jawab Aini. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada, mengabaikan uluran tangan Satya.

Satya menarik kembali tangannya yang menggantung di udara. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Akhirnya, setelah tujuh hari Satya hanya berani mencuri-curi pandang wajah Aini yang meneduhkan, hari ini ia berani menyapanya.

Jadi, namanya Aini? kata Satya dalam hati. Senyum di bibirnya terus mengembang.

“Mas, itu bus nomor 12 sudah datang,” kata Aini.

“Eh…eh… Sa…saya tidak naik bus itu,” balas Satya.

Aini mengernyitkan dahi tidak mengerti.

Lho… Bukannya Mas selalu naik bus itu, ya?”

“Eh…eh… I…ya. Maksud saya, saya hari ini tidak naik bus nomor 12, saya ada perlu di tempat lain.”

“Oh, kalau begitu saya duluan, Mas. Mari. Assalaamu’alaikum.”

Wa…wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh.”

Aini segera bergegas naik ke bus nomor 12, bus yang akan mengantarnya ke sebuah sekolah dasar di pinggir kota.

Satya, namanya Satya… gumam Aini. Senyum merekah di bibirnya. Ia merasakan panas di kedua pipinya. Ia yakin pipinya kini tengah merah merona.

Setelah bus yang membawa Aini menghilang di tikungan jalan, Satya segera meraih Kawasaki yang diparkir tidak jauh dari halte bus. Misi hari ini selesai. Ia sudah tahu nama gadis yang mencuri perhatiannya sejak satu minggu yang lalu. Ia tidak perlu lagi mengikuti Aini seperti yang telah ia lakukan sebelumnya.

* * *

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu sejak perkenalan Aini dan Satya di halte bus. Hingga suatu hari…

“Aini, mau tidak Aini menjadi kekasih hati Mas Satya?”

Aini diam. Ia mencintai Satya, dan ia yakin Satya juga mencintainya.

“Mas Satya mencintai Aini?”

“Tentu saja, Aini. Mas Satya sangat mencintai Aini.”

“Kalau Mas Satya mencintai Aini, mengapa Mas Satya hanya menginginkan Aini menjadi kekasih hati Mas Satya?”

“Maksud Aini?”

“Mengapa Mas Satya tidak melamar Aini saja?”

Satya terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Mas, kita sudah cukup dewasa, bukan?”

Satya masih terdiam.

“Aini, Mas Satya harus pergi sekarang.”

“Mas, pembicaraan kita belum selesai, bukan?”

“Kita bisa membahasnya lain waktu.”

“Mas…”

“Aini, Mas Satya mencintaimu, tetapi…”

“Tetapi apa, Mas? Bukankah cinta tidak pernah mengenal kata ‘tetapi’?”

“Aini, tolong mengerti Mas Satya. Menikah tidak semudah yang kita bayangkan. Mas Satya harus mempersiapkan banyak hal.”

“Sampai kapan?”

“Mas Satya tidak tahu.”

Satya merogoh kunci Kawasaki di saku celananya dan segera melesat dari hadapan Aini, meninggalkan Aini yang kebingungan.

* * *

“Aini? Aini masih di sana?”

“Ya, Mas. Aini masih di sini.”

“Masihkah ada kesempatan untuk Mas Satya?”

“Aini rasa tidak, Mas.”

“…”

“Maaf, Mas. Aini belum sholat. Assalaamu’alaikum.”

Aini tergugu. Ia menyesal dengan jawabannya, tetapi ia tidak mungkin melawan takdir. Tiga tahun lamanya ia menunggu dalam ketidakpastian. Ia menunggu Satya yang tak kunjung datang menemui orang tuanya untuk melamarnya. Abah yang lelah melihat putri bungsunya terus menunggu dalam ketidakpastian akhirnya memilihkan calon untuknya. Dan, ia tak mungkin melawan Abah, orang yang sangat dicintainya. Ia tidak punya pilihan lain, ia harus melepas Satya, cinta pertamanya.

Korupsi: Mati Satu Tumbuh Seribu

Korupsi berasal dari bahasa Latin corruptio yang berarti busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), korupsi berarti penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Korupsi merupakan sebuah tindakan kejahatan yang harus segera diberantas karena telah terbukti merugikan negara. Kasus korupsi dapat dijumpai dengan mudah pada negara-negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia. Lemahnya proses hukum dan kurangnya transparansi di pihak pemerintah menjadi faktor-faktor maraknya kasus tersebut. Untuk mengatasi dan memberantas masalah korupsi, Indonesia memiliki sebuah komisi yang disebut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Komisi ini dibentuk pada tahun 2003 berdasarkan pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002 mengenai Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Tidak hanya itu, “perang” melawan korupsi pun telah digembar-gemborkan oleh masyarakat dunia dengan memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia setiap tanggal 9 Desember.

Kasus korupsi di Indonesia bak pepatah mati satu tumbuh seribu. Satu kasus korupsi telah berhasil dituntaskan oleh KPK, muncul lagi kasus yang lain. Hampir setiap hari masyarakat Indonesia dijejali dengan pemberitaan mengenai korupsi dalam berbagai media massa, baik korupsi dalam skala kecil maupun korupsi dalam skala besar. Contoh dari kasus korupsi skala kecil adalah seorang kepala sekolah yang ditahan oleh aparat penegak hukum karena diduga membocorkan jawaban UAN kepada murid-muridnya agar mereka lulus dengan nilai yang baik. Sementara itu, korupsi pengadaan Al-Qur’an dan laboratorium komputer Kementerian Agama (Kemenag) termasuk dalam kasus korupsi skala besar. Dengan kasus korupsi yang merebak bagai jamur di musim hujan ini, KPK dituntut untuk bekerja keras dalam mengusut tuntas kasus korupsi yang kerap dilakukan oleh para pejabat tinggi negara yang telah mengeruk uang negara seenaknya. Sudah sepantasnya jika KPK menjadi harapan masyarakat Indonesia yang menginginkan negaranya terbebas dari korupsi. Namun, bukan berarti masalah pencegahan dan pemberantasan korupsi menjadi tanggung jawab KPK sepenuhnya. Masyarakat juga ikut andil dalam upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi yang ada di Indonesia.

Sebelum melakukan upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi, masyarakat harus memahami betul dan mampu mengimplementasikan seluruh nilai-nilai antikorupsi yang telah dicanangkan oleh KPK ke dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai antikorupsi tersebut selanjutnya disebut 9 Nilai Antikorupsi yang meliputi tanggung jawab, disiplin, jujur, sederhana, mandiri, kerja keras, adil, berani, dan peduli. Nilai-nilai tersebut tampak mudah untuk dilakukan namun perlu konsistensi dan kerja keras untuk dapat menanamkannya ke dalam diri generasi muda Indonesia yang kini telah jauh meninggalkan nilai-nilai tersebut.

Di rumah, orang tua dapat ikut serta dalam upaya pencegahan korupsi dengan menanamkan kesembilan nilai-nilai luhur tersebut kepada anak-anak mereka dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua dapat membiasakan anak-anak untuk bersikap disiplin dalam segala hal. Sebagai contoh, disiplin dalam beribadah dan disiplin dalam belajar. Contoh lainnya adalah apabila anak meminta uang untuk membayar biaya sekolah, alangkah baiknya jika orang tua menanyakan bukti atau kuitansi setelah anak melakukan pembayaran. Jika hal ini dilakukan berkali-kali, maka nilai tanggung jawab dan kejujuran akan melekat dalam diri anak sehingga ketika esok-lusa orang tua tidak menanyakan perihal kuitansi pembayaran, anak akan tetap berlaku jujur dan bertanggung jawab terhadap kebenaran yang ia sampaikan.

Di sekolah, guru pun memiliki peran yang tak kalah penting dalam upaya pencegahan korupsi. Guru dapat menanamkan sikap berani dengan menunjuk salah satu murid untuk mengerjakan soal di papan tulis atau bercerita di depan teman-temannya. Dengan cara seperti ini, diharapkan murid-murid memiliki sifat percaya diri yang tinggi dan berani mengungkapkan pendapatnya.

Dalam kaitannya dengan upaya pemberantasan korupsi, tidak hanya KPK dan masyarakat yang memiliki peran penting di sini. Pemerintah dan aparat penegak hukum juga ikut ambil bagian untuk memberantas koruptor kelas teri maupun koruptor kelas kakap. Pemerintah, dengan kesadarannya, perlu memberikan transparansi terhadap apa-apa yang menjadi keputusannya, karena keputusan pemerintah pasti berkaitan dengan masyarakat. Transparansi ini diperlukan agar tidak ada sikap saling mencurigai antara masyarakat dan pemerintah.

Seluruh komponen negara ini harus bersatu padu dalam upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi yang marak terjadi beberapa tahun belakangan ini, dimulai dari mendidik anak-anak sejak usia dini hingga mengontrol jalannya pemerintahan Indonesia. Dengan adanya upaya-upaya ini, diharapkan Indonesia terbebas dari bahaya laten korupsi dan melalui generasi muda, kita dapat memotong mata rantai “virus” korupsi yang telah merugikan negara dan masyarakat tersebut.

Kutulis Mimpiku dan Kubiarkan Tuhan Membacanya…

Tak ada yang spesial sore ini. Seperti biasa, aku duduk di depan basecamp EDSA—Organisasi Mahasiswa yang kuikuti di kampus—dengan sebuah novel yang cukup tebal di tangan. Novel ini baru saja kubeli dan aku tak sabar ingin segera membacanya—maklum, novel baruku ini ditulis oleh salah satu penulis Indonesia yang kuidolakan. Hampir semua novel yang ditulisnya telah tersusun rapi di perpustakaan pribadiku. Ditemani semilir angin sore yang menyejukkan, aku mulai membuka halaman demi halaman dan menikmati jalan cerita yang disuguhkan ketika tiba-tiba…
“Baca novel terus! Kapan nulisnya?” tegur seorang sahabat.
“Kapan-kapan!” balasku enteng tanpa mengalihkan kedua mataku dari novel yang sedang asyik kubaca.
Bukan kali pertama ia menegurku seperti itu dan bukan kali pertama pula ia kuabaikan. Namun sore ini tampaknya ada yang benar-benar spesial. Ia pun masuk ke basecamp EDSA dan mencari sahabat-sahabatku yang lain. Mungkin bosan karena berkali-kali kuabaikan dan aku terlalu asyik dengan “duniaku”. Dari luar, aku bisa mendengarkan keluhannya dengan cukup jelas.
“Alin itu “asupan” membacanya sudah cukup, setiap hari yang dibaca novel, novel dan novel. Aku sampai bosan melihatnya. Bukan apa-apa, tapi untuk apa membaca puluhan novel tanpa pernah mencoba menulis satu cerita pendek sekalipun?”
Aku tertegun mendengar kata-katanya. Kututup novel yang sedang kubaca. Benar juga, kataku dalam hati. Selama ini untuk apa aku terus membeli dan membaca novel kemudian menyimpannya dengan rapi di rak-rak buku di kamarku?

***

Di dalam kamar kos berwarna hijau muda yang segar, aku mulai merenungi “kejadian spesial” hari ini. Kali ini aku tak bisa mengelak seperti biasanya. Teguran sore ini benar-benar menusuk hatiku. Aku tak punya alasan mengapa aku tak mencoba menulis. Ya, aku harus mulai menulis. Aku harus bisa menulis. Aku tak ingin “asupan” membacaku selama ini terbuang sia-sia. Tiba-tiba hasrat untuk menulis tumbuh begitu kuat di dalam hatiku. Aku pun menuliskan satu kata yang cukup sederhana dalam deretan panjang daftar impianku, PENULIS. Sengaja betul aku menulisnya dengan huruf kapital dan menggunakan spidol yang tebal. Aku tersenyum melihatnya.
Terima kasih, Tuhan. Engkau beri aku sahabat yang benar-benar peduli padaku. Aku tak ingin mengecewakannya. Aku akan berusaha.
Every big thing always starts from a little thing. Segala sesuatu yang besar selalu berawal dari sesuatu yang kecil. Inilah yang kujadikan prinsip dalam hidupku, termasuk ketika aku berani bermimpi menjadi seorang penulis.

***

Beruntung aku hidup di zaman yang serba modern, zaman yang segala sesuatunya bisa diakses dengan mudah dan murah karena kecanggihan teknologi yang diciptakan. Aku pun tak mau ketinggalan untuk memanfaatkan fasilitas yang ada sebagai wadah untuk menyalurkan hasrat menulisku, blog.
Aku mulai mengaktifkan blog marlindwinastiti.wordpress.com bulan Oktober 2012. Apakah cukup hanya mengaktifkan blog saja? Tentu tidak. Aku “memaksa” teman-temanku untuk mengunjungi blog-ku dan meminta mereka mengomentari tulisan-tulisanku. Sejauh ini, komentar yang kuterima cukup positif. Mereka mengatakan bahwa tulisanku cukup bagus, bahasanya mudah dicerna dan enak dibaca. Bahkan ada seorang teman yang memintaku untuk mengajari menulis. Yang benar saja, aku saja baru belajar. Tentu saja aku merasa senang mendengar komentar-komentar positif itu, tetapi aku belum puas. Aku ingin mengembangkan kemampuanku lagi, lagi dan lagi.
Cara lain yang kutempuh adalah dengan mengikuti berbagai lomba menulis. Melalui akun jejaring sosial seperti twitter dan facebook yang kumiliki, aku mencari lomba menulis yang sesuai dengan kemampuanku. Aku telah mengikuti berbagai lomba menulis maupun lomba blog namun belum pernah menjadi juara dalam satu lomba pun! Sebenarnya ada banyak alasan jika aku ingin menyerah, tapi aku enggan melakukannya. Meminjam pepatah fall seven times, stand up eight times. Gagal 7 kali, bangkit 8 kali. Itulah aku saat ini. Tak mengapa aku belum pernah memenangkan lomba menulis ataupun lomba blog, yang penting aku pernah berusaha. Toh, hasil tulisan dalam berbagai lomba yang aku ikuti itu nantinya bisa kumasukkan dalam blog dan aku akan “memaksa” teman-temanku lagi untuk mengomentarinya dengan sejujur-jujurnya—seburuk apapun itu. Aku hanya perlu menyiapkan hati dan telingaku untuk mendengarkan saran dan kritik untuk memperbaiki tulisan-tulisanku.
Impianku tidak hanya berhenti sampai pada gelar PENULIS. Ada mimpi lain yang juga ingin kukejar. Menelurkan puluhan novel yang best seller dan novel-novelku diangkat ke layar lebar. Duhai senangnya jika impian-impian itu benar-benar menjadi kenyataan. Tentu saja bukan suatu perkara yang mudah untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Sebelum menerbitkan novel, aku harus siap pergi kesana-kemari untuk mencari penerbit yang mau menerbitkan naskahku. Aku juga harus menyiapkan mental jika penerbit-penerbit yang kudatangi menolak naskahku dengan berbagai alasan. Aku memang sudah sering ditolak, termasuk ketika ditolak masuk perguruan tinggi negeri impianku, namun aku tetap manusia biasa yang bisa merasakan kekecewaan dan kesedihan ketika harapan tidak sejalan dengan kenyataan. Aku juga harus bisa menciptakan ide yang out of the box, ide yang sekiranya tidak terpikirkan oleh penulis atau calon penulis lain.
Aku percaya Allah tahu apa yang tengah kuusahakan. Mengapa aku berani bermimpi? Karena aku punya Allah yang siap membaca mimpi-mimpi yang kutulis selama aku terus berusaha, tak pernah menyerah dan menyerahkan segala sesuatu pada-Nya. Jika bukan aku yang mengusahakan mimpi-mimpiku sendiri, siapa yang hendak melakukannya?