Ramadhan, Eratkan Tali Silaturahim Kami…

13 Juli 2013

“Kepergianmu” mengajariku banyak hal. Bahwa dalam persahabatan, kita tidak harus selalu bersama, setiap waktu, setiap saat. Bahwa dalam persahabatan, kita juga harus mengenal “dunia” di luar “dunia kita”. Bahwa dalam persahabatan, “pergi” adalah cara terbaik agar sahabat yang kita miliki tidak tergantung pada kita. Tapi kau lupa mengajariku satu hal. Bahwa dalam persahabatan, sesibuk apapun kau, sesedikit apapun waktu yang kaumiliki, sediakanlah waktu untuk sahabat yang menyayangimu, sahabat yang selalu menanti kehadiranmu.

Bulan nan suci telah tiba. Ramadhan! 🙂 Alhamdulillah, Allah masih memberiku kesempatan untuk menjumpai bulan yang selalu ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia ini. Di bulan yang penuh berkah ini, seperti sebelumnya, keluarga besar EDSA mengadakan kegiatan Buka Bersama. Meski bukan merupakan kegiatan rutin, tetapi sepertinya akan menjadi kegiatan yang wajib diadakan setiap Ramadhan datang. Kegiatan yang sebelumnya diadakan di kediaman Mba Vita di Sayegan, hari ini diadakan di rumahku di Wringin Lor, Purwobinangun, Pakem, Sleman, berjarak sekitar 25 km dari kota Yogyakarta. Alhamdulillah, jarak yang lumayan jauh yang harus ditempuh selama satu jam perjalanan ditambah hujan yang membasahi tanah ternyata tidak menyurutkan semangat sahabat-sahabatku untuk kembali menyambung tali silaturahim di bulan Ramadhan. Pasukan yang datang kali ini lumayan banyak. Ada Aji, Anggi, Mas Anjar, Dina, Erlin, Mas Faisal, Iqbal, Mustangin, Muthi’, Mba Nela, Mba Novia, Rani, Mba Rini, Mas Rizal, Mas Sigit, Mba Siti, Unul, Mba Uyunk, Mba Vita, Yuli, dan Zuhri. Ada pula satu teman sekelasku yang “menyusup” dalam acara buka bersama ini, Riza. 😀 Kidding, bro! 😀

Seperti Ramadhan sebelumnya, kami menyiapkan sendiri menu untuk berbuka puasa. Dan, seperti biasanya pula, Mba Vita kembali ditunjuk sebagai Koordinator Sie Konsumsi. 😀

Mba Vita sedang memasak, dibantu Erlin.

Mba Vita dan Erlin.

Unul bersiap mengeksekusi sambal.

Unul bersiap “mengeksekusi” sambal.

"Penyusup" sedang mencoba menghancurkan minum-minuman keras alias es batu.

“Penyusup” sedang mencoba menghancurkan minum-minuman keras alias es batu.

Dina, Mba Rini, dan Mba Siti tengah berkutat dengan ayam.

Dina, Mba Rini, dan Mba Siti tengah berkutat dengan ayam.

Akhirnya, ketika adzan Maghrib telah berkumandang, hampir seluruh menu yang kami siapkan sudah matang, kecuali ikan Bawal. 😀

Menu berbuka puasa kami, sederhana namun penuh nikmat.

Menu berbuka puasa kami, sederhana namun penuh nikmat.

Ya, karena kami sampai di rumah hampir pukul 15.30, waktu yang kami miliki untuk menyiapkan seluruh menu yang kami inginkan menjadi tidak banyak. Awalnya, Ibuk ingin membantu menyiapkan menu berbuka puasa kami, akan tetapi karena beliau tidak tahu apa yang kami inginkan, beliau pun membiarkan kami “mengeksekusi” sendiri. 😀

Eksis dulu sebelum buka puasa.

Eksis dulu sebelum buka puasa.

Alhamdulillah, acara malam ini berjalan lancar. Selesai berbuka puasa, kami pun menunaikan kewajiban kami sebagai Muslim dan Muslimah, yakni sholat Maghrib. Berhubung ikan Bawal belum selesai “dieksekusi”, kami pun dugem a.k.a duduk gembira.

Dugem sebelum buka puasa.

Dugem sebelum buka puasa.

Tak lupa, aku pun di-bully gara-gara fotoku zaman TK dulu, ketika mengikuti Karnaval 17 Agustus. Bullyingisasi yang dimotori oleh Mas Faisal mengundang gelak tawa yang cetar membahana karena mereka bilang di foto itu aku terlihat “menantang orang untuk berkelahi”, padahal baju yang kukenakan baju adat Aceh lengkap dengan make up yang tebal dan rambut yang diberi hiasan. 😦 Baru tahu, ada orang yang di-bully di rumahnya sendiri. -_-

Fotoku zaman TK ketika mengikuti karnaval memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Fotoku zaman TK ketika mengikuti Karnaval memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Ketika adzan berkumandang lagi, kami segera sholat Isya’ dan sholat tarawih dipimpin oleh Mas Rizal. Selesai sholat tarawih, barulah kami menyantap makanan yang telah kami persiapkan.

Mari makaaaaaaaaannn!

Mari makaaaaaaaaannn!

Sial! Duri ikan Bawal berhenti di tenggorokan Zuhri. Alamak, kasihan sekali sahabatku yang satu ini. Mukanya memerah, matanya pun berkaca-kaca. Hingga sahabat-sahabatku berpamitan pulang, duri itu masih setia menunggui tenggorokan Zuhri. Alhamdulillah, sekitar satu jam berikutnya, Zuhri mengabariku bahwa duri itu sudah tertelan. Congratz, Zu! 🙂

Sangat menghargai orang-orang yang mampu mempertahankan persahabatan mereka selama setahun, dua tahun, tiga tahun, hingga bertahun-tahun. Menjaga persahabatan agar tetap awet tentu susah-susah gampang. Ya Allah, syukurku atas segala nikmat dan karunia yang telah Engkau berikan padaku. Kau izinkan aku memiliki sahabat-sahabat yang bersedia menyediakan waktunya untukku di tengah-tengah kesibukan mereka. Subhanallaaah. Semoga tali persaudaraan ini tak pernah terputus hingga akhir hayat kami kelak. Teruntuk sahabat-sahabat yang belum sempat datang karena beberapa halangan, semoga dilancarkan dan dimudahkan segala urusannya, semoga yang sakit segera diberi kesembuhan, semoga yang tengah dalam kesulitan segera diberi kemudahan, Aaamiiin. Aku memang pernah memiliki satu orang yang mengajariku banyak hal dengan “kepergiannya”, tapi kini aku memiliki lebih banyak orang yang mengajariku lebih banyak hal dengan kehadirannya di sampingku. Alhamdulillaaah. Ada, akan selalu ada ganti untuk yang telah pergi dan hilang—yang entah akan kembali atau tidak. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Advertisements

Soto Sampah, Rasanya Berbanding Terbalik dengan Namanya

Soto Sampah

Soto Sampah

Siapa tak mengenal soto? Salah satu kuliner khas Indonesia ini dapat dengan mudah ditemui di hampir seluruh kota di Indonesia. Sebut saja Soto Kudus, Soto Lamongan, Soto Sokaraja, Coto Makassar, dan lain sebagainya. Tentu soto-soto tersebut sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tetapi, bagaimana dengan Soto Sampah?

Dahi Anda pasti akan berkerut ketika nama makanan ini disebutkan. Ya, Soto Sampah. Sekilas tidak ada bedanya dengan soto-soto yang pernah kita jumpai sebelumnya. Ada nasi putih, tauge, mie putih dan tentu saja kuah yang menggoda. Namun, tidak ada daging ayam atau daging sapi seperti biasanya. Sebagai gantinya, lemak ayam yang menghiasi sepiring Soto Sampah ini.

Jangan salah, meski namanya terkesan aneh untuk nama sebuah makanan, soto ini memiliki rasa yang luar biasa nikmat. Cukup dengan Rp 4.000,00, Anda bisa menikmati sepiring Soto Sampah yang cocok disantap ketika dingin menyergap tubuh Anda. Anda juga bisa menikmati lauk-pauk yang tersedia, seperti tempe mendoan, telur balado, perkedel, dan lain-lain tanpa merogoh kocek yang cukup dalam. Tertarik mencoba? Datang saja ke arah utara Tugu, warung yang buka 24 jam ini terletak di seberang SPBU Kranggan.

Soto Sampah, Bad Name for Amazing Taste!

Soto Sampah

Soto Sampah

Who doesn’t know soto? This Indonesian food can be easily found in almost in the whole of Indonesia. Soto Kudus, Soto Lamongan, Soto Sokaraja, Coto Makassar, etc. are absolutely familiar for us. What about Soto Sampah?

You will have your forehead wrinkled when you hear someone tells you about Soto Sampah for the first time. Soto Sampah isn’t different from other soto we have met before at first. Rice, bean sprouts, white noodle, and sauce. But, there’s no chicken or beef as usual. Soto Sampah has fat to replace the chicken or beef.

Although the name is absolutely bad for a name of food, the taste is so amazing. Only Rp 4.000,00, you will have a plate of Soto Sampah. It will be so delicious when you eat it in the night. You can have your side dishes like tempe mendoan, telur balado, perkedel, etc. without getting worry with your wallet. D’you wanna try? You can go to Tugu, go straight to the north, and you will find SPBU Kranggan. Soto Sampah is across SPBU Kranggan. You can go there anytime since it opens 24 hours.

Eiffel, Aku Datang!

Cerpen Marlin Dwinastiti

Bismillaahirrahmaanirraahiim. Ayo, Asti! Semangat!”

Aku duduk bersila di atas karpet merah hati yang telah usang. Di hadapanku, laptop 14 inch siap menemaniku menuangkan ide-ide yang berebutan minta dikeluarkan. Kedua tanganku mengepal di udara. Aku mencoba menyemangati diriku sendiri. Sejurus kemudian, jemari tanganku asyik menari di atas keyboard laptop.

Simbah[1] tengah berzikir sambil menonton acara televisi kesayangannya. Sesekali ia menggerakkan kursi goyang. Di sampingku, Bulik[2] Endang dan Dhani, anak laki-lakinya, sudah terlelap selepas Isya’. Seluruh tubuh keduanya tertutup selimut tebal kecuali wajah. Maklum, rumah Bulik Endang hanya berjarak kurang lebih 9 km dari Gunung Merapi. Malam ini, masih sama seperti malam-malam sebelumnya. Dingin.

Satu halaman, satu setengah halaman, dua halaman, tiba-tiba jemariku berhenti.

“Aduh! Ayo, Asti! Jangan berhenti! Ayo, ide! Keluar!” kataku sambil menepuk jidat berulang kali.

“Sedang apa, Ti?” tanya Bulik Endang. Matanya mengerjap-ngerjap. Ia jelas terganggu dengan suara nyaringku.

Aku menoleh.

“Ini, Bulik. Asti sedang membuat cerpen. Hadiahnya liburan ke Eropa.”

“Mimpiiiiiiiii!!!” jawab Bulik Endang.

Senyumku memudar. Respon Bulik Endang benar-benar cepat dan tidak terduga.

“Setiap orang boleh bermimpi, kan, Bulik? Kan gratis,” ujarku sembari memaksa bibirku mengulum senyum lagi.

“Boleh, tapi jangan terlalu tinggi! Nanti kecewa!”

Aku mengangguk. Malas berdebat dengan Bulik Endang. Tidak akan pernah ada habisnya jika aku meladeninya.

“Tapi, ya, terserah kamu saja, Ti. Kalau kamu bermimpi setinggi langit, ya, terserah. Kalau gagal, kan, kamu sendiri yang kecewa.”

Aku menghela napas.

Astaghfirullaahal’adziim. Astaghfirullaahal’adziim. Astaghfirullaahal’adziim.

“Kenapa diam saja, Ti?” tanya Bulik Endang.

Mmm… Maaf, Bulik. Asti sedang konsentrasi,” jawabku singkat.

“Ya sudah. Bulik sebagai pengganti orang tua kamu di sini sudah mengingatkan, ya. Besok-besok kalau kamu gagal terus kecewa jangan salahkan Bulik.”

Nggih, Bulik. Matur nuwun.[3]

Kalimat Bulik Endang membuat semangatku padam seketika. Aku menutup laptop, enggan melanjutkan. Rasa malas tiba-tiba menggelayutiku. Bulik Endang sudah memeluk anak semata wayangnya lagi.

* * *

“DHAAANIIIIIIIII!!!”

Aku yang sedang menyapu halaman nyengir. Pagi ini, masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Matahari belum juga menampakkan wujudnya tetapi Bulik Endang sudah meneriaki Dhani.

“Bawa saja televisinya ke kamar mandi!” teriaknya lagi.

* * *

Aku bisa bernapas lega sekarang. Dhani sudah berangkat ke sekolah 20 menit yang lalu. Tidak ada lagi teriakan Bulik Endang yang memekakkan telinga. Hanya aku dan Simbah di rumah. Bulik Endang segera ke sawah seusai mengantar Dhani. Ada tetangga yang memerlukan bantuannya untuk menanam padi.

Aku kembali berkutat dengan laptop.

“Pagi-pagi sudah pegang itu, Nduk[4]? Kuwi jenenge opo?[5]” tanya Simbah.

Aku mendongak.

“Laptop, Mbah. Komputer. Asti mau ikut lomba. Hadiahnya liburan ke Eropa, Mbah,” jawabku.

“Eropa ki opo, Nduk[6]?” tanya Simbah lagi.

Mmm… Eropa itu luar negeri, Mbah,” jawabku seadanya. Aku bingung bagaimana harus menjelaskannya.

Bongso walondo, Nduk[7]?”

Nggih, Mbah. Doain Asti nggih, Mbah.”

“Iya, Nduk. Mugo-mugo Gusti Allah maringi gampang.[8]

Amin. Matur nuwun, Mbah.”

* * *

Alhamdulillaah…”

“Hei, itu, kan, minumanku!” protes Rara, sahabat karibku.

“Maaf, Ra. Panas banget. Dari jauh es jerukmu melambai-lambai minta diminum.”

“Dasar! Dari mana?”

“Dari rumah. Kamu sudah lama di sini?”

“Lumayan.”

Aku mengedarkan pandangan. Siang ini, kantin kampus tampak lengang. Hanya terlihat beberapa mahasiswa yang tengah menikmati hidangan yang tersaji di hadapannya.

“Ra, coba baca cerpenku,” pintaku pada Rara.

“Mana?”

Aku menyodorkan laptop. Lima belas menit berlalu…

“Kurang, Ti.”

“Apanya yang kurang?”

“Banyak.”

Aku menghela napas. Kedua telingaku terasa panas mendengar kritiknya yang pedas.

“Cerpen ini untuk apa, Ti? Lomba lagi?” tanyanya kemudian.

“Iya, Ra. Hadiahnya liburan ke Eropa,” jawabku dengan antusias.

Huahahahaha, ke Eropa dengan menulis cerpen? Mana mungkin?”

Aku dan Rara mencari-cari sumber suara. Via berdiri tak jauh dari meja kami.

Memangnya kenapa, Vi? Ada masalah?” tanya Rara.

“Asti! Realistis sedikit dong! Sudah berapa banyak lomba cerpen yang kamu ikuti? Mulai dari yang hadiahnya hanya voucher pulsa, antologi buku, uang tunai, sampai liburan ke luar kota saja kamu tidak pernah menang! Apalagi hadiahnya liburan ke Eropa! Mimpiiiiiiiii!!!”

Aku terdiam. Rara sudah siap membalas, namun cubitanku yang mendarat di lengan kirinya membuat ia mengurungkan niatnya. Via tampak puas. Senyum sinis tersungging di bibirnya.

* * *

“Ucapan Via tadi ada benarnya, Ra,” kataku saat kami meninggalkan kantin.

“Jangan bilang kamu akan menyerah, Ti. Kamu tidak akan melakukannya, kan?”

Aku menggeleng.

“Aku tidak tahu, Ra. Kamu tahu, kan, aku sudah beberapa kali ikut lomba cerpen tetapi tak satupun menang. Jangan-jangan aku memang tidak ditakdirkan untuk menjadi penulis.”

“Ti, aku tahu kamu suka menulis. Aku tahu passion kamu di sana. Dan, aku tahu persis kamu sangat ingin ke Prancis, kan? Kamu ingin melihat Menara Eiffel. Sekarang kamu akan menyerah hanya karena ucapan Via?”

“Bukan hanya Via, Ra.”

“Siapa lagi?”

“Bulik Endang.”

Oke-oke! Dua orang itu mungkin sudah meragukan kemampuanmu, tetapi apa kamu akan membiarkan mereka tertawa senang karena kamu gagal? Kalau bulikmu, aku tidak tahu apa alasan beliau meremehkanmu. Tetapi, kalau Via yang meremehkanmu, dari dulu, kan, Via sirik karena IP kita lebih tinggi dari IP-nya.”

Rara benar. Aku tidak ingin Bulik Endang dan Via menertawakan kegagalanku. Semangatku kembali membara. Tiba-tiba aku teringat tenggat waktu yang diberikan panitia lomba. Masih dua minggu lagi. Aku masih memiliki waktu untuk memperbaikinya.

* * *

Bismillahirrahmaanirrahiim.”

Aku meng-klik tombol Send.

Ya Allah, aku sudah memaksimalkan usahaku. Kini, aku mohon bantuan-Mu, Ya Rabb. Mudahkanlah urusanku. Wujudkanlah impianku. Semoga Engkau berkenan memberiku kabar gembira satu bulan lagi. Amin.”

* * *

Berulang kali aku mengucek kedua mataku. Aku nyaris meragukan penglihatanku.

“Ra…” panggilku.

Hmmm…” Rara tidak bergeming.

“Aku tidak sedang bermimpi, kan, Ra?”

“Tentu saja tidak!” sahut Rara cepat.

“Bisa cubit pipiku?” tanyaku.

“Dengan senang hati!” katanya sambil tertawa.

“Aduh! Sakit! Sudah! Aduh! Sudah!”

“Ada apa sih, Ti?” tanyanya. Penasaran, ia mengambil alih laptopku.

Mata Rara terbelalak, dan ia seketika berteriak, “Astiiiiiiiii!!! Eiffel, Ti! Eiffel! Impianmu terwujud!”

Alhamdulillahirabbil’alamiin…”

Aku memeluk Rara dan berbisik, “Terima kasih, Ra. Terima kasih.”

* * *

Mataku berkaca-kaca. Di hadapanku kini menjulang icon kota Paris yang terkenal di seluruh dunia, Menara Eiffel. Aku meninggalkan kata-kata yang menyakitkan dan meremehkanku di sana, di kota yang berjarak ribuan kilometer jauhnya dari tempatku berdiri sekarang.

Aku merentangkan tanganku. Aku ingin berlari. Melawan angin yang berhembus kencang di Paris. Berlari sekencang-kencangnya.

“EIFFEEEEEEEEELLL, AKU DATAAAAAAAAANNNGGG!”

* * *


[1] Nenek

[2] Tante

[3] Ya, Bulik. Terima kasih.

[4] Sapaan untuk anak perempuan.

[5] Itu namanya apa?

[6] Eropa itu apa, Nak?

[7] Bangsa Belanda, Nak?

[8] Mudah-mudahan Gusti Allah memberi kemudahan.

(Calon) Guru Pembekalan PPL Dulu…

26 Juni 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim

Dengan jilbab hitam, atasan putih, bawahan hitam, dan sepatu pantofel hitam yang masih kinclong (karena baru), aku melangkahkan kakiku dengan mantap menuju Ruang Auditorium Kampus 2 UAD yang terletak di lantai 4. Alamak! Aku sudah terlambat dan sialnya aku tidak bisa mempercepat langkahku. Sepatu yang memiliki hak sekitar 3 cm ini benar-benar menyiksaku! Jangankan berlari, untuk berjalan saja aku susah payah. Mohon maklum, aku tidak terbiasa memakai sepatu yang tinggi-tinggi. Sepatu keds saja sudah cukup untuk menemaniku kuliah. Tetapi berhubung sepatu keds-ku rusak, aku harus pasrah memakai flat shoes. 😦

Sepatu yang akan menemaniku PPL.

Sepatu yang akan menemaniku PPL.

Lupakan masalah sepatu. Aku akan belajar bagaimana cara menggunakan sepatu itu dengan baik dan benar.

Nah! Hari ini, aku dan sebagian mahasiswa FKIP lainnya mengikuti Pembekalan PPL. Mengapa aku menyebut sebagian? Karena sebagian yang lainnya akan mengikuti Pembekalan PPL besok. Dalam Pembekalan PPL, kami dibekali dengan nasihat-nasihat dan apa-apa yang harus dilakukan serta apa-apa yang tidak seharusnya dilakukan.

Aku akhirnya bertemu dengan teman-teman dari prodi lain yang juga ditempatkan di SMPN 1 Kretek. Alhamdulillah, akhirnya aku sudah benar-benar fix ditempatkan di sana. Ada Eka Ristiyani dan Fitriana Arum Sari dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ada Apsus Grumilah dan Syam Ashari dari Pendidikan Bahasa Inggris–sama denganku. Ada Muhammad Ariestoteles Yugo Utomo dan Muhammad Rian Al-Fath dari Pendidikan Biologi. Ada Lukman Prastomo dari Pendidikan Kewarganegaraan. Ada Arvi Budiarto, Bangkit Widayanti, dan Taufiq Abrari dari Pendidikan Matematika.

Tak kenal maka ta’aruf. Kami pun mulai memperkenalkan diri kami. Karena belum cukup akrab, kami pun masih canggung satu sama lain, dan kami tidak berfoto bersama. 😦 Finally aku malah foto bersama teman-teman sekelasku. 😀

Kami siap PPL!

Semester 6 telah berakhir. I’m getting older. Tak terasa, langkahku sudah sejauh ini. Aku harus bisa! Aku harus melawan rasa takut yang selalu menghantui diriku sendiri! I have to be strong! Everyone may underestimate me in teaching, but not myself! I believe in myself! Anyway, thank you for any judgements you’ve given to me. They brought me down yesterday, but not for today, tomorrow, and so on! I’ll show you that your judgements do not mean anything to me. However, thank you so much. I am STRONGER now. Yeay!!! \m/ KEEP LONG FIGHTING!!! \(^o^)/

Jangan Biarkan Aku Menunggu

Cerpen Marlin Dwinastiti

Kriiiiinngg…kriiiiinngg…kriiiiinngg!!!

Pagi ini, masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Tepat pukul 04.30, jam beker kotak berwarna hitam kembali menghentikan mimpi Aini. Gadis itu menggeliat. Tangannya meraba-raba meja belajar mungil di samping tempat tidurnya. Tak sampai satu menit tangannya mencari, suara jam beker yang berisik telah hilang. Kini hanya meninggalkan suara air hujan yang terus mengguyur tanah sejak semalam. Udara dingin serta-merta membuat bulu kuduk Aini berdiri begitu ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Ingin sekali rasanya ia menarik selimutnya lagi, kembali merajut mimpi ditemani hujan. Tetapi adzan Shubuh yang berkumandang segera mematahkan keinginannya.

Hoaaammmhhh…” Aini menguap lebar. Tangannya sibuk mengucek kedua matanya yang masih lengket. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya, hendak menyalakan lampu. Sial! Listrik masih padam. Tadi malam ia terpaksa tidur lebih awal karena tak ada yang bisa ia lakukan dalam kegelapan. Aini mendengus kesal.

Dddrrrttttttttt…Dddrrrttttttttt…

Tiba-tiba telepon genggam Aini bergetar dengan cukup keras di atas meja.

Siapa yang menelepon Shubuh-Shubuh begini? tanya Aini dalam hati.

Aini meraih telepon genggamnya dan seketika kedua matanya melotot.

Mas Satya?

Assalaamu’alaikum…”

Wa’alaikumsalam. Aini? Aini sudah bangun?” jawab suara di seberang.

“Ya, Mas. Ada apa telepon Aini Shubuh-Shubuh begini?” tanya Aini.

“Aini belum berubah, ya.”

“Maksudnya?”

“Iya. Jam segini Aini pasti sudah bangun.”

“Maaf, Mas. Ada perlu apa, ya, Mas Satya telepon Aini?”

“Mas Satya cuma mau tanya satu hal.”

“Apa?”

“Aini masih mencintai Mas Satya?”

Jantung Aini tiba-tiba berdegup kencang ketika mendengar pertanyaan Satya.

“Ya,” jawabnya mantap.

“Masih adakah kesempatan untuk Mas Satya?”

* * *

“Aku Satya.”

Aini menoleh. Ia tidak segera menyambut uluran tangan Satya.

“Aku Satya,” kata Satya lagi.

“Aini,” jawab Aini. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada, mengabaikan uluran tangan Satya.

Satya menarik kembali tangannya yang menggantung di udara. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Akhirnya, setelah tujuh hari Satya hanya berani mencuri-curi pandang wajah Aini yang meneduhkan, hari ini ia berani menyapanya.

Jadi, namanya Aini? kata Satya dalam hati. Senyum di bibirnya terus mengembang.

“Mas, itu bus nomor 12 sudah datang,” kata Aini.

“Eh…eh… Sa…saya tidak naik bus itu,” balas Satya.

Aini mengernyitkan dahi tidak mengerti.

Lho… Bukannya Mas selalu naik bus itu, ya?”

“Eh…eh… I…ya. Maksud saya, saya hari ini tidak naik bus nomor 12, saya ada perlu di tempat lain.”

“Oh, kalau begitu saya duluan, Mas. Mari. Assalaamu’alaikum.”

Wa…wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh.”

Aini segera bergegas naik ke bus nomor 12, bus yang akan mengantarnya ke sebuah sekolah dasar di pinggir kota.

Satya, namanya Satya… gumam Aini. Senyum merekah di bibirnya. Ia merasakan panas di kedua pipinya. Ia yakin pipinya kini tengah merah merona.

Setelah bus yang membawa Aini menghilang di tikungan jalan, Satya segera meraih Kawasaki yang diparkir tidak jauh dari halte bus. Misi hari ini selesai. Ia sudah tahu nama gadis yang mencuri perhatiannya sejak satu minggu yang lalu. Ia tidak perlu lagi mengikuti Aini seperti yang telah ia lakukan sebelumnya.

* * *

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu sejak perkenalan Aini dan Satya di halte bus. Hingga suatu hari…

“Aini, mau tidak Aini menjadi kekasih hati Mas Satya?”

Aini diam. Ia mencintai Satya, dan ia yakin Satya juga mencintainya.

“Mas Satya mencintai Aini?”

“Tentu saja, Aini. Mas Satya sangat mencintai Aini.”

“Kalau Mas Satya mencintai Aini, mengapa Mas Satya hanya menginginkan Aini menjadi kekasih hati Mas Satya?”

“Maksud Aini?”

“Mengapa Mas Satya tidak melamar Aini saja?”

Satya terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Mas, kita sudah cukup dewasa, bukan?”

Satya masih terdiam.

“Aini, Mas Satya harus pergi sekarang.”

“Mas, pembicaraan kita belum selesai, bukan?”

“Kita bisa membahasnya lain waktu.”

“Mas…”

“Aini, Mas Satya mencintaimu, tetapi…”

“Tetapi apa, Mas? Bukankah cinta tidak pernah mengenal kata ‘tetapi’?”

“Aini, tolong mengerti Mas Satya. Menikah tidak semudah yang kita bayangkan. Mas Satya harus mempersiapkan banyak hal.”

“Sampai kapan?”

“Mas Satya tidak tahu.”

Satya merogoh kunci Kawasaki di saku celananya dan segera melesat dari hadapan Aini, meninggalkan Aini yang kebingungan.

* * *

“Aini? Aini masih di sana?”

“Ya, Mas. Aini masih di sini.”

“Masihkah ada kesempatan untuk Mas Satya?”

“Aini rasa tidak, Mas.”

“…”

“Maaf, Mas. Aini belum sholat. Assalaamu’alaikum.”

Aini tergugu. Ia menyesal dengan jawabannya, tetapi ia tidak mungkin melawan takdir. Tiga tahun lamanya ia menunggu dalam ketidakpastian. Ia menunggu Satya yang tak kunjung datang menemui orang tuanya untuk melamarnya. Abah yang lelah melihat putri bungsunya terus menunggu dalam ketidakpastian akhirnya memilihkan calon untuknya. Dan, ia tak mungkin melawan Abah, orang yang sangat dicintainya. Ia tidak punya pilihan lain, ia harus melepas Satya, cinta pertamanya.

One Day Trip to Kotagede

Oleh: Marlin Dwinastiti

Apa yang ada di benak Anda ketika Anda mendengar kata Yogyakarta? Sebutan Kota Gudeg dan Kota Pelajar mungkin yang pertama kali Anda pikirkan. Lalu, tempat wisata apa yang akan Anda kunjungi di Yogyakarta? Kaliurang dan Candi Prambanan bisa jadi ada dalam daftar yang wajib Anda kunjungi ketika berwisata di kota ini. Tetapi, tahukah Anda bahwa Yogyakarta tidak hanya melulu tentang Kaliurang dan Candi Prambanan?

Kali ini kita akan mencoba menjelajah salah satu kawasan yang dulunya adalah kerajaan Mataram. Kotagede! Tidak perlu mengeluarkan ongkos yang cukup besar untuk menjelajahi Kotagede. Pasalnya, kita akan lebih nyaman untuk mengeksplorasi keunikan Kotagede dengan berjalan kaki. And, here we go….

Dalem Sopingen

Kita bisa mulai menjelajah Kotagede dari sini, Dalem Sopingen. Sopingen adalah rumah kediaman Raden Amatdalem Sopingi. Bersama Raden Amatdalem Mustahal, beliau menjabat sebagai kepala lurah juru kunci makam di bawah Kasultanan Yogyakarta. Raden Amatdalem Sopingi juga menyediakan rumahnya sebagai tempat singgah bagi pejabat kerajaan yang akan berziarah ke Makam Raja-raja Mataram di Kotagede. Di era 1900-1980 pendapa Sopingen pernah menjadi pusat ruang publik egaliter di Kotagede. Tokoh-tokoh kebangkitan nasional seperti HOS Cokroaminoto (Ketua Sarekat Islam), Samanhoedi (Pendiri Sarekat Islam), KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), dan Ki Hajar Dewantoro (Pemimpin Perguruan Tamansiswa) – bahkan pimpinan komunis seperti Samaun, Muso, dan Alimin – pernah berpidato di pendapa Dalem Sopingen. Dalem Sopingen terdiri dari pendapa, dalem, gandhok kiwo dan tengen, gadri pada bagian belakang, serta mushola di depan barat daya. Atap pendapa Sopingen bersusun tiga, disebut Joglo Pangrawit. Sayang, pada awal tahun 2000-an pendapa Sopingen dijual dan hanya menyisakan lantainya saja.

Tampak depan Dalem Sopingen.

Tampak depan Dalem Sopingen.

Dari Dalem Sopingen, kita lanjut ke Pasar Legi atau biasa juga disebut Pasar Kotagede.

Suasana Pasar Legi.

Suasana Pasar Legi.

Untuk Anda yang menyukai, mengoleksi atau sekadar ingin melihat-lihat berbagai macam unggas yang dijual, bisa datang ke pasar ini ketika kalender Jawa menunjukkan tanggalan legi.

Burung-burung cantik ini dijual di Pasar Kotagede setiap kalender Jawa menunjukkan tanggalan legi.

Burung-burung cantik ini dijual di Pasar Kotagede setiap kalender Jawa menunjukkan tanggalan legi.

Jika Depok memiliki Masjid Kubah Emas, maka Kotagede memiliki Masjid Perak.

Masjid Perak

Masjid Perak

Masjid yang merupakan masjid kedua setelah Masjid Gedhe ini terletak di Jalan Mandarakan, Prenggan (sekarang berada dalam kompleks SMA Muhammadiyah). Masjid ini didirikan pada tahun 1937 oleh Kyai Amir dan H. Masyhudi. Masjid Perak ditujukan untuk mewadahi pertumbuhan umat Islam yang berkembang pesat di Kotagede sejak 1910 dengan hadirnya organisasi Muhammadiyah. Penamaan Masjid Perak mempresentasikan kekuatan kerajinan perak di Kotagede saat itu, tetapi juga membawa spirit religius tertentu.

Bagian dalam Masjid Perak.

Bagian dalam Masjid Perak.

Tentu tidak afdol rasanya jika berwisata ke suatu daerah tanpa mencicipi makanan khas daerah tersebut. Sembari berwisata ke Kotagede, kita bisa mencicipi makanan khas Kotagede yang terbuat dari tepung ketan, parutan kelapa, dan gula merah. Kipo, demikian orang-orang menyebutnya. Kipo berasal dari kata iki opo, yang berarti ini apa. Kipo bisa dengan mudah ditemukan di sepanjang jalan di kawasan Kotagede. Satu bungkus biasanya berisi 5 buah kipo yang cukup mungil, harganya Rp 1.300,- saja. Cukup murah, bukan?

Kue kipo, kue khas Kotagede.

Kue kipo, kue khas Kotagede.

Kenyang dengan makan kipo, kita beranjak ke salah satu keunikan yang ada di Kotagede, yakni Between Two Gates. Di kampung Alun-alun, Purbayan, terdapat sebuah lingkungan permukiman yang terdiri dari sembilan rumah joglo. Ruang antara pendapa dan dalem rumah-rumah joglo tersebut sambung-menyambung membentuk gang. Gang ini sebenarnya adalah ruang milik pribadi, namun boleh dilewati umum. Ini merupakan salah satu bentuk kerukunan antarwarga, karena itulah orang kemudian menyebutnya dalan rukunan. Disebut demikian karena gang tersebut diapit oleh gerbang pada kedua ujungnya, maka lingkungan ini juga dikenal dengan istilah Between Two Gates (antara dua gerbang). Istilah Between Two Gates sebenarnya merupakan ungkapan baru yang dimunculkan pada tahun 1986 oleh tim peneliti arsitektur, yang kemudian menjadi populer di kalangan masyarakat.

Between Two Gates

Between Two Gates

Puas mengitari “labirin” Kotagede, kita bisa juga melihat cara pembuatan coklat di Pabrik Coklat Monggo, gratis. Kita cukup datang pada hari dan jam kerja, yakni hari Senin sampai Sabtu pada pukul 08.00-15.00. Di sini kita bisa melihat bagaimana buah coklat diolah menjadi makanan yang enak dan lezat. Jangan lupa membeli coklat untuk sanak saudara, ya!