Mandiri = Tidak Mau Mendengarkan Orang Lain?

2 April 2013

Statement malam ini sedikit menamparku. Statement yang kudengar dari “adikku” sendiri.

“Kami ingin mandiri.”

Sederhana saja kalimat yang ia lontarkan padaku malam ini. Cukup membuatku menghela napas tertahan.

Mandiri? Atau egois? Mandiri dan egois beda tipis, Sayang.

Mandiri bukan berarti tidak mau mendengarkan orang lain, bukan? tanyaku dalam hati.

Untuk apa kita bertemu di sini? Ketika apa yang keluar dari mulutku bak angin lalu untuk telingamu.

Untuk apa aku meluangkan waktuku untukmu? Ketika kau tidak merasa aku ada.

Baiklah, baiklah. Ini bukan salahmu. Bukan!

Aku cukup senang, kau memiliki kemauan yang kuat untuk mandiri. Aku pun senang, kau berusaha untuk menjadi lebih baik dariku.

Tapi, sekali lagi. Tolong dengarkan permintaan sederhanaku ini.

Jadilah kau orang yang mandiri, yang tetap mau mendengarkan orang lain, meski kau enggan untuk melakukannya.

Cukup mudah, bukan? Iya, cukup mudah untuk dibaca dalam hati, dibaca keras-keras, atau dijadikan renungan. Tetapi sayangnya, tidak cukup mudah untuk dilakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s